Masjid Tuha Gunong Kleng
Masjid Tuha Gunong Kleng adalah sebuah masjid bersejarah yang terletak di Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Aceh, Indonesia. Masjid ini merupakan salah satu bangunan masjid tradisional yang masih bertahan di wilayah Aceh Barat dan dikenal karena konstruksi kayunya, bentuk atap bertingkat, serta lima puncak atap yang menjadi ciri khas bangunannya.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Keagamaan (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Masjid Tuha Gunong Kleng dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Aceh, Indonesia. Konteks Indonesia didukung keterangan wilayah atau kategori sumber, serta uraian arsitektur yang diperiksa; tidak menyatakan asal tradisi yang eksklusif.
- Nama utama
- Masjid Tuha Gunong Kleng
- Lokasi
- Aceh, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- ID4785046
- Klasifikasi sumber
- keagamaan · nomor ID4785046
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Masjid Tuha Gunong Kleng adalah sebuah masjid bersejarah yang terletak di Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Aceh, Indonesia. Masjid ini merupakan salah satu bangunan masjid tradisional yang masih bertahan di wilayah Aceh Barat dan dikenal karena konstruksi kayunya, bentuk atap bertingkat, serta lima puncak atap yang menjadi ciri khas bangunannya. Masjid ini berada di sekitar Jalan Nasional Meulaboh–Tapaktuan, kurang lebih tujuh hingga delapan kilometer dari pusat Kota Meulaboh.
Karena dilihat bangunan unik, Belanda dan Jepang pernah beristirahat di masjid ini, dikira istana kecil atau tempat Ulee Balang pada masa itu. Dalam sejumlah sumber, Masjid Tuha Gunong Kleng disebut sebagai salah satu peninggalan bersejarah dan contoh perkembangan arsitektur masjid kuno di Aceh. Bangunan tersebut telah dicatat sebagai situs cagar budaya oleh instansi pelestarian kebudayaan di Aceh.
Arsitektur
Masjid Tuha Gunong Kleng memiliki karakter arsitektur yang berbeda dari masjid berkubah besar yang berkembang pada masa modern. Bangunan utamanya berdenah bujur sangkar dan menggunakan konstruksi yang didominasi kayu. Publikasi mengenai masjid-masjid bersejarah di Aceh menyebutnya sebagai masjid tradisional berkonstruksi kayu dengan denah bujur sangkar.
Bangunan utama berukuran sekitar 12 × 12 meter. Kayu menjadi unsur penting dalam konstruksinya, termasuk penggunaan kayu pada dinding dan struktur penyangga. Salah satu ciri paling menonjol di bagian interior adalah sebuah tiang utama atau sokoguru tunggal yang menopang struktur atap. Sumber mengenai bangunan ini menyebut kayu merbau digunakan pada tiang utama tersebut.
Atap masjid berbentuk limas bertumpang. Pada keseluruhan struktur atap terdapat lima bagian puncak yang oleh masyarakat setempat dikaitkan dengan lima rukun Islam. Masjid tersebut memiliki konstruksi satu tiang, lima puncak, dan satu menara sebagai karakter yang masih dipertahankan pada bangunan tersebut.
Pada sisi mihrab terdapat tiga ceruk dengan fungsi berbeda. Ceruk tengah digunakan sebagai tempat imam memimpin salat, sementara bagian lainnya berhubungan dengan tempat khatib dan akses menuju menara. Tangga pada salah satu bagian memberikan akses bagi muazin menuju menara untuk mengumandangkan azan.
Perpaduan antara atap tumpang, konstruksi kayu, denah persegi, tiang utama, dan elemen menara memperlihatkan karakter masjid tradisional Nusantara. Kajian arsitektur terhadap Masjid Tuha Gunong Kleng menempatkan bangunan ini sebagai salah satu contoh yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan karakteristik masjid kuno Indonesia, khususnya di Aceh.
Fungsi sosial dan keagamaan
Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Masjid Tuha Gunong Kleng memiliki kedudukan sosial dalam kehidupan masyarakat sekitar. Pada masa lalu, masjid menjadi tempat beribadah bagi penduduk beberapa gampong dan tempat beristirahat bagi orang-orang yang melakukan perjalanan melalui kawasan Meulaboh dan pesisir barat-selatan Aceh.
Setelah pembangunan Masjid Nurul Hidayah yang lebih besar di dekatnya, kegiatan peribadatan utama masyarakat berpindah ke bangunan baru. Bangunan Masjid Tuha tetap dipertahankan sebagai peninggalan sejarah dan masih digunakan dalam kegiatan tertentu.
Tradisi lisan
Sejumlah cerita mengenai Masjid Tuha Gunong Kleng berkembang dalam tradisi lisan masyarakat. Salah satunya menyebut adanya suara orang membaca Al-Qur'an yang konon terdengar dari dalam masjid pada malam Jumat. Cerita tersebut dicatat dalam Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kabupaten Aceh Barat 2022 sebagai bagian dari penuturan masyarakat Gunong Kleng, bukan sebagai peristiwa historis yang telah diverifikasi.
Tradisi lokal lainnya menceritakan bahwa pernah ada upaya untuk merobohkan bangunan lama ketika pembangunan masjid baru dilakukan, tetapi upaya tersebut tidak terlaksana. Kisah semacam ini menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat mengenai kesakralan bangunan.
Terdapat pula cerita bahwa pada masa kolonial, orang Belanda pernah mengira bangunan tersebut sebagai sebuah istana kecil karena bentuknya. Sumber pers berdasarkan keterangan masyarakat juga menyebut masjid pernah menjadi tempat persinggahan serdadu Belanda dan kemudian Jepang. Keterangan tersebut terutama bersumber dari sejarah lisan sehingga perlu dibedakan dari informasi yang didukung dokumen kolonial tertulis.
Gempa bumi dan tsunami 2004
Masjid Tuha Gunong Kleng termasuk bangunan lama di kawasan Aceh Barat yang tetap bertahan setelah gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia pada 26 Desember 2004. Dalam penuturan mengenai sejarah masjid, bangunan utama dilaporkan tetap berdiri, meskipun sejumlah perlengkapan masjid terdampak atau terbawa gelombang.
Kebertahanan bangunan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari ingatan masyarakat terhadap Masjid Tuha Gunong Kleng dan memperkuat kedudukannya sebagai bangunan bersejarah di kawasan Meulaboh.
Pelestarian
Meskipun sebuah masjid yang lebih besar telah berdiri di dekatnya, bangunan lama Masjid Tuha Gunong Kleng tetap dipertahankan. Keaslian bentuk bangunan menjadi salah satu nilai penting masjid tersebut. Sejumlah bagian material telah mengalami perawatan atau penggantian akibat usia, khususnya bagian atap, tetapi bentuk arsitektur pokoknya tetap dipertahankan.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat memasukkan Masjid Tuha Gunong Kleng dalam daftar cagar budaya yang dilestarikan di Kabupaten Aceh Barat. Dalam data pemerintah daerah, bangunan tersebut tercatat berada di Jalan Nasional Meulaboh–Tapaktuan Km 7, Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo.
Keberadaan Masjid Tuha Gunong Kleng memiliki arti penting tidak hanya sebagai tempat keagamaan, tetapi juga sebagai peninggalan arsitektur dan sejarah masyarakat pesisir barat Aceh. Bangunan ini memperlihatkan bentuk masjid tradisional yang berkembang sebelum dominannya penggunaan beton dan kubah besar pada pembangunan masjid modern di Aceh.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Riwayat dalam arsip sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Sejarah
Sejarah awal Masjid Tuha Gunong Kleng terutama diketahui melalui tradisi masyarakat setempat dan pencatatan kebudayaan. Gampong Gunong Kleng mulai ramai dihuni sekitar tahun 1912, seiring berkembangnya permukiman, masyarakat mulai membangun sarana keagamaan. Pembangunan masjid diprakarsai oleh Tgk. Irsyad bersama sejumlah tokoh dan dilakukan secara swadaya melalui gotong royong masyarakat. Menurut sumber tersebut, ketika tiang pertama didirikan, masyarakat mengadakan tadarus Al-Qur'an selama tujuh hari dan tujuh malam sebelum pembangunan dilanjutkan.
Tahun pendirian masjid berbeda dalam beberapa sumber. Publikasi Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional mencatat bahwa masjid dibangun pada abad ke-20, tetapi menyatakan tahun pembangunannya belum diketahui secara pasti. Sementara itu, sejumlah penelitian dan pemberitaan kemudian menyebut 1927 sebagai tahun pembangunan Masjid Tuha Gunong Kleng. Karena perbedaan tersebut, tahun 1927 dapat dipandang sebagai tahun pembangunan yang paling sering disebut, tetapi bukan penanggalan yang sepenuhnya tidak diperdebatkan.
Tradisi lisan masyarakat juga menghubungkan pembangunan masjid dengan dua ulama setempat, Tgk. Arsyad (atau Irsyad) dan Tgk. Tayeb. Menurut keterangan yang dihimpun dari masyarakat, kedua tokoh tersebut terlibat dalam perencanaan masjid. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa mereka dan rombongan pernah pergi ke Kutaraja (kini Banda Aceh) untuk mengamati Masjid Raya Baiturrahman sebagai salah satu rujukan pembangunan. Akan tetapi, bentuk akhir Masjid Tuha Gunong Kleng berkembang menjadi bangunan dengan karakter arsitektur tersendiri.
Pada masa ketika belum terdapat masjid yang lebih besar di sekitarnya, Masjid Tuha Gunong Kleng menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Selain penduduk Gunong Kleng, masyarakat dari sejumlah gampong di sekitarnya disebut turut menggunakan masjid tersebut untuk beribadah. Letaknya di jalur yang menghubungkan Meulaboh dengan daerah-daerah di selatan Aceh juga menjadikannya tempat persinggahan bagi musafir.
Setelah sebuah masjid baru yang lebih besar dibangun di sampingnya, fungsi Masjid Tuha Gunong Kleng sebagai tempat utama salat berjemaah berkurang. Meskipun demikian, bangunan lama tetap dipertahankan dan masih digunakan untuk sejumlah kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat.
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Masjid Tuha Gunong Kleng. Revisi 29723634. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29723634. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Tuha Gunong Kleng sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-08T00:17:50Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Masjid Tuha Gunong Kleng · revisi 29723634 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-08T00:17:50Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.