Kelenteng Gie Yong Bio
Kelenteng Gie Yong Bio merupakan salah satu tempat peribadatan umat Tridharma yang berlokasi di Kota Lasem, Rembang. Sebagai kota awal pendaratan masyarakat Tionghoa di tanah Jawa, Lasem juga memiliki dua bangunan kelenteng yang lain, yaitu Poo An Bio dan Cu An Kiong.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Keagamaan (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Kelenteng Gie Yong Bio dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Lasem, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Kelenteng Gie Yong Bio
- Lokasi
- Lasem, Jawa Tengah, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q20426495; ID1605360
- Klasifikasi sumber
- keagamaan · nomor ID1605360
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Kelenteng Gie Yong Bio merupakan salah satu tempat peribadatan umat Tridharma yang berlokasi di Kota Lasem, Rembang. Sebagai kota awal pendaratan masyarakat Tionghoa di tanah Jawa, Lasem juga memiliki dua bangunan kelenteng yang lain, yaitu Poo An Bio dan Cu An Kiong. Klenteng ini memiliki keistimewaan karena dibangun untuk menghormati tiga pahlawan Lasem, yaitu Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat, dan Raden Panji Margono, sehingga klenteng Gie Yong Bio dianggap sebagai satu-satunya klenteng di Indonesia yang memiliki Kongco pribumi. Penghormatan Raden Panji Margono sebagai dewa oleh komunitas Tionghoa di Lasem dapat disebut unik di seluruh Indonesia, selain menjadi bukti persahabatan leluhur kedua komunitas.
Selain Gie Yong Bio, masih terdapat beberapa kelenteng lain yang memuja pahlawan budaya beretnis non-Tionghoa, meskipun tidak dipuja sebagai Kongco. Misalnya, Klenteng Tridharma Weleri yang memiliki rupang Baron Skeder dan Sin Tek Bio yang memiliki altar untuk Raden Mas Imam Sudjono.
Arsitektur dan tata ruang
Kelenteng Gie Yong Bio memperlihatkan karakter arsitektur kelenteng Tiongkok selatan yang telah mengalami adaptasi dengan kondisi geografis dan budaya pesisir utara Jawa. Pola denah bangunan bersifat linear memanjang ke arah dalam, mengikuti prinsip kosmologi Tionghoa yang memandang ruang sebagai representasi perjalanan spiritual dari dunia profan menuju ruang sakral.
Struktur bangunan utama berdiri di atas lantai tunggal dan disusun secara simetris, dengan halaman depan sebagai ruang transisi antara lingkungan luar dan ruang ibadah. Konsep ini sejalan dengan prinsip feng shui yang menekankan keseimbangan antara manusia, bangunan, dan alam sekitarnya. Arah hadap bangunan serta susunan pintu dan altar disesuaikan dengan kepercayaan kosmologis Tridharma yang berkembang di kalangan masyarakat Tionghoa peranakan Jawa.
Material bangunan didominasi oleh kayu jati lokal yang dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap iklim tropis, dipadukan dengan penggunaan bata merah khas Lasem. Kombinasi ini menunjukkan proses akulturasi antara teknik bangunan Tionghoa dan tradisi konstruksi Jawa pesisir yang telah berkembang sejak abad ke-18.
Ornamen bangunan menampilkan simbol-simbol kosmologis Tridharma seperti naga, awan, flora mitologis, serta kaligrafi Tionghoa yang memuat doa dan harapan akan keselamatan serta kesejahteraan. Warna merah, emas, dan hijau mendominasi interior maupun eksterior bangunan, yang masing-masing melambangkan keberuntungan, kemuliaan, dan harmoni dalam kosmologi Tionghoa.
Tata letak altar di dalam kelenteng menunjukkan hierarki penghormatan yang jelas. Altar Tan Oei Ji Sian Seng ditempatkan di ruang utama sebagai pusat ritual, sedangkan altar Raden Panji Margono diletakkan secara terpisah. Penempatan ini mencerminkan penghormatan khusus terhadap tokoh pribumi yang didewakan tanpa menghilangkan struktur kosmologi kelenteng Tridharma secara umum.
Kongco pribumi dalam perspektif keagamaan
Keberadaan kongco pribumi di Kelenteng Gie Yong Bio merupakan fenomena yang relatif jarang dijumpai dalam tradisi kelenteng di Indonesia. Raden Panji Margono diposisikan sebagai figur yang dihormati dalam sistem kepercayaan Tridharma, meskipun berasal dari latar belakang etnis dan budaya Jawa.
Dalam perspektif religius, penghormatan terhadap Raden Panji Margono tidak dimaknai sebagai penghapusan identitas asalnya, melainkan sebagai bentuk pengakuan atas jasa, keberanian, dan nilai moral yang dianggap sejalan dengan prinsip kebajikan universal. Fenomena ini menunjukkan fleksibilitas tradisi keagamaan Tionghoa dalam mengakomodasi tokoh lokal ke dalam kosmologi religiusnya.
Penghormatan tersebut juga mencerminkan hubungan historis yang erat antara komunitas Tionghoa dan Jawa di Lasem, terutama dalam konteks perlawanan bersama terhadap kolonialisme Belanda pada abad ke-18. Dalam hal ini, kelenteng berfungsi tidak hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai medium pemeliharaan ingatan kolektif lintas etnis.
Fungsi sosial dan budaya
Selain berfungsi sebagai tempat peribadatan umat Tridharma, Kelenteng Gie Yong Bio memiliki peran penting sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya masyarakat Tionghoa Lasem. Kelenteng ini menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai ritual tahunan seperti Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, serta upacara penghormatan arwah leluhur yang melibatkan partisipasi komunitas secara luas.
Dalam konteks sosial, kelenteng berfungsi sebagai ruang interaksi antargenerasi, di mana nilai-nilai sejarah, tradisi, dan identitas komunitas diwariskan. Kegiatan keagamaan sering kali disertai dengan aktivitas sosial yang memperkuat solidaritas internal serta hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar.
Keberadaan Gie Yong Bio juga memperkuat posisi Lasem sebagai kota multikultural di pesisir utara Jawa. Dalam berbagai kajian sejarah dan antropologi, kelenteng ini dipandang sebagai simbol integrasi budaya Jawa–Tionghoa yang berlangsung secara damai dan berkelanjutan sejak abad ke-18.
Peran dalam historiografi Lasem
Dalam historiografi lokal, Kelenteng Gie Yong Bio sering disebut sebagai salah satu penanda penting sejarah perlawanan masyarakat Lasem terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Narasi mengenai Tan Kee Wie, Oei Ing Kiat, dan Raden Panji Margono muncul dalam berbagai sumber, baik berupa babad, catatan lokal, maupun kajian akademik modern.
Keberadaan kelenteng ini membantu melestarikan ingatan historis tentang Perang Kuning dan Geger Pacinan, yang dalam banyak sumber digambarkan sebagai momen penting kerja sama antara komunitas Tionghoa dan Jawa. Dengan demikian, Gie Yong Bio tidak hanya berfungsi sebagai situs religius, tetapi juga sebagai monumen sejarah alternatif yang melengkapi narasi resmi kolonial.
Status pelestarian
Kelenteng Gie Yong Bio merupakan bagian dari kawasan kota tua Lasem yang memiliki nilai penting dari segi sejarah, budaya, dan arsitektur. Upaya pelestarian bangunan dan tradisi ritual dilakukan secara swadaya oleh pengurus kelenteng dan masyarakat setempat, terutama dalam menjaga keaslian bentuk bangunan serta kesinambungan praktik keagamaan.
Dalam perkembangan mutakhir, kelenteng ini menjadi objek kajian akademik lintas disiplin serta tujuan wisata sejarah berbasis warisan budaya. Peningkatan perhatian terhadap Lasem sebagai kota multikultural turut mendorong kesadaran akan pentingnya pelestarian Kelenteng Gie Yong Bio sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Riwayat dalam arsip sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Sejarah
Terdapat tiga versi alasan pembangunan Kelenteng Gie Yong Bio. Versi pertama adalah untuk penghormatan dua pahlawan terkenal dari Dinasti Ming (1368-1644), yaitu Chen Sikian dan Huang Daozhou. Marga Tan merupakan bahasa Hokkien untuk Chen (hanzi), sementara Oei adalah bahasa Hokkien untuk Huang.
Menurut versi kedua, kelenteng Gie Yong Bio dibangun untuk menghormati kegagahberanian dua orang leluhur etnis Tionghoa di Lasem, yaitu Tan dan Oei. Keduanya merupakan dua orang Tionghoa pertama yang mendarat di Lasem dari Fujian. Menurut versi ketiga, yang paling populer, kelenteng ini dibangun untuk menghormati tiga pahlawan Lasem yang menghadapi VOC pada tahun 1741-1750, yaitu Tan Kee Wie, Oei Ing Kiat, dan Raden Panji Margono.
Dua versi sebelumnya bisa jadi diangkat untuk menutupi alasan sebenarnya pembangunan Kelenteng Gie Yong Bio, karena kelenteng ini dibangun pada tahun 1780, saat Belanda masih menguasai Indonesia. Belanda dapat dipastikan tidak akan membiarkan pembangunan Kelenteng Gie Yong Bio jika mengetahui alasan pembangunan yang sebenarnya, karena dikhawatirkan dapat membangkitkan kembali semangat perlawanan penduduk Lasem.
Latar belakang pembangunan
Pada tahun 1740, masyarakat Tionghoa di Batavia melakukan pemberontakan melawan pemerintahan Belanda. Pemberontakan etnis tersebut memengaruhi hampir seluruh Pulau Jawa, meskipun akhirnya berhasil ditekan oleh VOC. Kota Lasem sendiri menjadi basis terakhir pemberontakan. Pada peristiwa itu, etnis Jawa dan Tionghoa bekerja sama.
Raden Panji Margono, putra Tejakusuma V yang menjabat sebagai Adipati Lasem (1714-1727), mengikat tali persaudaraan dengan Mayor Oei Ing Kiat, yang menjabat sebagai Adipati Lasem menggantikan ayahnya dengan gelar Tumenggung Widyaningrat. Keduanya juga mengangkat sumpah persaudaraan dengan Tan Kee Wie, seorang pengusaha serta ahli kungfu di Lasem..
Pada saat terjadi pengungsian besar-besaran etnis Tionghoa dari Batavia pada tahun 1741, ketiganya sepakat untuk mengangkat senjata memberontak terhadap VOC. Mereka bergabung dengan para pejuang Tionghoa lain yang berkumpul di Tanjung Welahan serta mendapat bantuan pasukan pribumi atas restu Pakubuwana II. Pertempuran merambat dari Juwana hingga Rembang dan akhirnya sampai ke Semarang. Meskipun pada awalnya berhasil menguasai sebagian wilayah Semarang, pasukan gabungan Jawa-Tionghoa terdesak mundur setelah pasukan VOC di Semarang memperoleh bala bantuan. Karena kekalahan tersebut, Pakubuwana II mengalihkan dukungannya kepada VOC sehingga menyebabkan istananya di Kartasura diserang dan dikuasai oleh pasukan pemberontak.
Pada tahun 1742, pasukan yang dipimpin ketiganya kembali menyerang Rembang dan Juwana. Setelah kemenangan di Rembang, pasukan VOC yang sudah mengadakan persiapan berhasil mengalahkan mereka di Juwana. Bahkan pada tanggal 5 November 1742, saat melewati selat antara Ujung Watu dan Pulau Mandalika, armada kapal Tan Kee Wie ditembaki oleh meriam sehingga membuatnya gugur bersama pasukan yang ia pimpin. Sisa pasukan melarikan diri kembali ke Lasem setelah datang bala bantuan VOC dari Tuban.
Pada tahun 1750, Raden Panji Margono, Mayor Oei Ing Kiat, dan Kyai Ali Badawi kembali mengobarkan peperangan dengan Belanda. Namun, pertempuran kali ini juga berhasil dimenangkan oleh Belanda. Panji Margono gugur di Karangpace Narukan sementara Oei Ing Kiat gugur di Layur, Lasem-Utara. Untuk menghargai jasa-jasa kepahlawanan Tan Kee Wie, Panji Margono, dan Oei Ing Kiat, masyarakat Tionghoa di Lasem membangun klenteng Gie Yong Bio sebagai monumen peringatan. Ketiganya dihormati sebagai Kongco dan dibuat rupangnya untuk diletakkan di atas altar. Rupang Oey Ing Kiat dan Tan Kee Wie diletakkan berdampingan dan disebut dengan nama Tan Oei Ji Sian Seng (menurut dialek Hokkien), sementara rupang Raden Panji Margono diletakkan pada altar khusus yang terpisah.
Pemindahan dan pemugaran
Tanggal pembangunan Klenteng Gie Yong Bio sudah tidak diketahui lagi. Menurut para sesepuh warga Tionghoa, lokasi klenteng pada awalnya berada di jalan raya, selanjutnya dipindah ke lokasi yang sekarang di Jalan Babagan. Kelenteng ini dipugar pada tahun 1915.
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Kelenteng Gie Yong Bio. Revisi 29747967. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29747967. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Kelenteng Gie Yong Bio sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-12T12:34:58Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Kelenteng Gie Yong Bio · revisi 29747967 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-12T12:34:58Z
- Wikidata P625 · Kelenteng Gie Yong Bio ↗Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-12T12:36:37Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.