Arsitektur.
bagian dari ensiklopedia.online
ARS-R604653191
Adaptasi ensiklopedia kolaboratif · ringkasan berbahasa Indonesia dan teks sumber berbahasa Indonesia. Identitas dan rujukan berasal dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia, nomor ID4653191. Asal dan lisensi uraian
BangunanJawa Tengah, IndonesiaARS-R604653191

Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga

Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga atau biasa oleh masyarakat disebut Masjid Kauman Salatiga adalah Masjid Tertua Kedua di Kota Salatiga memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan sejarah perkembangan Islam di Kota Salatiga.

Dasar informasi:[1]
Bandingkan
Jenis objek
Bangunan
Fungsi
Keagamaan (kategori penelusuran)
Masa tercatat
Belum diringkas dari riwayat sumber
Kondisi dan status
Kondisi mutakhir belum dinilai
01

Identitas dan tapak

Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Jawa Tengah, Indonesia. Konteks Indonesia didukung keterangan wilayah atau kategori sumber, serta uraian arsitektur yang diperiksa; tidak menyatakan asal tradisi yang eksklusif.

Dasar informasi:[1]
Lingkup profil: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan. Bangunan lain pada tapak tidak otomatis menjadi bagian dari entitas ini.
Nama utama
Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga
Lokasi
Jawa Tengah, Indonesia · Bangunan di Indonesia
Nama lain dalam sumber
ID4653191
Klasifikasi sumber
keagamaan · nomor ID4653191
Dasar kondisi
Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
02

Ruang dan fungsi

Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.

Dasar informasi:[1]

Membaca arsitektur

Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.

Dasar informasi:[1]

Deskripsi fisik dalam sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembuka

Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga atau biasa oleh masyarakat disebut Masjid Kauman Salatiga adalah Masjid Tertua Kedua di Kota Salatiga memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan sejarah perkembangan Islam di Kota Salatiga. Masjid ini terletak di Kampung Kauman tepatnya di Jl. K.H. Wahid Hasyim No. 2 Kauman, Sidorejo Lor, Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia.

Masa Penjajahan

Pada masa penjajahan Belanda masjid ini digunakan sebagai tempat ibadah dan sosial keagamaan dan sebagai tempat markas para laskar pejuang dalam menyusun strategi gerilya melawan para penjajah Belanda. Selain itu juga, masjid digunakan sebagai Pengadilan Agama. Hal ini ditunjukkan dengan adanya penerbitan Pasal 134 Ayat 2 IS (Indische Staatsregaling) yang dikeluarkan oleh Pemerintahan Belanda sebagai landasan formil untuk mengawasi kehidupan masyarakat yang beragama Islam dibidang peradilan yaitu berdirinya Radd Islam. Pada masa penjajahan Jepang, masjid ini masih dipergunakan sebagai tempat peradilan sekitar tahun 1942-1945.

Masa Kemerdekaan

Pada masa Kemerdekaan Republik Indonesia masjid masih digunakan sebagai Pengadilan Agama sekitar tahun 1945 sampai 1960-an. Pengadilan ini dulu disebut " Pengadilan Serambi " karena menggunakan Serambi Masjid untuk pengadilan dalam memutuskan perkara perdata Islam. Pada tahun 1949 lembaga tersebut diketuai oleh Kyai Irsyam dan 7 Pegawai lainnya. Selain itu, masjid juga digunakan sebagai Kantor Urusan Agama / Departemen Agama (Kini : Kementerian Agama) yang dulu bernama Kantor Perwakilan Departemen Agama Kabupaten Semarang di Kota Salatiga yakni sekitar tahun 1974 sampai dengan 1976 sekitar 3 tahunan dimana lembaga tersebut di kepalai oleh K.H.M. Bakrie Tolhah.

Perubahan Nama

Masjid ini dulunya bernama Masjid Kauman Salatig kemjdian berubah Masjid Besar Kodya Salatiga. Namun pada tahun 1975an berdasarkan kesepakatan para Ulama dan Kyai di Kauman masjid ini berubah menjadi Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga, penamaan " Al-Atiiq " didasarkan pada bangunan yang antik atau kuno atau masjid bersejarah yang menjadi tonggak perjuangkan penyebaran Islam di Kota Salatiga. Nama tersebut masih dipertahankan sampai sekarang. Perubahannama tersebut juga diikuti dengan perubahan nama jalan, dimana sebelumnya bernama jalan masjid berubah menjadi jalan K.H. Wahid Hasyim atas inisiatif dari Kyai Ahmad Makmuri yang pada waktu itu menjabat sebagai Anggota DPRD.

Arsitektur

Salah satu hal yang membuat masjid ini antik/kuno adalah arsitekturnya yang memiliki dua pendopo. Pendopo pertama merupakan bagian asli masjid dengan atap Limasan dan empat tiang utama dari kayu jati yang dibalut dengan tembok bercat hijau yang menciptakan suasana adem, tradisional, dan penuh makna.

Pendopo kedua adalah bangunan tambahan yang lebih modern dan terdapat sebuah menara setinggi 27 meter dengan nama menara al-Anbiya. Bangunan serambi ini dibangun 2 lantai dengan tujuan untuk menampung jamaah yang lebih banyak. Keempat tiang pendopo serambi ini letak posisinya sama dengan tiang pendopo utama, jadi menciptakan kesinambungan arsitektur yang menawan.

Meskipun dari segi bangunan tampak modern, masjid ini masih tetep mempertahankan desain bangunan lama dengan tujuan untuk memberikan kenyamanan dan serta edukasi sejarah bagi orang yang akan datang.

Pengajian Ahad Pagi

Pengajian Ahad Pagi didirikan dengan tujuan awal sebagai majlis ta'lim untuk memakmurkan masjid dan sekaligus sebagai penggalangan dana untuk renovasi masjid pada tahun 1993 tepatnya didirikan pada Ahad Kliwon tanggal 29 Agustus 1993 yang dipelopori oleh K.H.M. Bakri Tolhah, Drs. K.H.M. Sjatibi bekerjasama dengan Kepala Departemen Agama Kabupaten Boyolali yang waktu itu di kepalai oleh Drs. K.H. Masduqi. Awal pendiriannya belum banyak jamaah yang hadir karena dilaksanakan selapanan (40 hari) sekali, namun setelah sekian kalinya banyak antusias jamaah yg hadir bahkan dari luar Salatiga. Atas saran K.H. Muhlisin (Pengasuh PP. Al-Uswah Gunungpati Semarang) yang merupakan mubaligh yang mengisi pengajian tersebut, agar pengajian dilakukan rutin setiap Ahad/Minggu. Kegiatan tersebut masih eksis dan semakin banyak jamaah yang masih aktif sampai sekarang.

03

Pihak dan peran

Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.

Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.

04

Riwayat perubahan

Riwayat dalam arsip sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Sejarah

Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga merupakan masjid bersejarah di Kota Salatiga yang didirikan pada tahun 1247 H / 1832 M sebagaimana manuskrip tulisan arab (١٢٤٧ ه) di Maksura atau Mihrab imam sholat. Dibangun dan didirikan oleh seorang pejuang laskar prajurit Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa (1825-1830) dan seorang abdi dalem Keraton Surakarta pada Masa Pakubuwana VI yakni Kyai Rono Sentiko. Masjid ini telah melalui masa demi masa dalam merekam perkembangan dan situasi zaman, antara lain sebagai berikut:

Tanggal observasi fisik belum dipastikan

Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber

Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.

Dasar informasi:[1]
05

Ukuran dan sistem

Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.

Dasar informasi:[1]

Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.

06

Dokumentasi dan sumber

Edisi sumber dan hak penggunaan

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga. Revisi 28904984. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗

Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.

Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 28904984. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.

Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.

Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.

Tanggal atau versi data sumber: 2026-01-29T07:55:27Z.

Catatan pembacaan sumber
  • Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
  • Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.

Dasar informasi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia · Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga · revisi 28904984 ↗
    Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-01-29T07:55:27Z

Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.

Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.

Baca dokumentasi