Istana Bung Hatta
Istana Bung Hatta atau Gedung Negara Tri Arga (pernah bernama Rumah Tamu Agung) adalah gedung bekas kediaman Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta yang terletak di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Hunian (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Istana Bung Hatta dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Istana Bung Hatta
- Lokasi
- Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q7353889; ID731871
- Klasifikasi sumber
- hunian · nomor ID731871
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: hunian. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, susunan ruang, tiang atau struktur penyangga. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Istana Bung Hatta atau Gedung Negara Tri Arga (pernah bernama Rumah Tamu Agung) adalah gedung bekas kediaman Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta yang terletak di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Bangunan yang berdiri saat ini adalah hasil renovasi pada 1961 setelah bangunan asli dibumihanguskan sewaktu Agresi II Militer Belanda pada 1948.
Saat ini, Istana Bung Hatta digunakan sebagai tempat seminar, lokakarya, pertemuan kenegaraan, serta sebagai rumah tamu negara yang berkunjung ke Bukittinggi.
Rutinitas Hatta selama Berkedudukan di Bukittinggi
Menurut kesaksian Husein Abdullah, mantan Komandan Corps Polisi Militer Bukittinggi yang juga sepupu ipar Hatta, meski telah menjadi pejabat tinggi negara, Hatta pada 1947 itu sering berjalan kaki sendirian tanpa pengawal berkeliling kota setiap selesai salat subuh, dengan membawa tongkat berujung melengkung sebagai pegangan. Dari sebuah masjid di dekat Pasar Atas, ia berjalan menyusuri jalan di depan stasiun kereta menuju Pasar Bawah, dan di sepanjang perjalanan itu ia menegur warga yang pekarangan rumahnya kotor tanpa pernah marah, sekadar memberi tahu. Kebiasaan ini disebutkan membuat kota Bukittinggi tetap bersih selama masa Hatta berkantor di sana.
Husein juga menuturkan kepada TEMPO sebuah kejadian di dekat Stasiun Pasar Bawah: seorang sais bendi yang tidak mengenali penumpangnya menghardik dengan suara keras karena tawar-menawar ongkos tidak mencapai kesepakatan, "Kalau tidak punya uang, jangan naik bendi. Jalan kaki saja" dan Wakil Presiden Mohammad Hatta yang ditegur itu hanya tersenyum sembari berlalu.
Ruang Kediaman
Selama menjabat dari gedung ini, Hatta tidur di sebuah kamar besar di bagian belakang bangunan, yang jendelanya menghadap ke arah Gunung Singgalang.
Kenangan Publik
Ketika laporan yang menjadi sumber ini disusun pada 2002, bertepatan dengan peringatan satu abad kelahiran Hatta, sejumlah spanduk putih berkibar di beberapa kantor pemerintah Kota Bukittinggi bertuliskan "Seabad Bung Hatta: Arif, Hemat, Santun, dan Sederhana", sebuah slogan yang mengacu pada kesan warga terhadap masa kepemimpinannya di kota tersebut.
Bangunan
Berdiri di atas lahan seluas 12.425 meter persegi, Istana Bung Hatta memiliki luas bangunan 3.672 meter persegi dengan denah berukuran 65 x 54 meter. Bangunannya meliputi ruang utama, ruang tamu, ruang rapat, dan delapan kamar yang luas (belakangan ada penambahan kamar menjadi 12 kamar). Sebagian bangunan bagian barat sudah dibongkar akibat adanya pembangunan Hotel Novotel.
Pada halaman depan, terdapat koridor yang disangga oleh pilar-pilar berbentuk silinder. Di dalam kompleks bangunan, terdapat dua patung Bung Hatta masing-masing terletak di bagian depan bangunan (patung separuh badan) dan di sisi samping bangunan (patung seluruh badan) yang berukuran tinggi dua meter.
Di dalam bangunan, terdapat banyak foto-foto yang menceritakan perjalanan hidup Bung Hatta, mulai dari masa kecil hingga Bung Hatta menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Riwayat dalam arsip sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Sejarah
Bangunan asli gedung ini, yang sudah berdiri sebelum kemerdekaan Indonesia, pernah menjadi tempat kedudukan Residen Padangse Bovenlanden dan Asisten Residen Agam. Riwayat pembangunannya tidak diketahui.
Setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan tersebut sempat menjadi istana sekaligus tempat kediaman Wakil Presiden Mohammad Hatta antara bulan Juni 1947 hingga Februari 1948. Di sini, Hatta mengadakan pertemuan baik dengan tamu kenegaraan maupun pemimpin setempat sambil mempelajari masalah-masalah mendesak yang dihadapi. Hatta mengundang semua orang yang menduduki jabatan pimpinan
Pada September 1947, Hatta menerima delegasi Komisi Tiga Negara (KTN) yang mengawasi gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda di gedung ini. Bersamaan dengan kunjungan KTN tersebut, sekitar 15.000 pemuda yang tergabung dalam Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) melakukan arak-arakan membawa bambu runcing dan menyampaikan hasrat ingin merdeka di depan istana.
Di gedung ini pula, Hatta pada akhir November 1947 menerima sumbangan emas dari kaum ibu-ibu Sumatera Barat seberat 14 kg yang selanjutnya digunakan untuk membeli pesawat terbang Avro Anson RI-003.partai, tentara, guru agama, dan pegawai negeri di daerah guna mendengar arahannya.
Menjelang Agresi II Militer Belanda pada 1948, gedung ini dibumihanguskan bersama sejumlah bangunan penting lainnya di Bukittinggi. Komandan militer setempat mengeluarkan perintah membumihanguskan Bukittinggi sebagai taktik perang dan mengimbau warga kota agar mengungsi keluar kota.
Pembangunan kembali
Pada tahun 1952, usaha mendirikan kembali istana ini dimulai.
Istana Bung Hatta yang berdiri saat ini dibangun pada tahun 1961, seiring pemecahan Sumatra Tengah menjadi tiga provinsi pada 1958. Gubernur Sumatera Barat pertama Kaharudin Datuk Rangkayo Basa menggagas renovasi bangunan dan menyematkan nama Gedung Negara Tri Arga. Nama ini berasal dari bahasa Jawa yang berarti tiga gunung tinggi, meruju pada tiga gunung yang mengelilingi Kota Bukittinggi: Gunung Singgalang, Gunung Marapi, dan Gunung Sago.
Pada tahun 1965, gedung ini menjadi tempat pengukuhan gelar Bundo Kandung Agung kepada istri Soekarno, Hartini. Pemberian gelar tersebut merupakan upaya Gubernur Sumatera Barat Kaharudin Datuk Rangkayo Basa meraih simpati Soekarno setelah peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
Namanya diganti dari Gedung Negara Tri Arga menjadi Istana Bung Hatta oleh Gubernur Hasan Basri Nurin bertepatan dengan HUT ke-93 lahirnya Mohammad Hatta pada tahun 1995.
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Istana Bung Hatta. Revisi 29836375. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29836375. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Istana Bung Hatta sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-17T18:06:47Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Istana Bung Hatta · revisi 29836375 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-17T18:06:47Z
- Wikidata P625 · Istana Bung Hatta ↗Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-04-25T17:06:37Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.