Arsitektur.
bagian dari ensiklopedia.online
ARS-R600217206
Adaptasi ensiklopedia kolaboratif · ringkasan berbahasa Indonesia dan teks sumber berbahasa Indonesia. Identitas dan rujukan berasal dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia, nomor ID217206. Asal dan lisensi uraian
BangunanGianyar, Bali, IndonesiaARS-R600217206

Museum dan Galeri Seni Rudana

Museum Rudana adalah sebuah museum seni yang berada di Ubud, Gianyar, Bali dan digunakan untuk memamerkan dan mempromosikan karya seni berupa lukisan dan patung karya seniman Bali.

Dasar informasi:[1]
Bandingkan
Jenis objek
Bangunan
Fungsi
Kebudayaan (kategori penelusuran)
Masa tercatat
Belum diringkas dari riwayat sumber
Kondisi dan status
Kondisi mutakhir belum dinilai
01

Identitas dan tapak

Museum dan Galeri Seni Rudana dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Gianyar, Bali, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.

Dasar informasi:[1]
Lingkup profil: Artikel sumber mengidentifikasi Museum dan Galeri Seni Rudana sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan. Bangunan lain pada tapak tidak otomatis menjadi bagian dari entitas ini.
Nama utama
Museum dan Galeri Seni Rudana
Lokasi
Gianyar, Bali, Indonesia · Bangunan di Indonesia
Nama lain dalam sumber
Q6940689; ID217206
Klasifikasi sumber
kebudayaan · nomor ID217206
Dasar kondisi
Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Titik lokasi: Titik rujukan Wikidata P625 untuk identitas sumber; bukan jejak bangunan. Ketelitian horizontal belum diverifikasi.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
02

Ruang dan fungsi

Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: kebudayaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.

Dasar informasi:[1]

Membaca arsitektur

Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, susunan ruang, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.

Dasar informasi:[1]

Deskripsi fisik dalam sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembuka

Museum Rudana adalah sebuah museum seni yang berada di Ubud, Gianyar, Bali dan digunakan untuk memamerkan dan mempromosikan karya seni berupa lukisan dan patung karya seniman Bali.

Museum ini memamerkan karya seni dari I Gusti Nyoman Lempad (almarhum), Nyoman Gunarsa, Made Wianta,seniman Indonesia di luar Bali seperti Affandi (almarhum), Basuki Abdullah (almarhum), Srihadi Soedarsono, Sunaryo Sutono, maupun seniman asing yang tinggal di Bali seperti Antonio Blanco (almarhum), Arie Smit. Museum Rudana didirikan oleh Nyoman Rudana, seorang kolektor lukisan yang juga pemilik galeri seni Rudana Fine Art Gallery dan Genta Fine Art Gallery. Museum ini beralamat di Jl. Cok Rai Pudak No.44, Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571.

Harga tiket masuk ke Museum Rudana sebesar Rp. 20.000 untuk orang dewasa dan Rp. 10.000 untuk anak-anak.

Logo Museum Rudana

Berlogo sama dengan Rudana Fine Art Gallery, yaitu Rama, sang ksatria dalam cerita Ramayana yang sedang menarik anak panahnya, yang melambangkan cinta sejatinya kepada Sinta. Sinta dilambangkan sebagai umat manusia, anak- anak Ibu Pertiwi. Di sini Nyoman Rudana secara simbolis mempersembahkan Museum Rudana untuk Indonesia, dalam skala mikro serta masyarakat dunia dalam skala makro, sebagai sarana belajar bagi bangsa Indonesia dalam memahami dan mengagumi karya bangsanya sendiri, termasuk karya- karya seni agung para seniman pada masa lampau. Sedangkan bagi penikmat seni manca negara, Museum Rudana merupakan jembatan yang memberikan benang merah antara sejarah seni rupa Indonesia pada masa lampau dengan seni rupa modern. Selain itu kesamaan logo tsb dimaksudkan bahwa Rudana Fine Art Gallery dan Museum Rudana merupakan kesatuan yang tak terpisahkan.

Karya Seni yang Ditampilkan

Berbagai karya seni lukis dan seni patung dipamerkan dalam museum ini, baik karya seniman Bali, seniman Indonesia di luar Bali maupun seniman asing. Penataan karya seninya selalu diupayakan agar mencerminkan nilai- nilai tata ruang, nilai estetis yang harmonis dan selaras dengan konsep filosofi Bali. Karya seni lukis Bali klasik dipajang di lantai atas. Di sekelilingnya dipajang lukisan traditional Bali yang meliputi gaya Ubud, gaya Batuan, seperti misalnya karya- karya I Gusti Nyoman Lempad (almarhum), I Gusti Ketut Kobot, Ida Bagus Made, Wayan Bendi, Wayan Jujul dan lain sebagainya.

Di lantai tengah dan bawah dipajang karya seni lukis modern Indonesia seperti lukisan: Affandi (almarhum), Basuki Abdullah (almarhum), Soepono (almarhum), Dullah, Fadjar Sidik, Abas Alibasah, Srihadi Soedarsono, Roedyat, Kartika Affandi, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Made Budhiana, Wayan Darmika dan lain – lain.

Museum ini juga menampilkan karya – karya pelukis asing yang bermukim di Bali, seperti Antonio Blanco (Spanyol), Yuri Gorbachev (Rusia), Jafar Islah(Kuwait), serta Iyama Tadayuki (Jepang).

Acara pembukaan Museum Rudana dilakukan pada tanggal 11 Agustus 1995 sebagai bagian dari peringatan 50 Tahun Indonesia Merdeka. Presiden Soeharto meresmikannya dengan penandatanganan prasasti pada tanggal 26 Desember 1995. Sejak tahun 2004, sejalan dengan tugsnya sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD)mewakili Propinsi Bali, Nyoman Rudana menyerahkan tongkat estafet kepada putra sulungnya Putu Supadma Rudana, MBA sebagai CEO dari Museum Rudana, sedangkan Rudana sendiri bereran sebagai Komisaris.

Museum Rudana merupakan puncak perwujudan impian Nyoman Rudana dalam bidang seni, yang dipersembahkan untuk rakyat Indonesia, negara serta simbol persaudaraan antara manusia di manapun berada. Proses pencapaian diibaratkannya sebagai proses kehidupan manusia itu sendiri, dari bayi, anak, sampai tumbuh menjadi manusia dewasa.

Museum Rudana, dengan koleksi lebih dari 400 lukisan dan patung, merupakan saksi sejarah perkembangan senirupa khususnya seni lukis di Indonesia.

Dalam perjalanannya, Museum Rudana memposisikan diri sebagai high end museum, yang dikunjungi oleh para tamu VIP dari berbagai Negara, seperti Presiden Cina Jiang Zemin tahun 1995, Presiden Hungaria, Bulgaria, Pakistan, mantan Presiden Amerika Jimmy Carter, Delegasi Dewan Rakyat Cina tahun 2005 dan lain – lain. Selain itu Museum Rudana rutin menggelar pameran baik yang dikaitkan dengan Hari Ulang Tahun nya di bulan Agustus yang selalu dikaitkan dengan HUT Kemerdekaan RI, maupun pameran – pameran lain dengan bekerjasama dengan seniman di Bali, luar Bali maupun seniman luar negeri.

Kerja sama

Museum Rudana telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak melalui pelibatan masyarakat dan seniman ke dalam aktivitas museum, serta menjalin hubungan baik dengan sesama museum khususnya di Bali. Museum Rudana telah menjadi anggota HIMUSBA (Himpunan Museum Bali). Nyoman Rudana merupakan salah satu penggagasnya dan saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Penasehat HIMUSBA sedangkan Putu Supadma Rudana, MBA menjadi Ketua III.

Dalam visinya untuk selalu menjadi yang terdepan dalam kancah senirupa Indonesia serta menjadikan dirinya sejajar dengan museum- museum besar di dunia. Museum Rudana terus menerus menjalin network dengan berbagai institusi museum internasional, terlebih melihat posisi Bali, sebagai salah satu sentra pariwisata di Asia tenggara, berpotensi menjadi satu titik jaringan museum di dunia.

03

Pihak dan peran

Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.

Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.

04

Riwayat perubahan

Riwayat dalam arsip sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Sejarah Berdirinya Museum

Museum Rudana merupakan museum yang didirikan oleh Nyoman Rudana dan Wayan Olastini sebagai wujud bakti kepada nusa bangsa dan persembahan menyambut 50 tahun Indonesia merdeka. Pengelolaan museum dilakukan oleh Yayasan Seni Rudana. Museum ini diresmikan pada Selasa, 26 Desember 1995 oleh Presiden Soeharto. Berbagai karya seni lukis dan seni patung dipamerkan dalam museum ini, baik karya seniman Bali, seniman Indonesia di luar Bali maupun seniman asing. Penataan karya seninya selalu diupayakan agar mencerminkan nilai-nilai tata ruang, nilai estetis yang harmonis dan selaras dengan konsep filosofi Bali.

Menurut sejarahnya, Museum Rudana dimulai dengan awal yang sederhana. Hobi menikmati karya seni Bali mendorong semangat Nyoman Rudana untuk mengumpulkan karya seni dari seniman lokal. Teman-temannya sering datang ke kediamannya yang menyimpan beberapa karya seni, ada yang datang untuk menikmati dan ada juga yang bersikeras untuk membeli. Pemicu lain dari tekadnya untuk membuka galeri seni pertamanya empat dekade yang lalu pada tahun 1974 adalah para seniman mulai berdatangan kepadanya untuk memintanya membantu menjual karya mereka. Pada akhirnya, naluri bisnisnya dalam mempromosikan seni, kemampuan manajerialnya dalam mengelola galeri dan ketelitiannya dalam memilih karya-karya para seniman membuat galeri ini menjadi terkenal di antara para turis pada tahun 70-an.

Nyoman Rudana mulai sangat prihatin dengan pengiriman karya seni Bali yang langka ke luar negeri untuk menjadi milik pribadi atau untuk koleksi galeri dan museum di Eropa. Kecintaan Nyoman Rudana pada seni berakar kuat pada rasa hormatnya pada kepercayaan leluhurnya. Oleh karena itu, pada awalnya ia tersiksa oleh kontradiksi antara mempromosikan karya seni melalui galerinya dan panggilannya untuk melestarikan warisan tak ternilai dari karya-karya seni yang luar biasa dari para maestro yang telah meninggal; hal ini berlangsung cukup lama.

Kebingungan Rudana perlahan-lahan teratasi ketika ia mulai membangun koleksi karya seni langka dan berkenalan dengan para seniman dari pulau-pulau lain. Jawa, Sumatra, Kalimantan, ia menggagas ide untuk mendirikan sebuah museum; setelah lebih dari dua dekade melakukan upaya tanpa henti untuk mengumpulkan dan menyimpan karya-karya seni berharga yang ia anggap harus tetap berada di dalam negeri karena nilai historisnya, ia secara resmi membuka Museum Rudana pada tahun 1995. Pembukaan museum ini juga bertepatan dengan peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia.

Visi humanisme Museum Rudana, yaitu untuk kemaslahatan (manfaat) umat manusia, merupakan filosofi perjuangan Nyoman Rudana dalam mengoleksi lukisan – lukisan yang kini dapat dinikmati di museum ini.

Obsesi pendirian museum ini diawali saat Nyoman Rudana menyaksikan bahwa begitu banyak hasil karya seni kuno Indonesia diboyong ke luar negeri. Tergerak untuk melestarikan karya – karya seni terbaik anak bangsa inilah kemudian Museum Rudana ini didirikan.

Bangunan seluas 500 meter persegi ini didirikan di atas lahan seluas 2.500 meter persegi di Kawasan Seni Rudana di Peliatan, Ubud, Kabupaten Gianyar,Bali, satu kompleks dengan Rudana Fine Art Gallery. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada tanggal 22 Desember 1990.

Museum sendiri dalam runtutan etimologinya berasal dari kata bahasa Latin musee, atau musea, yang artinya ilmu pengetahuan, cahaya yang menerangi serta kekayaan kepada kehidupan. Sejalan dengan perkembangan bahasa, arti kata museum berubah menjadi kata benda yang lebih konkret, yaitu gedung penyimpanan benda – benda yang bernilai untuk menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Benda – benda yang ditampilkan di dalam museum tidak diperjual belikan, demikian juga dengan karya – karya seni yang ditampilkan di dalam Museum Rudana. Selain itu, sejalan dengan visi Nyoman Rudana sebagai pendiri untuk mendedikasikan Museum Rudana untuk dinikmati khalayak berbagai kalangan, Museum Rudana merupakan suatu institusi non profit.

Museum Rudana terdiri dari tiga lantai dengan memegang teguh arsitektur serta filosofi Bali. Ruangan museum dibangun berlantai 3 dimana disesuaikan dengan konsep Triangga, tiga bagian dari tubuh manusia, yaitu kepala, badan serta anggota gerak; Tri Mandalla, tiga pembagian halaman, jeroan, jaba tengah dan jaba sisi, atau halaman dalam, tengah dan luar; Tri Loka, konsep alam semesta yang terbagi atas bhur, bwah, swah atau alam bawah, menengah dan atas. Tri Hita Karana yaitu tiga tingkatan/hubungan manusia hidup di dunia seperti manusia dengan alam (palemahan). Manusia dengan manusia (pawongan) dan manusia dengan Tuhan (para hyangan). Keseluruhnya konsep tersebut berkaitan dengan pengembangan seni budaya di Bali merupakan gambaran proses regenerasi dari waktu ke waktu yang lekang oleh zaman. Konsep ini dalam perkembangan seni rupa, mencerminkan regenerasi seniman dari masa silam sampai masa kini, bagaikan rangkaian benang emas yang tak terputus. Tampak luar Museum Rudana sendiri mencerminkan bendera merah putih, dilambangkan dengan dinding bata merah dan batu paras putih.

Berlokasi strategis di tengah lintas Ubud, Gianyar danDenpasar, Museum Rudana menjadi destinasi wisatawan pada masa sekarang ini, terlebih dengan makin kondusifnya perkembangan dunia senirupa Indonesia.

Tanggal observasi fisik belum dipastikan

Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber

Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.

Dasar informasi:[1]
05

Ukuran dan sistem

Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.

Dasar informasi:[1]

Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.

06

Dokumentasi dan sumber

Edisi sumber dan hak penggunaan

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Museum dan Galeri Seni Rudana. Revisi 29291321. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.

Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗

Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.

Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29291321. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.

Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Museum dan Galeri Seni Rudana sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.

Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.

Tanggal atau versi data sumber: 2026-05-30T04:04:17Z.

Catatan pembacaan sumber
  • Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
  • Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.

Dasar informasi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia · Museum dan Galeri Seni Rudana · revisi 29291321 ↗
    Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-05-30T04:04:17Z
  2. Wikidata P625 · Museum dan Galeri Seni Rudana ↗
    Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-10-11T07:27:05Z

Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.

Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.

Baca dokumentasi