Masjid Bingkudu
Masjid Bingkudu (kadang dieja atau ditulis Masjid Bengkudu dan disebut juga dengan Masjid Jamik Bingkudu) adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang didirikan oleh kaum Padri di tengah kecamuk perang Padri di Sumatera Barat pada tahun 1823.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Keagamaan (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Masjid Bingkudu dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Canduang Koto Laweh, Sumatera Barat, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Masjid Bingkudu
- Lokasi
- Canduang Koto Laweh, Sumatera Barat, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q6684473; ID882885
- Klasifikasi sumber
- keagamaan · nomor ID882885
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Masjid Bingkudu (kadang dieja atau ditulis Masjid Bengkudu dan disebut juga dengan Masjid Jamik Bingkudu) adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang didirikan oleh kaum Padri di tengah kecamuk perang Padri di Sumatera Barat pada tahun 1823. Masjid dengan arsitektur khas Minangkabau ini terletak di Jorong Bingkudu, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Saat mulai didirikan, bangunan masjid ini terbuat dari bahan kayu, mulai dari lantai, tiang, hingga dinding masjid.
Saat ini, selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam dan sarana pendidikan agama bagi pelajar, Masjid Bingkudu juga digunakan sebagai kantor pusat Tim Koordinasi Pemberantasan Kemiskinan Jorong Bingkudu. Bahkan jauh sebelumnya, telah ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Agam sebagai cagar budaya pada tahun 1989. Sehingga pada tahun 1991, masjid ini mulai mengalami pemugaran secara keseluruhan.
Arsitektur
Selain keasliannya yang tetap terjaga, arsitektur pada masjid ini juga sangat mudah untuk dikenali, terutama pada bentuk atap yang terdiri dari 3 tingkatan dengan sedikit cekungan. Saat mulai didirikan, masjid ini memakai sistem pasak, yaitu pola bangunan yang tidak menggunakan paku pada setiap sambungan kayu.
Bangunan masjid yang terletak di kaki gunung Marapi pada ketinggian 1.050 m di atas permukaan laut ini, dibangun di sebidang tanah seluas 60 x 60 meter persegi, dengan luas bangunan 21 x 21 meter. Sedangkan tinggi bangunan dari permukaan tanah sampai ke puncak (atap) adalah sekitar 19 meter. Masjid ini memiliki konstruksi bangunan yang terbuat dari kayu dengan tatanan atap bertingkat 3 berbahan ijuk. Seperti halnya Rumah Gadang, bangunan masjid ini memiliki kandang atau kolong setinggi 1,5 meter.
Ruang utama
Ruang utama masjid ini berbentuk persegi berukuran 21 x 21 meter. Tiang utama terletak di tengah ruang utama berbentuk segi enambelas dengan diameter 75 cm. Sedangkan tiang-tiang di sekeliling tiang utama berbentuk segi duabelas dengan diameter 30 sampai 40 cm. Terdapat pula 5 tiang pada bagian mihrab masjid ini, dengan mihrab terletak di sebelah barat yang sedikit menjorok keluar.
Ruang utama juga dihiasi dengan lampu gantung kuno dan beberapa lampu dinding yang terpasang pada setiap tiang di dalam masjid. Lampu-lampu tersebut berfungsi sebagai penerang sekaligus aksesoris masjid. Selain itu, pada bagian depan ruang utama terdapat mimbar tua yang tahun pembuatannya dapat dirujuk dari tulisan angka 1316 Hijriah (sekitar tahun 1906) pada bagian mahkota mimbar. Mimbar berbentuk huruf "L" tersebut terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan tangga naik dan tangga turun yang sengaja dibuat terpisah, dengan tangga naik dibuat menghadap ke depan sedangkan tangga turun mengarah ke samping.
Pintu masuk ruang utama terdapat di sebelah timur. Di dalamnya terdapat 53 buah tiang berdiameter antara 30–40 cm dengan bentuk segi duabelas dan enambelas, juga terdapat sebuah tiang sebagai tonggak macu yang terdapat di tengah-tengah berbentuk segi enambelas berdiameter 75 cm. Di dalam masjid terdapat sebuah lampu gantung kuno dan beberapa buah lampu dinding kuno yang terpasang pada tiang-tiang masjid. Hiasan ukiran terdapat pada tiang-tiang bagian atas dan pada balok pengikat antara satu tiang dengan tiang lainnya merupakan kekhasan Masjid Bingkudu.
Mihrab masjid terdapat di sebelah barat menjorok keluar dari bangunan utama. Mimbar masjid tidak terdapat di dalamnya, tetapi terletak di depannya. Mimbar terbuat dari ukiran kayu dengan hiasan warna keemasan dibuat tahun 1906, berbentuk huruf 'L.' Memiliki tangga naik menghadap ke depan dan tangga turun mengarah kesamping. Pada bagian kiri dan kanan tangga tersebut terdapat pipi tangga berukir dengan motif sulur-suluran. Pada mahkota mimbar terukir kaligrafi, dan pada bagian atas juga ditemukan tulisan angka 1316 H (1906 M).
Menara
Masjid Bingkudu dilengkapi dengan sebuah menara yang dibangun sekitar tahun 1957. Menara dengan tinggi 11 meter ini terletak di depan masjid yang dirancang seperti kubah dengan bentuk lingkaran persegi delapan. Di dalam menara terdapat 21 anak tangga yang memutar ke arah kiri. Menara tersebut merupakan pengganti menara lama yang letaknya terpisah dari bangunan utama di utara. Sebelum disambar petir, menara lama memiliki 100 anak tangga, kemudian dipotong dan dialihfungsikan sebagai rumah garin dan tempat musyawarah tokoh masyarakat sekitarnya.
Bedug
Sebelum pengeras suara ada, masjid-masjid di Indonesia umumnya menggunakan bedug sebagai penananda masuknya waktu salat. Bedug dipukul ketika waktu untuk salat tiba, kemudian akan dilanjutkan dengan kumandang azan. Seperti masjid tua lainnya di Indonesia, masjid ini juga memiliki bedug atau disebut tabuah dalam bahasa Minang. Masjid ini memiliki bedug dengan diameter 60 cm dan panjang mencapai 3,1 meter, terbuat dari pohon kelapa dengan penutup dari kulit sapi. Sebagai salah satu budaya Islam Indonesia, keberadaan bedug di masjid ini masih tetap dipertahankan.
Sarana dan fasilitas
Tempat wudu masjid ini berbentuk persegi panjang yang dibuat terpisah dari bangunan utama di selatan. Di sekitarnya, terdapat 3 kolam ikan. Tidak jauh dari kolam-kolam tersebut, terdapat makam Syekh Ahmad Taher, ulama setempat yang dikenal sebagai pendiri sekolah pendidikan Islam Miftahul Ulumi Syar'iyah yang meninggal pada tanggal 13 Juli 1962.
Selain tempat wudu dan kolam ikan, masjid ini dilengkapi pula dengan fasilitas pendukung lain seperti tempat parkir. Selain itu, beberapa sarung dan mukena juga telah disediakan di dalam masjid bagi jamaah perempuan yang ingin menunaikan ibadah salat tetapi tidak membawa perlengkapannya.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Riwayat dalam arsip sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pemugaran
Sebelumnya, atap ijuk pada masjid ini sempat diganti dengan seng pada tahun 1957. Penggantian tersebut dilakukan oleh masyarakat setempat mengingat kondisi atap ijuk yang telah lapuk dimakan usia. Kemudian 2 tahun setelah masjid ini ditetapkan sebagai cagar budaya dan diserahkan kepada pemerintah Kabupaten Agam pada tahun 1989, masjid ini mengalami pemugaran secara keseluruhan. Sehingga atap masjid yang telah diganti menjadi seng dikembalikan ke ijuk, dan bagian-bagian yang lapuk diganti lalu dicat lagi sebagaimana aslinya.
Pemugaran masjid ini sendiri pada tahun 1989 dilakukan oleh Proyek Pelestarian dan Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumatera Barat dengan jenis pekerjaan pembongkaran dan pemasangan kembali atap, plafon, jendela, dan menara. Kemudian dilanjutkan dengan pemugaran 1 makam, tempat wudu, mimbar, mihrab, kolam, pemasangan penangkal petir pada menara, penataan lingkungan, pengecatan ulang, dan pembuatan pintu gerbang.
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Masjid Bingkudu. Revisi 29918461. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29918461. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Bingkudu sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-20T06:15:02Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Masjid Bingkudu · revisi 29918461 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-20T06:15:02Z
- Wikidata P625 · Masjid Bingkudu ↗Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-21T12:10:59Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.