Arsitektur.
bagian dari ensiklopedia.online
ARS-R600111766
Adaptasi ensiklopedia kolaboratif · ringkasan berbahasa Indonesia dan teks sumber berbahasa Indonesia. Identitas dan rujukan berasal dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia, nomor ID111766. Asal dan lisensi uraian
BangunanAntasan Besar, Kalimantan Selatan, IndonesiaARS-R600111766

Masjid Raya Sabilal Muhtadin

Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah sebuah masjid bersejarah yang berada di Jalan Jenderal Sudirman No. 1, Kelurahan Antasan Besar, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia.

Dasar informasi:[1]
Bandingkan
Jenis objek
Bangunan
Fungsi
Keagamaan (kategori penelusuran)
Masa tercatat
Belum diringkas dari riwayat sumber
Kondisi dan status
Kondisi mutakhir belum dinilai
01

Identitas dan tapak

Masjid Raya Sabilal Muhtadin dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Antasan Besar, Kalimantan Selatan, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.

Dasar informasi:[1]
Lingkup profil: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Raya Sabilal Muhtadin sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan. Bangunan lain pada tapak tidak otomatis menjadi bagian dari entitas ini.
Nama utama
Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Lokasi
Antasan Besar, Kalimantan Selatan, Indonesia · Bangunan di Indonesia
Nama lain dalam sumber
Q7396100; ID111766
Klasifikasi sumber
keagamaan · nomor ID111766
Dasar kondisi
Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Titik lokasi: Titik rujukan Wikidata P625 untuk identitas sumber; bukan jejak bangunan. Ketelitian horizontal belum diverifikasi.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
02

Ruang dan fungsi

Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.

Dasar informasi:[1]

Membaca arsitektur

Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.

Dasar informasi:[1]

Deskripsi fisik dalam sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembuka

Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah sebuah masjid bersejarah yang berada di Jalan Jenderal Sudirman No. 1, Kelurahan Antasan Besar, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan pada tahun 1981 sebagai penghormatan terhadap ulama besar Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, di mana nama masjid ini diambil dari nama kitabnya yang berjudul Sabilal Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amrid-din (Jalan bagi Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk untuk Mendalami Urusan-Urusan Agama), sebuah kitab fikih mazhab Syafii yang menjadi salah satu rujukan ulama di Nusantara. Masjid ini berdiri di bekas tanah asrama tentara Pulau Tatas, di mana pada era kolonialisme Belanda, tempat ini dikenal dengan Fort Van Tatas atau Benteng Tatas.

Benteng Tatas

Dahulu, Pulau Tatas, yang merupakan pulau delta, merupakan lokasi dari Fort van Tatas yang merupakan benteng dan barak Belanda, di mana benteng ini dikelilingi kanal dan berada di persimpangan yang dinilai strategis, yaitu wilayah Kesultanan Banjar di Kuin di bagian baratnya dan daerah menuju Martapura dan Hulu Sungai di bagian timurnya. Selain strategis dari segi pertahanan, dari segi ekonomi juga dinilai strategis karena armada dagang Eropa (Belanda, Portugis, Inggris), Tiongkok, Melayu, Bugis, dan Jawa kerap berkabuh di daerah ini untuk melakukan perdagangan lada yang merupakan komoditas perdagangan kesultanan masa itu.

Awalnya, Pulau Tatas tidak dilirik oleh VOC sebagai benteng pertahanan dan lebih memilih Sungai Barito di dekat muara Sungai Kuin karena berdekatan dengan keraton kesultanan. Bahkan pada kedatangan VOC yang kedua pada tahun 1612, armada VOC belum melihat pulau ini. Baru pada Oktober 1756, ketika Sultan Banjar melakukan perjanjian dengan Johan Andreas Para Vinci, pulau ini menjadi benteng pertahanan di mana wilayah ini berada di tangan Inggris, di mana benteng ini dibangun dengan bentuk pentagin yang diperkuat selekoh (bastion) di sisi sungai dan sisi daratan. Lalu, pada tahun 1786-1787, saat Sultan Banjar menyerahkan kedaulatan kepada VOC, VOC mendirikan pusat pemerintahan di pulau ini.

Arsitektur

Seacar keseluruhan, masjid yang memiliki luas bangunan kurang lebih 5.250 meter persegi ini dapat menampung jamaah sebanyak 15.000 orang, yaitu 7.500 pada bagian dalam dan 7.500 pada bagian halaman bangunan. Bangunan ini dikelilingi empat menara setinggi 21 meter dan satu menara setinggi 45 meter. Bangunan ini menggunakan batu pualam sebagai pelapis lantai bangunan, menara dan turap plaza, juga sebagian dari kolam. Walaupun begitu, bangunan ini juga menggunakan porselen pada lantai tempat pengambilan air wudhu dan keramik pada lantai plazanya.

Bangunan ini memiliki kerawang yang tembus pandang pada pintu-pintu dan dindingnya sebagai penyeimbang bangunan yang memiliki kubah yang berbentuk bulat pipih di atas bangunan, tiang-tiang yang kokoh dan dinding yang tebal. Bangunan ini juga didukung dengan 17 buah lampu hias dengan ribuan bola kaca di bagian dalam ruang utama yang tersusun dalam lingkaran bergaris tengah 9 meter.

Masjid ini memiliki elemen hias kaligrafi yang diukir pada bahan tembaga berwarna gelap bertuliskan ayat-ayat Al-Qur'an, Asmaulhusna, lafaz Allah, dan lafaz Nabi Muhammad dan keempat sahabatnya yang ditulis dalam gaya Naski, Diwani, Riqah, Tsulus, dan Kufik. Selain itu, masjid ini memiliki elemen hias berupa motif khas Kalimantan yang berbentuk tumbuh- tumbuhan.

Fasilitas dan aktivitas

Saat ini, daerah masjid tidak hanya berisi bangunan utama masjid, melainkan juga berbagai macam bangunan yang digunakan untuk berbagai keperluan diantaranya Kantor Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Angkatan Muda Sabilal Muhtadin, Majelis Ulama Indonesia Kalsel, Badan Amil Zakat Nasional Kalsel dan Badan Wakaf Indonesia Kalsel. Selain itu, masjid ini memiliki perpustakaan, Islamic Center, taman, hingga aula yang disewakan untuk berbagai kegiatan umum.

Masjid ini juga memiliki saluran radio dengan nama "Radio Dakwah Sabilal Muhtadin" dengan frekuensi 88,5 FM dan saluran YouTube dengan nama "Syiar Majelis Sabilal Muhtadin" (Syima Sabilal Muhtadin).

Masjid ini juga memiliki Lembaga Pendidikan Islam yang menanungi berbagai satuan pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, dan Perguruan Tinggi (STIKIP Sabilal Muhtadin). Untuk PAUD, SD, dan SMP Islam Sabilal Muhtadin, bangunannya terletak di kompleks masjid, sedangkan SMA dan SMK Islam Sabilal Muhtadin serta STIKIP Sabilal Muhtadin berada Kompleks Malkon Temon di daerah Jalan Sultan Adam Banjarmasin.

Dalam menjalankan aktivitasnya, selain digunakan untuk salat berjamaah, juga sering digunakan dalam kegiatan keagamaan lainnya seperti majelis taklim dan peringatan hari besar Islam, di mana dalam sejarahnya, majelis taklim ini pernah diisi oleh beberapa ulama seperti K.H. Ahmad Bakeri, K.H. Ahmad Zuhdiannoor, dan lain-lain.

03

Pihak dan peran

Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.

Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.

04

Riwayat perubahan

Riwayat dalam arsip sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembangunan

Keinginan untuk membangun sebuah masjid raya dimulai ketika beberapa tokoh seperti Brigjend H. Hasan Basry, H. Maksid, M. Yusi, dan sejumlah ulama sepakat membangun sebuah masjid raya yang berfungsi sebagai pusat kegiatan Islam dalam arti luas di Banjarmasin. Pada awalnya, lokasi masjid raya yang akan dibangun berlokasi di areal bekas Hotel Banjar. Rencana ini mendapat masukan dari Pangdam X Lambung Mangkurat saat itu, Amir Machmud dan Gubernur Kalsel pada saat itu, Aberani Sulaiman. Namun, pertimbangan lain yang kemudian diterima adalah bahwa lokasi masjid raya yang akan dibangun adalah di Pulau Tatas yang berada di pusat Kota Banjarmasin,dan lahannya masih tergolong luas (sekitar 100 ribu meter persegi), di mana pada saat itu merupakan asrama militer.

Setelah pemilihan lokasi dilakukan dengan bantuan para ahli dari Institut Teknologi Bandung, dilakukan peletakan batu pertama oleh Aberani Sulaiman dan Amir Machmud pada tahun 1964. Namun, pembangunan masjid sempat tertunda karena kondisi perekonomian, politik, dan keamanan saat itu belum sepenuhnya stabil akibat peristiwa Gerakan 30 September. Selain itu, banyak pejabat dan tokoh yang berperan dalam pembangunan masjid mengalami mutasi tugas. Akhirnya, pada 10 November 1974, Gubernur Kalimantan Selatan saat itu, Soebardjo, baru meresmikan pemancangan tiang pertama Masjid Raya Sabilal Muhtadin yang menandakan bahwa pembangunan masjid telah dimulai kembali, di mana dia menunjuk PT Griya Cipta Sarana sebagai perencana dan PT Barata Metelworles sebagai pelaksana pembangunan. Seeblumnya, Kantor Wilayah Departemen Agama telah membentuk tim khusus untuk menentukan arah kiblat pada masjid ini pada tanggal 8 Agustus 1974 yang terdiri dari K.H. M.Hanafie Gobit, K.H. Abdullah Busthani, Drs. Mas’ud Djuhrie serta M. Arsyad Suban.

Pada 31 Oktober 1979 atau 10 Zulhijah 1399 Hijriah, dilaksanakan Salat Iduladha untuk yang pertama kalinya di masjid ini. Meskipun kondisi masjid pada saat itu belum sepenuhnya selesai dibangun, salat berjamaah tersebut dapat dilaksanakan yang menandakan bahwa masjid ini sudah dapat digunakan pada masyarakat. Setelah itu, dibentuklah panitia pengumpul dana yang diketuai oleh K.H. Hasan Moegni Marwan dengan sekretaris H.M Rafi'i Hamdi. Kurang lebih selama tujuh tahun dibangun, akhirnya masjid ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 9 Februari 1981.

Hingga saat ini, ada beberapa orang yang pernah berperan menjadi pengurus masjid dari periode ke periode, seperti K.H. Hasan Moegeni Marwan (ketua umum periode 1980-1982), Ir. H. M. Said (ketua umum pada periode 1982-1987, di mana dibantu oleh K.H. Muhammad Rafi'i Hamdie), H.Maksid (ketua umum 1987-1999), K.H.Husin Naparin, Lc, M.A (ketua umum periode 1999-2004), K.H.Ahmad Bakeri (ketua umum periode 2004-2006), Drs.H.Rudy Ariffin, M.M (ketua umum periode 2006-2008, di mana dibantu oleh K.H. Ahmad Bakeri sebagai ketua harian), Drs.K.H.Tabrani Basri (ketua umum periode 2008-2010), Drs. H. Rusdiansyah Asnawi, S.H (ketua umum periode 2010-2012 & 2012-2015), Dr. H. Akhmad Sagir, M.Ag (ketua umum periode 2016-2018), Drs. K.H. Darul Quthni, M.H (ketua umum periode 2018-2025), dan Dr. Drs. H. Muhammad Tambrin, MM.Pd (ketua umum periode 2025-sekarang).

Renovasi

Pada tahun 2009, dilakukan renovasi yang dilaksanakan oleh gubernur saat itu, Rudy Ariffin dengan menggunakan anggaran sekitar 37 miliar rupiah. Renovasi dilakukan untuk memperbaiki berbagai sisi masjid termasuk kubah utama di bagian dalam masjid, mengngat beberapa bagian masjid dinilai sudah tidak prima karena usia. Meskipun begitu, proses renovasi ini tidak mengubah bentuk asli masjid, meskipun ada wacana ingin memperluas areal pelataran masjid dan memasang atap payung elektrik seperti Masjid Nabawi pada tahun 2015.

Tanggal observasi fisik belum dipastikan

Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber

Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.

Dasar informasi:[1]
05

Ukuran dan sistem

Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.

Dasar informasi:[1]

Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.

06

Dokumentasi dan sumber

Edisi sumber dan hak penggunaan

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Revisi 29965642. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.

Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗

Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.

Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29965642. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.

Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Raya Sabilal Muhtadin sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.

Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.

Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-25T12:13:51Z.

Catatan pembacaan sumber
  • Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
  • Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.

Dasar informasi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia · Masjid Raya Sabilal Muhtadin · revisi 29965642 ↗
    Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-25T12:13:51Z
  2. Wikidata P625 · Masjid Raya Sabilal Muhtadin ↗
    Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-10-05T04:26:14Z

Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.

Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.

Baca dokumentasi