Masjid Asasi Padang Panjang
Masjid Asasi (awalnya bernama Surau Gadang) terletak di Kelurahan Sigando, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Masjid ini diperkirakan berdiri sejak abad ke-17 dan tercatat sebagai masjid tertua di Padangpanjang.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Keagamaan (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Masjid Asasi Padang Panjang dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Sigando, Sumatera Barat, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Masjid Asasi Padang Panjang
- Lokasi
- Sigando, Sumatera Barat, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q56399239; ID2629228
- Klasifikasi sumber
- keagamaan · nomor ID2629228
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Masjid Asasi (awalnya bernama Surau Gadang) terletak di Kelurahan Sigando, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Masjid ini diperkirakan berdiri sejak abad ke-17 dan tercatat sebagai masjid tertua di Padangpanjang. Arsitekturnya mengikuti bentuk masjid tradisional Minangkabau.
Sejak didirikan, konstruksi masjid tidak mengalami kerusakan berarti, walaupun dilanda gempa besar pada 1926 dan 2009. Pemugaran yang dilakukan berupa penggantian atap ijuk dan dinding tidak mengubah keaslian bentuk masjid. Pemerintah Indonesia telah menetapkannya sebagai benda cagar budaya di bawah Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.
Saat ini, Masjid Asasi menjadi salah satu daya tarik wisata di Padangpanjang.
Nama
Masjid Asasi semula dikenal dengan Surau Gadang. Penamaan Asasi sendiri baru muncul setelah tahun 1950. Asasi berasal dari kata "asas" dalam bahasa Arab yang berarti dasar atau sesuatu yang jadi tumpuan.
Konstruksi
Secara umum, komponen bahan bangunan masjid terbuat dari kayu, mulai dari dinding, lantai, dan tiang penyangga.
Ruang utama ditopang oleh delapan tiang penyangga dan sebuah tonggak macu di tengah. Tonggak macu berukuran lebih besar dari tiang-tiang lainnya dengan diameter 1,5 m dan tinggi 15 meter, berbahan kayu dilapisi beton.
Dinding bangunan dipenuhi dengan ragam hias motif flora, ukiran khas tradisional Minangkabau. Terdapat jendela kaca berdaun dua pada dinding sisi utara dan selatan, masing-masing berjumlah empat. Jendela serupa terdapat pula di bagian mihrab, masing-masing satu di sisi utara dan selatan mihrab.
Atap masjid terbuat dari seng, berundak-undak sebanyak tiga tingkat. Berbentuk limas, permukaan atap dibuat cekung, cocok untuk daerah beriklim tropis karena dapat lebih cepat mengalirkan air hujan. Adapun atap mihrab berbentuk gonjong, terpisah dari atap ruang utama.
Ruangan
Masjid Asasi berdiri di atas tanah berukuran 25 x 22 m. Ruang utama yang merupakan ruang salat memiliki denah dasar berukuran 13,1 m x 13,1 m. Letaknya ditinggikan sekitar satu meter dari permukaan tanah, membentuk kolong. Mihrab dibuat menjorok pada sisi barat, berdenah 2,2 m x 4,6 m. Terdapat serambi pada sisi timur berupa ruangan tertutup berukuran 5 m x 4,4 m tanpa jendela. Tangga masuk masjid berada pada sisi kiri dan kanan serambi berupa coran semen.
Ruangan serambi difungsikan sebagai ruangan pengurus masjid dan disekat dari ruang utama. Di ruang belakang, terdapat sekumpulan benda kuno, berupa brankas peninggalan Belanda dan beberapa lembar tafsir Alquran beraksara Arab-Melayu.
Pada bagian mihrab, terdapat mimbar yang terbuat dari kayu papan.
Bangunan lain
Masjid dikelilingi pagar besi di bagian selatan dan pagar tembok di bagian barat dan utara. Untuk memasuki area masjid, terdapat pintu gerbang di sebelah selatan.
Terpisah dari bangunan induk, terdapat bangunan panggung di sebelah utara seperti tempat penyimpanan padi. Bangunan ini digunakan untuk tempat bedug yang terbuat dari kayu kelapa.
Tempat wudhu berada di luar pagar, di bawah bangunan rumah garin masjid. Sumber air berasal dari mata air di sekitar masjid yang oleh masyarakat disebut "bulaan". Pintu masuknya berada di sebelah barat, melalui tangga menurun.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Riwayat dalam arsip sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Sejarah
Cikal bakal Masjid Asasi berawal dari surau kaum Datuk Kayo Suku Koto Nan Baranam yang berdiri sejak abad ke-17. Bangunannya terbuat dari kayu dengan atap terbuat dari ijuk. Dalam perjalanannya, surau tersebut menjadi pusat ibadah penduduk Nagari Ampek Koto, yakni Nagari Gunung, Paninjauan, Tambangan, dan Jaho sehingga dijuluki sebagai Surau Gadang.
Catatan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Ganuang menyebutkan, pembangunan Surau Gadang pendahulu Masjid Asasi dilakukan sekitar tahun 1770. Tukang-tukangnya didatangkan dari Nagari Pandai Sikek yang dikenal ahli dalam bertukang kayu dan seni ukir. Pembangunan diperkirakan selesai pada tahun 1775. Pada 1912, atap surau yang terbuat dari ijuk diganti dengan menggunakan seng. Selanjutnya, dinding-dinding yang sudah lapuk diperbarui pada 1956.
Salah seorang ulama yang pernah mengajar di Surau Gadang adalah Mohammad Zein. Ia mengajarkan penduduk membaca ayat Al-Quran, ilmu umum seperti logika, dan ilmu bela diri silat. Sebelumnya, ia pernah belajar di Surau Haji Miskin. Ia ikut terlibat dalam pemberontakan Belasting pada 1908. Pada masa sebelum kemerdekaan, masjid ini pernah menjadi basis pengembangan Islam melalui kehadiran Madrasah Thawalib Gunuang yang berlokasi di sekitar masjid.
Sampai awal abad ke-20, masjid ini masih menjadi pusat aktivitas keagamaan penduduk Nagari Ampek Koto. Namun, seiring pertambahan penduduk, sejumlah surau-surau ikut dialihfungsikan menjadi masjid, seperti Surau Ngalau, Surau Koto Katiak, Surau Gantiang, dan Surau Lubuak Padang Marapulai.
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Masjid Asasi Padang Panjang. Revisi 29975040. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29975040. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Asasi Padang Panjang sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-25T15:42:47Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Masjid Asasi Padang Panjang · revisi 29975040 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-25T15:42:47Z
- Wikidata P625 · Masjid Asasi Padang Panjang ↗Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-05-26T13:04:35Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.