Gedung Antara
Gedung Antara, yang terletak di Jalan Pos Utara No. 53 kawasan Pasar Baru, DKI Jakarta, Indonesia (sekarang bernama Jalan Antara), adalah gedung tempat berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia berkumandang ke berbagai penjuru dunia.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Fungsi mengikuti uraian sumber
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Gedung Antara dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: DKI Jakarta, Indonesia. Konteks Indonesia didukung keterangan wilayah atau kategori sumber, serta uraian arsitektur yang diperiksa; tidak menyatakan asal tradisi yang eksklusif.
- Nama utama
- Gedung Antara
- Lokasi
- DKI Jakarta, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q97225497; ID3002121
- Klasifikasi sumber
- fungsi yang dibahas sumber · nomor ID3002121
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Fungsi ruang mengikuti uraian sumber. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Gedung Antara, yang terletak di Jalan Pos Utara No. 53 kawasan Pasar Baru, DKI Jakarta, Indonesia (sekarang bernama Jalan Antara), adalah gedung tempat berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia berkumandang ke berbagai penjuru dunia.
Gedung ini pada masa era pemerintahan kolonial Belanda adalah gedung kantor berita Hindia Belanda bernama Algemeen Niews en Telegraaf Agentschaap (ANETA). Gedung Kantor Berita Antara kemudian menjadi gedung bersejarah, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Djuanda (9 April 1957-10 Juli 1959), Priyono, pada tanggal 4 April 1959.
Arsitektur Gedung
Bangunan Gedung Antara adalah gedung dengan arsitektur bernuansa kolonial, memiliki tiga lantai yang dilengkapi jam dan alat penangkal petir. Pintu bagian depan memiliki lebar dua meter, yang terbuat dari jeruji besi lengkap dengan gemboknya. Di lantai bawah gedung terdapat tangga dari beton dengan pegangan terbuat dari kayu dan besi, sedangkan anak tangga dilapisi ubin keramik berwarna coklat muda.
Di lantai dua, terdapat sebuah pintu kaca berukuran lebar dan di depannya terdapat jendela kaca lebar ukuran 50 x 100 sentimeter. Di sebelah kiri tangga terdapat ruangan yang bentuknya seperti di ruangan pertama, terdiri dari ruang pimpinan, ruang kantor, ruang belajar, mushola, dan kamar mandi. Jendelanya unik dengan jeruji di bagian luarnya. Adapun lantai tiga bentuknya sama dengan ruangan pertama dan kedua, tetapi isi ruangannya dibiarkan kosong.
Era Hindia Belanda
Awalnya, Gedung Antara adalah milik kantor berita swasta ANETA (Algemeen Niews en Telegraaf Agentschaap) milik Dominique Willem Berrety berkebangsaan Belanda, perusahaan yang bergerak di bidang pemberitaan, periklanan, dan penerbitan majalah.
Dominique Willem Beretty adalah seorang wartawan dan raja koran Hindia Belanda. Dia lahir di Yogyakarta pada 20 November 1890, dari ibu perempuan Jawa bernama Marie Salem dan ayah berkebangsaan Italia bernama Dominique Auguste Leonardus Berretty. Dominique Willem Beretty mendirikan kantor berita ANETA pada 1 April 1917 bermodalkan uang pinjaman, dengan hanya dua orang pegawai, yakni Dominique Willem sendiri dan seorang juru ketik. Kantor ANETA menempati lokasi gedung di Pasar Baru yang kini menjadi Gedung Antara. Pada tahun 1919, Dominique Willem mengakuisisi dua perusahaan penerbit koran pesaingnya, yakni Nederlandsch Indisch Pers Agentschap (NIPA) dan Reuters Batavia sehingga melakukan monopoli terhadap bisnis media pada saat itu dan mampu membuka biro perwakilan di beberapa kota utama Hindia Belanda. Dominique Willem Beretty menjadi direktur ANETA dan menjadi orang terkaya di Hindia Belanda pada saat itu.
Karier cemerlang Dominique Willem Beretty kemudian berakhir pada tahun 1931, ketika penyidik yang dibentuk oleh Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge menemukan adanya indikasi korupsi di ANETA, menyalahgunakan wewenang terhadap koran-koran Hindia Belanda, serta memonopoli pengadaan berita. Setelah itu, Dominique Willem Beretty mengasingkan diri ke Bandung, sebelum akhirnya tewas pada tahun 1934 akibat pesawatnya jatuh di gurun pasir Suriah dalam penerbangan pulang Amsterdam ke Jakarta dalam rangka ingin menjual ANETA.
Era Jepang
Ketika Jepang berkuasa pada tahun 1942, kantor berita Antara (berdiri pada 13 Desember 1937) yang menempati Buiten Tijfgerstraat (sekarang Jalan Pinangsia No. 70, Jakarta, Kota) berganti nama menjadi Yashima (yang berarti Semesta) pada 29 Mei 1944 dan menempati bekas kantor ANETA di Noord Postweg 53 Paser Baroe. Sedangkan kantor berita Jepang bernama Domei menempati lantai atas Gedung Antara.
Proklamasi Kemerdekaan
Ketika Gedung Antara bernama Domei dan Proklamasi Kemerdekaan selesai dibacakan oleh Bung Karno pada 17 Agustus 1945, Adam Malik yang menjadi Redaktur Tetap sekaligus merangkap Wakil Direktur Kantor Berita Antara, menelepon ke Kantor Domei dan diterima oleh Asa Bafagih yang diminta agar menyampaikan pesan 'jangan sampai gagal' kepada Pangulu Lubis. Oleh Pangulu Lubis, berita Proklamasi dikirim ke bagian radio dengan menyelipkannya dalam morse-cast Domei di antara berita-berita lain yang telah distempel izin Hodokan (lembaga sensor Jepang). Dua orang petugas yakni Markonis Soegiri dan Markonis Wua, mengawasi tersiarnya berita Proklamasi yang terselip di antara berita-berita lainnya dapat terlaksana, sehingga berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia kemudian dapat menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, dan dengan cepat menyebar ke Amerika Serikat, India, dan Australia.
Jenderal Yamamoto, pemimpin tentara Jepang di Indonesia, ketika itu melarang Kantor Berita Jepang, Domei, yang berlokasi di Gedung Antara, untuk tidak menyiarkan berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Perintah yang sama juga ditujukan kepada Harian Asia Raya. Namun, wartawan Kantor Berita Domei bernama Syahruddin menyerahkan teks Proklamasi untuk disiarkan stasiun Radio Domei. Kemudian kepala bagian radio bernama Waidan B Palenewan memerintahkan seorang Markonis bernama F Wuz untuk menyiarkan berita Proklamasi disiarkan sebanyak tiga kali, tetapi baru dua kali ketahuan oleh tentara Jepang. Akibat jasa mereka, berita Proklamasi bisa diteruskan ke luar negeri, bahkan wartawan S.K. Trimurti menjelaskan bahwa pada 18 Agustus 1945, sebuah kantor berita di San Francisco telah menyiarkan kemerdekaan sebuah negara baru di Asia Tenggara bernama Indonesia. Jepang kemudian menyegel kantor berita Domei pada 20 Agustus 1945.
Era Agresi Militer Belanda I
Selanjutnya, pada masa Agresi Militer Belanda I (21 Juli -5 Agustus 1947), Belanda memberikan Gedung Antara kepada Apotheek Van Gorkom (sebelum dinasionalisasi bernama PT Persatuan Dagang Pharmasi "Nurani" atau J.V. Gorkom (N.V. Pharmaciutiche Handelsvereeniging J. van Gorkom & Co).
Era Kemerdekaan
Baru pada tahun 1961, Gedung Antara kembali dipergunakan oleh Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara. Bangunan Gedung Antara pada era Kemerdekaan dipergunakan sebagai tempat Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara di mana bagian belakangnya digunakan sebagai percetakan Antara untuk keperluan internal. Gedung Antara Pasar Baru saat ini menjadi Kantor Biro Foto Antara dan Galeri Foto Jurnalistik Antara, lokasi terpopuler yang sering menjadi tempat pameran foto di Jakarta.
Galeri Foto Jurnalistik Antara menjadi galeri foto satu-satunya di kawasan Asia Tenggara. Galeri Foto Jurnalistik Antara diresmikan pada bulan Mei 2008 oleh Pemimpin Umum Kantor Berita Antara Handjojo Nitimihardjo bernama "Graha Bhakti Antara" dan selalu rutin memamerkan karya-karya pewarta foto Kantor Berita Antara, fotografer nasional dan internasional. Museum Antara, yang memamerkan berbagai alat pendukung kegiatan jurnalistik pada masa Kemerdekaan Indonesia, menempati lantai dua bangunan Gedung Antara.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Gedung Antara. Revisi 29822251. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29822251. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Gedung Antara sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-17T14:39:06Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Gedung Antara · revisi 29822251 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-17T14:39:06Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.