Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga
Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga atau biasa oleh masyarakat disebut Masjid Kauman Salatiga adalah Masjid Tertua Kedua di Kota Salatiga memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan sejarah perkembangan Islam di Kota Salatiga.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Keagamaan (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Jawa Tengah, Indonesia. Konteks Indonesia didukung keterangan wilayah atau kategori sumber, serta uraian arsitektur yang diperiksa; tidak menyatakan asal tradisi yang eksklusif.
- Nama utama
- Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga
- Lokasi
- Jawa Tengah, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- ID4653191
- Klasifikasi sumber
- keagamaan · nomor ID4653191
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga atau biasa oleh masyarakat disebut Masjid Kauman Salatiga adalah Masjid Tertua Kedua di Kota Salatiga memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan sejarah perkembangan Islam di Kota Salatiga. Masjid ini terletak di Kampung Kauman tepatnya di Jl. K.H. Wahid Hasyim No. 2 Kauman, Sidorejo Lor, Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia.
Masa Penjajahan
Pada masa penjajahan Belanda masjid ini digunakan sebagai tempat ibadah dan sosial keagamaan dan sebagai tempat markas para laskar pejuang dalam menyusun strategi gerilya melawan para penjajah Belanda. Selain itu juga, masjid digunakan sebagai Pengadilan Agama. Hal ini ditunjukkan dengan adanya penerbitan Pasal 134 Ayat 2 IS (Indische Staatsregaling) yang dikeluarkan oleh Pemerintahan Belanda sebagai landasan formil untuk mengawasi kehidupan masyarakat yang beragama Islam dibidang peradilan yaitu berdirinya Radd Islam. Pada masa penjajahan Jepang, masjid ini masih dipergunakan sebagai tempat peradilan sekitar tahun 1942-1945.
Masa Kemerdekaan
Pada masa Kemerdekaan Republik Indonesia masjid masih digunakan sebagai Pengadilan Agama sekitar tahun 1945 sampai 1960-an. Pengadilan ini dulu disebut " Pengadilan Serambi " karena menggunakan Serambi Masjid untuk pengadilan dalam memutuskan perkara perdata Islam. Pada tahun 1949 lembaga tersebut diketuai oleh Kyai Irsyam dan 7 Pegawai lainnya. Selain itu, masjid juga digunakan sebagai Kantor Urusan Agama / Departemen Agama (Kini : Kementerian Agama) yang dulu bernama Kantor Perwakilan Departemen Agama Kabupaten Semarang di Kota Salatiga yakni sekitar tahun 1974 sampai dengan 1976 sekitar 3 tahunan dimana lembaga tersebut di kepalai oleh K.H.M. Bakrie Tolhah.
Perubahan Nama
Masjid ini dulunya bernama Masjid Kauman Salatig kemjdian berubah Masjid Besar Kodya Salatiga. Namun pada tahun 1975an berdasarkan kesepakatan para Ulama dan Kyai di Kauman masjid ini berubah menjadi Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga, penamaan " Al-Atiiq " didasarkan pada bangunan yang antik atau kuno atau masjid bersejarah yang menjadi tonggak perjuangkan penyebaran Islam di Kota Salatiga. Nama tersebut masih dipertahankan sampai sekarang. Perubahannama tersebut juga diikuti dengan perubahan nama jalan, dimana sebelumnya bernama jalan masjid berubah menjadi jalan K.H. Wahid Hasyim atas inisiatif dari Kyai Ahmad Makmuri yang pada waktu itu menjabat sebagai Anggota DPRD.
Arsitektur
Salah satu hal yang membuat masjid ini antik/kuno adalah arsitekturnya yang memiliki dua pendopo. Pendopo pertama merupakan bagian asli masjid dengan atap Limasan dan empat tiang utama dari kayu jati yang dibalut dengan tembok bercat hijau yang menciptakan suasana adem, tradisional, dan penuh makna.
Pendopo kedua adalah bangunan tambahan yang lebih modern dan terdapat sebuah menara setinggi 27 meter dengan nama menara al-Anbiya. Bangunan serambi ini dibangun 2 lantai dengan tujuan untuk menampung jamaah yang lebih banyak. Keempat tiang pendopo serambi ini letak posisinya sama dengan tiang pendopo utama, jadi menciptakan kesinambungan arsitektur yang menawan.
Meskipun dari segi bangunan tampak modern, masjid ini masih tetep mempertahankan desain bangunan lama dengan tujuan untuk memberikan kenyamanan dan serta edukasi sejarah bagi orang yang akan datang.
Pengajian Ahad Pagi
Pengajian Ahad Pagi didirikan dengan tujuan awal sebagai majlis ta'lim untuk memakmurkan masjid dan sekaligus sebagai penggalangan dana untuk renovasi masjid pada tahun 1993 tepatnya didirikan pada Ahad Kliwon tanggal 29 Agustus 1993 yang dipelopori oleh K.H.M. Bakri Tolhah, Drs. K.H.M. Sjatibi bekerjasama dengan Kepala Departemen Agama Kabupaten Boyolali yang waktu itu di kepalai oleh Drs. K.H. Masduqi. Awal pendiriannya belum banyak jamaah yang hadir karena dilaksanakan selapanan (40 hari) sekali, namun setelah sekian kalinya banyak antusias jamaah yg hadir bahkan dari luar Salatiga. Atas saran K.H. Muhlisin (Pengasuh PP. Al-Uswah Gunungpati Semarang) yang merupakan mubaligh yang mengisi pengajian tersebut, agar pengajian dilakukan rutin setiap Ahad/Minggu. Kegiatan tersebut masih eksis dan semakin banyak jamaah yang masih aktif sampai sekarang.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Riwayat dalam arsip sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Sejarah
Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga merupakan masjid bersejarah di Kota Salatiga yang didirikan pada tahun 1247 H / 1832 M sebagaimana manuskrip tulisan arab (١٢٤٧ ه) di Maksura atau Mihrab imam sholat. Dibangun dan didirikan oleh seorang pejuang laskar prajurit Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa (1825-1830) dan seorang abdi dalem Keraton Surakarta pada Masa Pakubuwana VI yakni Kyai Rono Sentiko. Masjid ini telah melalui masa demi masa dalam merekam perkembangan dan situasi zaman, antara lain sebagai berikut:
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga. Revisi 28904984. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 28904984. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-01-29T07:55:27Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga · revisi 28904984 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-01-29T07:55:27Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.