Arsitektur.
bagian dari ensiklopedia.online
ARS-R600037866
Adaptasi ensiklopedia kolaboratif · ringkasan berbahasa Indonesia dan teks sumber berbahasa Indonesia. Identitas dan rujukan berasal dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia, nomor ID37866. Asal dan lisensi uraian
KompleksKlaten, Jawa Tengah, IndonesiaARS-R600037866

Candi Sojiwan

Candi Sojiwan (Candi Sajiwan) adalah sebuah candi Buddhis yang terletak di desa Kebon Dalem Kidul, kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sebuah ciri khas candi ini ialah adanya sekitar 20 relief di kaki candi yang berhubungan dengan cerita-cerita Pancatantra atau Jataka dari India.

Dasar informasi:[1]
Bandingkan
Jenis objek
Kompleks
Fungsi
Keagamaan (kategori penelusuran)
Masa tercatat
Belum diringkas dari riwayat sumber
Kondisi dan status
Kondisi mutakhir belum dinilai
01

Identitas dan tapak

Candi Sojiwan dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Klaten, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.

Dasar informasi:[1]
Lingkup profil: Artikel sumber mengidentifikasi Candi Sojiwan sebagai kompleks dengan lingkup beberapa bangunan atau ruang. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan. Kompleks dihitung satu profil dan tidak ditambahkan ke hitungan bangunan individual.
Nama utama
Candi Sojiwan
Lokasi
Klaten, Jawa Tengah, Indonesia · Bangunan di Indonesia
Nama lain dalam sumber
Q1878758; ID37866
Klasifikasi sumber
keagamaan · nomor ID37866
Dasar kondisi
Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Titik lokasi: Titik rujukan Wikidata P625 untuk identitas sumber; bukan jejak bangunan. Ketelitian horizontal belum diverifikasi.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
02

Ruang dan fungsi

Profil ini membahas kompleks arsitektur. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.

Dasar informasi:[1]

Membaca arsitektur

Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.

Dasar informasi:[1]

Deskripsi fisik dalam sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembuka

Candi Sojiwan (Candi Sajiwan) adalah sebuah candi Buddhis yang terletak di desa Kebon Dalem Kidul, kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sebuah ciri khas candi ini ialah adanya sekitar 20 relief di kaki candi yang berhubungan dengan cerita-cerita Pancatantra atau Jataka dari India. Dari 20 relief ini, tinggal 19 relief yang sekarang masih ada.

Candi ini terletak kurang lebih dua kilometer ke arah selatan dari Candi Prambanan, dari gerbang Taman Wisata Candi Prambanan meyeberang jalan raya Surakarta-Yogyakarta masuk ke jalan kecil menuju ke arah selatan, menyeberang rel kereta api, lalu pada perempatan pertama berbelok ke kiri (timur) sejauh beberapa ratus meter hingga candi terlihat di sisi selatan. Candi ini telah rampung dipugar pada tahun 2011.

Penemuan kembali

Candi Sojiwan untuk pertama kalinya dilaporkan pada tahun 1813 oleh Kolonel Colin Mackenzie, seorang utusan Raffles, yang kala itu tengah mendata informasi kepurbakalaan di Jawa. Ia yang sedang meneliti peninggalan-peninggalan kuno di sekitar daerah Prambanan, menemukan sisa-sisa tembok yang mengelilingi candi ini.

Arsitektur candi

Candi ini bergaya arsitektur Jawa Tengah abad ke-9, terdiri atas tiga bagian, kaki atau dasar, tubuh candi, dan atap candi. Kompleks candi ini seluas 8.140 meter persegi, dengan bangunan utama berukuran 401,3 meter persegi dan tinggi 27 meter. Candi ini menghadap ke barat. Ditemukan arca Dwarapala yang sudah rusak yang kini tersimpan di pos penjagaan di kompleks candi ini. Pada kaki candi ini terukir relief fabel kisah satwa Jataka mengelilingi kaki candi. Tangga candi di sisi timur diapit arca makara, hanya satu yang masih utuh, satu makara lainnya sudah hilang. Pada ujung atas tangga terdapat gawang pintu gerbang berukir kala.

Tubuh candi aslinya penuh berukir sulur-sulur, akan tetapi karena banyak batu yang hilang maka batu pengganti polos yang dipasang. Ruangan bilik dalam kini kosong, hanya terdapat relung dan singgasana yang aslinya mungkin menyimpan arca Buddha atau Boddhisatwa yang kini sudah hilang. satu arca Buddha yang telah rusak dan hilang kepalanya ditemukan di candi ini dan kini tersimpan di pos penjagaan candi ini. Atap candi bersusun tiga yang bertingkat-tingkat. Pada tingkatan-tingkatan ini terdapat jajaran stupa-stupa. Bagian puncak candi dimahkotai stupa yang besar.

Relief-relief

Pada kaki candi disajikan relief adegan yang dipetik dari cerita fabel Pancatantra atau Jataka yang berada di candi Sojiwan. Jumlah relief sekitar 12 adegan. Cerita relief dibaca menuju ke selatan (mapradakṣiṇa). Kondisi beberapa relief-relief ini banyak yang sudah aus dan memprihatinkan.

Relief 1 (Dua pria yang berkelahi)

Relief ini menggambarkan dua orang pria yang sedang berkelahi satu sama lain. Pria sebelah kiri berada dalam posisi menyerang. Ia memegang sebuah pedang pada tangan kanannya yang tegak berdiri ke atas. Tangan kirinya dikepalkan dan menuding kepada figur yang berada di sebelah kanan. Kaki kirinya berdiri dan memberi kesan seakan-akan menendang.

Sedangkan figur yang duduk di sebelah kanan membelakangi figur yang satunya. Mulutnya terbuka, ia berambut keriting dan memakai sebuah kalung dan gelang. Tangan kirinya memegang sebuah payung. Posisi figur ini seolah-olah terganggu dan kontras terhadap figur yang satunya.

Ada kemungkinan cerita yang dilukiskan di sini adalah kisah "Dhawalamukha" yang dimuat dalam "Kathâsaritsâgara".

Relief 2 (Angsa dan kura-kura)

Relief ini melukiskan fabel seekor kura-kura yang dibawa terbang oleh sepasang angsa. Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini. Namun cerita yang disajikan di bawah ini agak berbeda versinya dengan lukisan di relief ini:

Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. Danau itu sangat permai, banyak tunjungnya beranekawarna, ada putih, merah dan (tunjung) biru.Ada angsa jantan betina, berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal airnya dari telaga Manasasara.Adapun nama angsa itu, si Cakrangga (nama) angsa jantan, si Cakranggi (nama) angsa betina. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga Kumudawati.

Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Si Durbudi (nama) si jantan, sedangkan si Kacapa (nama) si betina.Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. Air di danau Kumudawati semakin mengeringlah. [Kedua] angsa, si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada kawan mereka si kura-kura; si Durbudi dan si Kacapa. Katanya:

''Maka mengangalah mulut si kura-kura, lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina.Si angsa malu tidak dipatuhi nasihatnya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara.

Relief 3 (Perlombaan antara Garuda dan kura-kura)

Relief ini melukiskan cerita perlombaan antara Garuda dan kura-kura menyeberangi samudra. Akhirnya Garuda kalah karena disiasati oleh para kura-kura.

Pada relief ini kita bisa menyaksikan seekor burung Garuda dan kura-kura di belakangnya dan di antara kakinya.

Cerita lengkapnya seperti dimuat dalam kitab Tantri disajikan di bawah ini:

Alkisah adalah seekor kura-kura tua yang menjadi pemimpin sekelompok kura-kura. Ia sangat berprihatin karena setiap hari anggota kelompoknya pasti ada yang dimangsa oleh Garuda. Maka ia berpikir-pikir mencari siasat. Lalu ia berdiskusi dengan kura-kura lainnya supaya lolos dari sang Garuda.Lalu si kura-kura tua memiliki sebuah siasat. Mereka bertaruhan dengan sang Garuda. Bercepat-cepatan terbang menyeberang laut. Kalau kalah, maka semua kura-kura tetap dimakan sang Garuda. Namun jika menang, mereka akan berhenti menjadi makanan sang Garuda.

''Sahut sang Garuda: “Aduh kalian sungguh kencang. Saya mengaku kalah.” Maka sang Garuda sungguh sudah berhenti memangsa kura-kura bahkan sampai sekarang juga.

Relief 4 (Kera dan buaya)

Relief ini melukiskan cerita seekor kera yang menyiasati seekor buaya sehingga dapat menyeberangi sungai. Cerita ini merupakan cerita jataka.

Pada jataka bahasa Pali nomor 208, cerita ini disebut sebagai Śumşumāra jātaka kisahnya adalah sebagai berikut.

''Alkisah ketika sang Brahmadatta merupakan raja Benares, sang Bodhisattwa lahir sebagai raja kera dan hidup pada tepi sungai Gangga. Seekor buaya betina melihatnya dan ingin memakan jantungnya. Maka untuk menangkapnya, yang jantan ingin menyiasatinya dengan menawarkannya menyeberangi sungai Gangga di punggungnya di mana ia dapat menemukan banyak buah-buahan yang sedap. Si kera menerima tawarannya. Pada tengah sungai si buaya mengaku bahwa ia telah menipu si kera. Lalu si kera untuk menyelamatkan dirinya, bersiasat. Ia mengatakan bahwa jantungnya telah digantungkan pada sebuah pohon. Kemudian ia bisa mengambilkannya kalau si buaya mengantarkannya ke tepi sungai. Lalu sang Bodhisattwa menertawakan si buaya.

Relief 5 (Tikus dan ular)

Relief ini melukiskan cerita persahabatan antara seekor tikus dengan seekor ular. Persahabatan mereka tidaklah lestari.

Cerita ini secara rinci adalah sebagai berikut:

Alkisah adalah seekor tikus yang ditangkap oleh seorang pemburu. Tikus ini akan dipakainya sebagai makanan ular, hewan piaraannya. Maka si ular ingin memakannya tetapi si tikus meminta jangan dulu. Katanya kalau sudah memakannya si ular menjadi gemuk dan akan dimakan oleh si pemburu. Sebaiknya berteman saja dengan si tikus dan mendengarkan nasihatnya. Si tikus menyuruhnya untuk menggigit tutup keranjang di mana mereka ditaruh. Maka loloslah mereka dan setelah beberapa saat si ular lapar dan memakan si tikus.

Relief 6 (Serigala dan wanita serong)

Pada relief ini terdapatkan adegan seekor serigala, sebuah kolam dan seorang wanita. Di kolam bisa terlihat ikan dan setangkai bunga teratai. Serigala ini melihat ke arah kanan, ekor si serigala ini ditandai dengan garis-garis untuk menunjukkan bahwa ekornya berbulu. Lalu sang wanita yang duduk berjongkok di sebelah kanan melihat ke dalam air.

Kemungkinan besar yang dilukiskan pada relief ini adalah sebuah cerita jataka yang disebut sebagai Culla-Dhanuggahajātaka dan merupakan jataka nomor 374. Moral cerita ini adalah “kehilangan keberuntungan”. Kisah yang terkandung dalam jataka ini adalah sebagai berikut:

Alkisah adalah seorang petani tua yang sangat kaya. Istrinya adalah seorang wanita muda cantik. Ia tidak merasa tenang di rumah dan pada suatu hari ketika sedang berjalan-jalan, ia berjumpa dengan seorang penyamun licik. Si penyamun ini berpura-pura seolah-olah ia jatuh cinta. Sang wanita termakan siasatnya dan keesokan harinya mengambil semua harta benda suaminya dan bersama si penyamun melarikan diri. Lalu mereka berada di tepi sebuah sungai dan si penyamun berkata kepada si wanita untuk menyerahkan harta bendanya kepadanya supaya ia tidak kesusahan ketika menyeberang sungai. Bahkan bajunya diminta supaya ia tidak kebasahan kalau menyeberang sungai. Setalah itu si penyamun melarikan diri, sementara itu sang wanita yang sudah telanjang tertinggal di tepi sungai meratapi nasibnya.Tak lama kemudian ada seekor serigala yang menggondol daging di moncongnya. Serigala ini lalu melihat seekor ikan di sungai dan dagingya dijatuhkannya karena tergiur. Namun akhirnya ikannya menyelam dan dagingnya diambil oleh seekor burung pemangsa. Maka sang wanita yang melihat adegan ini menertawakannya. Si serigala yang mendengarnya mencemoohnya dan mengatakan bahwa ini adalah kasus maling teriak maling dan sang wanita ini lebih bodoh dari padanya.

Relief 7 (Raja dan putri patih)

Pada relief ini kita bisa melihat seorang wanita yang duduk bersila sementara ia memangku kepala seorang pria yang sedang bertiduran.

Relief ini oleh para pakar diidentifikasikan sebagai relief dari cerita bingkai Tantri Kâmandaka.

Relief 10 (Serigala dan banteng)

Relief ini menceritakan cerita seekor serigala yang mengikuti seekor banteng karena mengira bahwa buah zakar si banteng ini merupakan buah benaran dan menunggu sampai matang lalu jatuh dan bisa dimakan.

Relief 11 (Kinnara)

Pada relief ini terdapat lukisan kinnara, atau sejenis makhluk sorgawi. Makhluk ini biasanya dihubungkan dengan kebahagiaan berumah-tangga. Selain di Sojiwan, relief ini banyak ditemukan di candi-candi di Jawa Tengah lainnya.

03

Pihak dan peran

Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.

Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.

04

Riwayat perubahan

Riwayat dalam arsip sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Masa pembuatan

Menurut isi dari beberapa prasasti yang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta, Candi Sojiwan diperkirakan dibangun antara tahun 842 dan 850 Masehi, pada kurun yang sama dengan Candi Plaosan di dekatnya.

Prasasti Rukam berangka tahun 829 Saka (907 M) menyebutkan tentang upacara peresmian perbaikan Desa Rukam oleh Rakryan Sanjiwana Nini Haji setelah desa ini hancur akibat letusan gunung berapi. Sebagai balasannya, warga Desa Rukam diberi kewajiban menjaga dan memelihara bangunan suci di Limwung, yang kemudian dikaitkan dengan Candi Sojiwan, Tokoh pelindung dalam prasasti ini, Rakryan Sanjiwana, menurut arkeolog Richadiana Kartakusuma diduga adalah Ratu Pramodhawardhani. Candi dinamai menurut nama ratu tersebut dan dipercayai sebagai candi pedharmaannya.

Tanggal observasi fisik belum dipastikan

Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber

Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.

Dasar informasi:[1]
05

Ukuran dan sistem

Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.

Dasar informasi:[1]

Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.

06

Dokumentasi dan sumber

Edisi sumber dan hak penggunaan

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Candi Sojiwan. Revisi 28629786. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.

Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗

Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.

Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 28629786. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.

Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Candi Sojiwan sebagai kompleks dengan lingkup beberapa bangunan atau ruang. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.

Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.

Tanggal atau versi data sumber: 2025-11-26T23:09:18Z.

Catatan pembacaan sumber
  • Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
  • Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.

Dasar informasi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia · Candi Sojiwan · revisi 28629786 ↗
    Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2025-11-26T23:09:18Z
  2. Wikidata P625 · Candi Sojiwan ↗
    Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-04-30T22:58:27Z

Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.

Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.

Baca dokumentasi