Arsitektur.
bagian dari ensiklopedia.online
ARS-R604459104
Adaptasi ensiklopedia kolaboratif · ringkasan berbahasa Indonesia dan teks sumber berbahasa Indonesia. Identitas dan rujukan berasal dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia, nomor ID4459104. Asal dan lisensi uraian
BangunanSleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, IndonesiaARS-R604459104

Masjid Sulthoni Wotgaleh

Masjid Sulthoni Wotgaleh (ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦱꦸꦭ꧀ꦡꦤꦶꦮꦺꦴꦠ꧀ꦒꦭꦺꦃ) adalah masjid yang terletak di Sendangtirto, Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berstatus sebagai masjid milik Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Kagungan Dalem), masjid ini berbatasan dengan Pangkalan TNI Angkatan Udara Adisutjipto.

Dasar informasi:[1]
Bandingkan
Jenis objek
Bangunan
Fungsi
Keagamaan (kategori penelusuran)
Masa tercatat
Belum diringkas dari riwayat sumber
Kondisi dan status
Kondisi mutakhir belum dinilai
01

Identitas dan tapak

Masjid Sulthoni Wotgaleh dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.

Dasar informasi:[1]
Lingkup profil: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Sulthoni Wotgaleh sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan. Bangunan lain pada tapak tidak otomatis menjadi bagian dari entitas ini.
Nama utama
Masjid Sulthoni Wotgaleh
Lokasi
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia · Bangunan di Indonesia
Nama lain dalam sumber
Q134318980; ID4459104
Klasifikasi sumber
keagamaan · nomor ID4459104
Dasar kondisi
Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Titik lokasi: Titik rujukan Wikidata P625 untuk identitas sumber; bukan jejak bangunan. Ketelitian horizontal belum diverifikasi.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
02

Ruang dan fungsi

Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.

Dasar informasi:[1]

Membaca arsitektur

Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.

Dasar informasi:[1]

Deskripsi fisik dalam sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembuka

Masjid Sulthoni Wotgaleh (ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦱꦸꦭ꧀ꦡꦤꦶꦮꦺꦴꦠ꧀ꦒꦭꦺꦃ) adalah masjid yang terletak di Sendangtirto, Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berstatus sebagai masjid milik Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Kagungan Dalem), masjid ini berbatasan dengan Pangkalan TNI Angkatan Udara Adisutjipto. Masjid ini tidak hanya menjadi pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan arsitektur yang mencerminkan masa kejayaan Mataram Islam. Masjid ini ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Bupati Sleman melalui Surat Keputusan Nomor 14.7/Kep.KDH/A/2017 tertanggal 6 Februari 2017.

Deskripsi bangunan

Secara arsitektural, Masjid Sulthoni Wotgaleh merepresentasikan gaya masjid tradisional Jawa. Bangunannya menggunakan atap berbentuk Tajug, dengan tipologi Tajug Lawakan Lambang Teplok, yakni atap tajug utama di bagian tengah dikelilingi atap pananggap di keempat sisinya. Di bagian atas atap pananggap terdapat unsur blandar lumajang yang terhubung ke sunduk-kili pamidhangan atau saka guru.

Ruang utama masjid dilengkapi dua ruang tambahan di sisi kiri dan kanan, masing-masing berfungsi sebagai pawestren (area salat perempuan) dan ruang pengurus masjid (takmir). Serambi masjid berbentuk Limasan, ditopang oleh delapan tiang utama, dengan atap emper di bagian luar. Serambi ini masih menyimpan beduk lama, yang dahulu digunakan untuk menandai waktu salat sebelum penggunaan pengeras suara.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Sulthoni Wotgaleh mengalami sejumlah perubahan fisik yang cukup signifikan. Seluruh lantai masjid telah diganti menggunakan keramik putih. Dinding bagian dalam, termasuk area mihrab, juga dilapisi keramik setinggi satu meter. Meskipun demikian, empat saka guru beserta umpaknya masih dipertahankan dalam kondisi asli. Struktur tumpangsari telah mendapatkan tambahan elemen kayu baru yang dipernis mengkilap.

Meskipun mengalami renovasi, sejumlah elemen asli masjid tetap dipertahankan. Komponen pintu dan jendela masih menggunakan material lama. Atap masjid ditopang oleh usuk dengan pola ri gereh, yaitu model sejajar tanpa pusat. Namun demikian, sebagian elemen usuk telah diganti dengan kayu baru karena kondisi sebelumnya yang sudah tidak layak.

Kesakralan

Kompleks pemakaman Wotgalih tidak hanya menyimpan makam keluarga Pangeran Purbaya, tetapi juga makam keluarga Sultan Hamengkubuwono II dan IV, menambah aura kesakralan kawasan ini. Di tengah masyarakat, berkembang mitos bahwa wilayah ini memiliki kekuatan gaib yang bisa menyebabkan pesawat atau burung jatuh jika melintasi area di atasnya. Beberapa insiden jatuhnya pesawat yang terjadi di sekitar kawasan ini turut memperkuat kepercayaan tersebut. Oleh karena itu, pengunjung yang memasuki kawasan makam dan masjid ini diwajibkan menjaga etika dan perilaku demi menghormati nilai-nilai spiritual yang melekat kuat di tempat tersebut.

03

Pihak dan peran

Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.

Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.

04

Riwayat perubahan

Riwayat dalam arsip sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Sejarah

Masjid Sulthoni Wotgaleh didirikan pada masa Kerajaan Mataram Islam sekitar tahun 1600 M. Masjid ini dikenal sebagai salah satu dari masjid Pathok Negoro, yakni masjid yang berada di batas wilayah kerajaan dan berfungsi ganda sebagai simbol religius sekaligus pos pertahanan luar kerajaan. Di area belakang masjid terdapat kompleks makam “Hastono Wotgaleh” yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Panembahan Purbaya I yang merupakan putra dari Panembahan Senopati, sosok pejuang tangguh dari Mataram yang dikenal sebagai Banteng Mataram karena keberaniannya dalam berperang, termasuk saat menyerbu Batavia. . Pangeran Purbaya gugur dalam pertempuran mempertahankan Keraton Plered dari serangan Karaeng Galesong dan Trunojoyo pada tahun 1677. Hari lahir dan wafatnya sering diperingati oleh para peziarah yang datang dari berbagai daerah. Makam tersebut juga menjadi peristirahatan Panembahan Purbaya II dan III. Secara etimologis, nama Wotgaleh berasal dari kata wot (jembatan atau lintasan) dan galeh/galih (hati), yang secara simbolis dimaknai sebagai tempat penguatan hati dalam mencapai kesabaran lahir dan batin.

Tanggal observasi fisik belum dipastikan

Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber

Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.

Dasar informasi:[1]
05

Ukuran dan sistem

Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.

Dasar informasi:[1]

Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.

06

Dokumentasi dan sumber

Edisi sumber dan hak penggunaan

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Masjid Sulthoni Wotgaleh. Revisi 29103168. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.

Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗

Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.

Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29103168. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.

Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Sulthoni Wotgaleh sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.

Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.

Tanggal atau versi data sumber: 2026-04-04T18:29:15Z.

Catatan pembacaan sumber
  • Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
  • Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.

Dasar informasi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia · Masjid Sulthoni Wotgaleh · revisi 29103168 ↗
    Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-04-04T18:29:15Z
  2. Wikidata P625 · Masjid Sulthoni Wotgaleh ↗
    Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-06-25T04:25:30Z

Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.

Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.

Baca dokumentasi