Masjid Pajimatan Imogiri
Masjid Pajimatan Imogiri, Masjid Kagungan Ndalem Pajimatan Imogiri, atau Masjid Sultan Agung Hanyakrakusuma (Masjid Kagungan Dalem Pajimatan Imagiri) adalah masjid yang terletak di Desa Pajimatan, Kelurahan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul atau + 17 kilometer dari Kota Yogyakarta.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Keagamaan (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Masjid Pajimatan Imogiri dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Masjid Pajimatan Imogiri
- Lokasi
- Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q65209179; ID2789285
- Klasifikasi sumber
- keagamaan · nomor ID2789285
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Masjid Pajimatan Imogiri, Masjid Kagungan Ndalem Pajimatan Imogiri, atau Masjid Sultan Agung Hanyakrakusuma (Masjid Kagungan Dalem Pajimatan Imagiri) adalah masjid yang terletak di Desa Pajimatan, Kelurahan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul atau + 17 kilometer dari Kota Yogyakarta. Masjid ini dikelola di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kesultanan Yogyakarta. Hal inilah yang menyebabkan sampai saat ini kepengurusan masjid (termasuk khatib salat Jumat) ditentukan dan diangkat oleh sultan atas persetujuan dari Kasunanan Surakarta.
Bangunan dan perangkat yang menyertai Masjid Pajimatan Imogiri masih terpelihara keasliannya, meskipun telah dilakukan beberapa kali renovasi. Masjid yang berada di area kompleks Permakaman Imogiri ini ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan Menteri No. PM.89/PW.007/MKP/2011.
Asal-usul penamaan
Asal-usul penamaan Masjid Pajimatan Imogiri yang melenceng dari pakem tidaklah jelas. Prasetyo mengungkapkan bahwa nama pajimatan imogiri berasal dari dua suku kata, yaitu jimat dan imogiri. Kata jimat mendapatkan awalan (pa-) dan akhiran (-an) untuk menunjukkan tempat, sehingga berarti “tempat untuk menyimpan jimat atau pusaka”, sedangkan kata imogiri berasal dari kata ima atau hima (berawan atau awan) dan giri (gunung), sehingga berarti “gunung berawan" atau "gunung yang tinggi”. Dengan demikian, arti dan makna pajimatan imogiri secara keseluruhan adalah "gunung berawan atau gunung yang tinggi sebagai tempat penyimpanan jimat atau pusaka bagi Kesultanan Mataram”. Hasil penelitian bersama yang dilakukan oleh Hamzah memperjelas bahwa nama tersebut berkaitan dengan kegandrungan masyarakat Jawa (khususnya masyarakat yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram) terhadap hal-hal yang berbau mistis. Namun, beberapa pendapat menyatakan bahwa pembangunan Masjid Pajimatan Imogiri erat kaitannya dengan kegiatan menyepi yang dilakukan oleh Sultan Agung.
Kondisi fisik
Keberadaan Masjid Pajimatan tidak dapat dipisahkan dari kompleks Permakaman Imogiri, yaitu makam khusus para raja maupun keluarga Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Masjid Pajimatan Imogiri terletak di sebelah selatan Permakaman Imogiri, sedangkan Permakaman Imogiri terletak di puncak Bukit Merak.
Hal ini disebabkan karena Masjid Pajimatan Imogiri merupakan bangunan yang menjadi salah satu komponen dari kompleks Permakaman Imogiri.
Adapun bagian dari kompleks Permakaman Imogiri meliputi:
Masjid Pajimatan Imogiri;
Gapura sebanyak empat buah, yaitu Kori Supit Urang, Regol Sri Manganti I, Regol Sri Manganti II, dan Gapura Papak;
Kelir sebanyak empat buah;
Padhasan sebanyak enam buah;
Nisan di delapan kelompok makam, yaitu Kedaton Sultan Agung, Kedaton Pakubuwono, Kedaton Bagusan/Kasuwargan Surakarta, Kedaton Kapingsangan/Antana Luhur, Kedaton Giri Mulya, Kedaton Kasuwargan, Kedaton Besiyaran, dan Kedaton Saptorenggo.
Secara administratif, pelataran masjid ini sebenarnya masuk ke dalam wilayah Dusun Kedung Buweng, Kelurahan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, tetapi kompleks Permakaman Imogiri secara keseluruhan masuk ke dalam dua dusun dan desa di Kecamatan Imogiri.
Awalnya bangunan ini dibangun dari bahan-bahan kayu jati dan tembok yang dibuat atas susunan batu bata dengan spesi atau lepa yang terbuat dari komposisi (adonan) berupa pasir, gamping (kapur), dan batu bata yang dihancurkan (digiling). Sebagai penutup atap bangunan dulunya digunakan genteng sirap. Dalam perkembangannya atap sirap digantikan dengan seng gelombang.
Bangunan Masjid Pajimatan Imogiri dapat dikatakan tidak begitu luas. Hal ini disebabkan karena Masjid Pajimatan Imogiri berdiri di atas tanah kesultanan yang hanya memiliki luas + 600 meter2. Adapun ruang utamanya memiliki luas + 10 x 6 meter2, sedangkan serambinya memiliki luas + 6 x 3 meter2. Pada bagian depan masjid terdapat halaman seluas + 80 meter2 dan kolam yang dahulu berfungsi sebagai tempat bersuci di sisi selatan.
Secara fisik, bangunan Masjid Pajimatan berarsitektur Jawa tradisional dengan atap berupa limasan lawakan. Tidak ada kubah yang terpasang di bagian atasnya, hanya ada cungkup yang berbentuk bunga kenanga dari tembaga. Masjid Pajimatan memiliki ciri-ciri yang menunjukkan kekuasaan Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Sisi utara masjid menunjukkan kekuasaan Kasunanan Surakarta, sedangkan sisi selatan masjid menunjukkan kekuasaan Kesultanan Yogyakarta. Pada halaman sebelah utara dibangun sebuah tugu yang di bagian atasnya diberikan mahkota kerajaan oleh Pakubuwono X, sedangkan di halaman sebelah selatan terdapat kolam yang dibatasi oleh tembok. Pagar pada bagian serambi masjid juga dibuat berbeda. Jari-jari pagar di bagian utara dibuat lebih kecil dengan jumlah 15 buah, sedangkan jari-jari pagar di bagian selatan dibuat lebih besar dengan jumlah 14 buah. Adapun perlengkapan lain yang ada di dalam masjid adalah adanya sebuah mimbar bertangga empat dan bedug yang ukurannya cukup besar. Mimbar dan bedug tersebut merupakan peninggalan asli dari Sultan Agung.
Masjid ini masih terpelihara keasliannya. Keaslian bangunan dan perangkat yang menyertai masjid tersebut terlihat dari soko guru (tiang tengah) yang terbuat dari kayu jati yang ditopang dengan umpak persegi yang terbuat dari batu kali, mihrab berupa relung pada dinding di sebelah barat, dan mimbar yang dibuat pada masa pemerintahan Sultan Agung dan sampai sekarang masih dipergunakan. Selain itu, masjid ini juga masih mempertahankan arsitektur tempo dulu dengan tidak menghilangkan kolam yang terdapat di depan masjid.
Penetapan cagar budaya
Bangunan Masjid Pajimatan Imogiri dan kompleks Permakaman Imogiri adalah sumber daya arkeologi yang memiliki nilai sejarah, filosofi, kepurbakalaan, dan kebudayaan. Unsur Hindu yang kental menjadi salah satu karakteristik tersendiri ketika Islam menyatu dengan budaya Jawa dalam arsitektur bangunan kompleks Permakaman Imogiri, termasuk keberadaan Masjid Pajimatan Imogiri. Pada saat ini, Masjid Pajimatan Imogiri beserta kompleks Permakaman Imogiri telah ditetapkan sebagai cagar budaya tak bergerak di Kabupaten Bantul, yang bersifat living monument dan masih difungsikan melalui Surat Keputusan Menteri No. PM.89/PW.007/MKP/2011.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Riwayat dalam arsip sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Sejarah pendirian
Kyai Tumenggung Citrokusumo merancang kompleks permakaman tersebut dengan perpaduan unsur Jawa (Hindu) dan Islam, juga dibangun masjid di dalamnya. Hingga kini, bangunan masjid tersebut tetap terjaga dan sesuai dengan bentuk aslinya.
Masjid ini dibangun oleh Sultan Agung pada tahun 1650 sebagai sarana ibadah bagi para abdi dalem Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang bertugas di kompleks Permakaman Imogiri. Adapun jarak Masjid Pajimatan dengan Permakaman Imogiri + 500 meter, tepatnya di sisi utara pintu masuk tangga menuju ke permakaman yang berjumlah sekitar 400 anak tangga. Para abdi dalem yang berjaga di sana juga menggunakan pakaian Jawa dalam menjalankan tugasnya, termasuk muazin dan khatib.
Selain Masjid Pajimatan Imogiri, masjid lain yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung adalah Masjid Pathok Negoro dan Masjid Sunan Cirebon.
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Masjid Pajimatan Imogiri. Revisi 29975783. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29975783. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Pajimatan Imogiri sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-25T15:53:36Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Masjid Pajimatan Imogiri · revisi 29975783 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-25T15:53:36Z
- Wikidata P625 · Masjid Pajimatan Imogiri ↗Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-04-25T17:03:11Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.