Museum Perjuangan Yogyakarta
Museum Perjuangan Yogyakarta (Musiyum Perjuwangan Ngayogyakarta) adalah museum yang memiliki koleksi mengenai perjuangan bangsa Indonesia. Museum ini terletak kurang lebih 2 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Kebudayaan (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Museum Perjuangan Yogyakarta dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Brontokusuman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Museum Perjuangan Yogyakarta
- Lokasi
- Brontokusuman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q12499660; ID914040
- Klasifikasi sumber
- kebudayaan · nomor ID914040
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: kebudayaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Museum Perjuangan Yogyakarta (Musiyum Perjuwangan Ngayogyakarta) adalah museum yang memiliki koleksi mengenai perjuangan bangsa Indonesia. Museum ini terletak kurang lebih 2 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Saat ini, Museum Perjuagan Yogyakarta berada dalam naungan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Arti dan makna bangunan
Bangunan Museum Perjuangan secara keseluruhan memiliki arti dan makna sesuai dengan tujuan bangunan didirikan. Bangunan gedung berbentuk bulat silinder dengan garis tengah 30 meter dan tinggi 17 meter. Bangunan ini merupakan perpaduan bentuk bangunan model zaman Romawi Kuno dengan bangunan model timur, yang dinamai ronde tempel.
Di bagian kiri dan kanan pintu masuk museum terdapat hiasan makara berbentuk binatang laut. Bagian atap gedung berbentuk topi baja model Amerika dengan hiasan puncak lima buah bambu runcing yang berdiri tegak di atas bulatan dunia. Sedang bulatan dunia itu sendiri terletak di atas lima buah trap.
Di bagian atas pintu masuk museum terdapat hiasan berbentuk binatang bersudut delapan dengan peta kepulauan Indonesia di tengah-tengahnya. Di bawahnya ada candrasengkala ciptaan R.M Kuswaji Kawindro Susanto yang berbunyi: "Anggatra Pirantining Kusuma Nagara". Suryasengkala memiliki arti tahun pendirian museum yaitu 1959.
Di bagian depan pintu masuk museum terdapat trap berjumlah 17 buah. Kemudian daun pintu masuk berjumlah 8 buah. Jendela pada sekeliling dinding luar museum dipisahkan oleh pilar yang dihias ukiran lung-lungan menyerupai api yang tak kunjung padam berjumlah 45 buah. Selain itu juga dilengkapi dengan 10 patung kepala pahlawan nasional serta 37 relief sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak zaman pergerakan nasional sampai dengan pemulihan kedaulatan tahun 1950.
Bentuk bangunan tersebut secara keseluruhan mengandung arti simbolis bahwa Kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan bangsa Indonesia sendiri, bukan hadiah dari bangsa lain, masyarakat Indonesia adalah masayarakat yang adil makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan jumlah trap, daun pintu dan jendela melambangkan tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan. Hiasan pilar pemisah jendela ini memiliki arti simbolis semangat bangsa Indonesia yang tak pernah pudar dalam memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan melaksanakan pembangunan menuju masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Pengelolaan
Tahun 1961 - 1963, Museum Perjuangan Yogyakarta dikelola oleh Panita Setengah Abad Kebangkitan Nasional di Yogyakarta. Pada saat ini museum dibuka untuk umum dan terbuka bagi kunjungan masyarakat.
Tahun 1963 - 1969, di karenakan pendanaan museum ditutup untuk umum. Urusan perawatan gedung dan koleksi museum diserahkan kepada Museum Angkatan Darat waktu itu berkedudukan di Ndalem Brontokusuman, tepat di belakang Museum Perjuangan.
Tahun 1970 - 1974, museum masih tertutup untuk umum. Pada masa ini Museum Perjuangan Yogyakarta dalam pengawasan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta c.q. Inspeksi Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Yogyakarta.
Tahun 1974 - 1980, museum tertutup untuk umum. Pada tahun 1974 Museum Perjuangan Yogyakarta oleh Pemerintah Daerah DIY diserahkan kepada Museum Sonobudoyo untuk dikelola sebagai bagian dari Museum Sonobudoyo. Pada masa ini pengelolaannya berada di bawah Bidang Permuseuman Sejarah dan Kepurbakalaan (PSK) Kanwil Depdikbud Prop.Yogyakarta. Selanjutnya oleh PSK dilakukan pemugaran.
Tahun 1980 - 1997, museum berada di bawah pengelolaan Museum Sonobudoyo.Tanggal 30 Juni 1980 museum mulai dibuka untuk umum di bawah Museum Negeri Sonobudoyo/Direktorat Permuseuman Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan dipimpin oleh seorang koordinator.
Tahun 1997 - sekarang, museum berada di bawah pengelolaan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.Tanggal 5 September 1997 Museum Sonobudoyo menyerahkan pengelolaan Museum Perjuangan kepada Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Tanggal 27 Mei 2006, Museum Perjuangan Yogyakarta rusak akibat gempa dan ditutup untuk umum. Tahun 2007 Museum Perjuangan Yogyakarta diadakan pemugaran dan dibuka
untuk umum bulan Juli 2008.
Pada bulan Juli Tahun 2008 di Museum Perjuangan juga ditempatkan koleksi-koleksi sejarah Persandian Indonelia di lantai bawah dan lebih dikenal Museum Sandi yang dikelola oleh Lembaga Sandi Negara.
Pada 1 Agustus 2024, IHA menetapkan tarif masuk museum sebesar Rp 3.000 pada anak, dewasa Rp 5.000, dan WNA Rp 25 ribu.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Riwayat dalam arsip sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Sejarah
Dalam rangka peringatan setengah abad kebangkitan nasional, di Yogyakarta pada tahun 1958 telah dibentuk sebuah panitia yang diberi nama "Panitia Setengah Abad Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta". Panitia tersebut diketuai oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan beranggotakan kepala-kepala jawatan, wakil-wakil dari kalangan militer dan polisi, pemimpin-pemimpin partai dan organisasi dari segala aliran dan keyakinan yang tergabung dalam Panitia Persatuan Nasional (PPN), kaum cerdik cendekiawan dan karya.
Pada tanggal 20 Mei 1958, di halaman Gedung Agung, Yogyakarta diadakan upacara peringatan setengah abad kebangkitan nasional. Selain itu juga dilakukan rangkaian kegiatan antara lain kerja bakti, gerakan menambah hasil bumi, mengumpulkan bingkisan untuk dikirim kepada kesatuan-kesatuan yang sedang berjuang menumpas pemberontakan, serta mengadakan ziarah ke makam para pahlawan nasional. Meski demikian, panitia merasa ada sesuatu yang kurang. Oleh karena itulah
muncul gagasan Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku ketua Panitia Setengah Abad Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengadakan suatu peninggalan kepada generasi mendatang.
Seusai upacara tanggal 20 Mei 1958, diadakan rapat panitia. Rapat berhasil membentuk Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional yang anggotanya terdiri dari anggota Dewan Pimpinan Panitia Peringatan Setengah Abad Kebangkitan Nasional Yogyakarta. Sebagai tempat berdirinya monumen Sri Sultan Hamengkubuwana IX memberikan sebagian halaman Ndalem Brontokusuman.
Adapun susunan dari panitia tersebut, yaitu:
Ketua: Sri Sultan Hamengkubuwana IX
Wakil Ketua I: Sri Paku Alam VIII
Wakil Ketua II: Moh. Djamhari (EYD Moh. Jamhari)(anggota DPD DIY)
Wakil Ketua III: Letkol Joesmin (EYD: Letkol Yusmin) (Kepala Staf Resimen Infantri 13)
Wakil Ketua IV: Mayor R.M Hardjokoesoemo (EYD: Mayor R.M Harjokusumo) (Kom. KMK Yogyakarta)
Wakil Ketua: Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo (EYD: Sudarisman Puwokusumo) (Kepala Daerah Kota Praja Yogyakarta)
Sekretaris: R. Soetardjo (EYD: Sutarjo) (Kepala Japendi Yogyakarta)
Anggota:
Kombes R. Soemarsono (EYD: Kombes. R. Sumarsono) (Kepala Polisi DIY)
K.R.T Kertoprodjo (EYD: K.R.T Kertoprojo) (Kepala Jawatan Keuangan DIY)
R. Rio Darmoprodjo (EYD: R. Rio Darmoprojo) (Kepala Jawatan Sosial DIY)
R. Mangoenwasito (Kepala Djawatan PP dan K. DIY)
Prodjosudono (Kepala Djawatan Penerangan Yogyakarta)
Lets. Soejoedi (Ketua BKSPM DIY)
Soesila Prawirosoesanto (Angggota PPN dari Partai Nasional Indonesia)
Bismo Wignyoamidjojo (Anggota PPN dari Partai Komunis Indonesia)
S. Mangoenpuspito (Anggota PPN dari partai Masyumi)
R.W. Probosoeprojo (Anggota PPN dari Partai Nasional Indonesia)
Winoto (Anggota PPN dari PRI)
Ds. SP. Poerbowijogo (Anggota PPN dari Partai Kristen Indonesia)
Ibnoe Moekmin (Anggota PPN dari Partai Syarikat Islam Indonesia)
Daljoeni (Anggota PPN dari Partai Indonesia Raya)
Prodjokaskojo (Anggota PPN dari Partai Indonesia Raya)
Ny. Sahir Nitihardjo (Ketua POWJ)
K.R.T Labaningrat (Sekretaris I Pem. Yogyakarta)
Prof. Ir. Soewandi (Ahli Bangunan dari Universitas Gadjah Mada)
R.M. Srihandojokoesoemo (Ahli Kebudayaan)
Soedharso Pringgobroto (Ahli Kesenian dari Jawatan PP dan K DIY)
Kepala Perwakilan Jawatan Kebudayaan PP dan K
Selanjutnya untuk membahas apa dan bagaimana monumen itu kelak, panitia monumen setengah abad kebangkitan nasional membentuk panitia khusus. Karena jumlah anggota dari panitia ini berjumlah sembilan orang, maka sering disebut dengan Panitia Sembilan. Adapun susunan panitia sembilan tersebut adalah sebagai berikut:
Ketua: Soenaryo Mangoenpoespito
Sekretaris: Soetardjo
Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo
Soenito Djojosoegito
Ny. Sahir
Bismo Wignjoamidjojo (EYD: Bismo Wignyoamijaya)
Daljoeni
Fadlan AGN
R. W. Probosoeprodjo (EYD: R. W. Probosupraja)
Mangoenwarsito
Pada tanggal 22 Mei 1958 panitia khusus mengadakan rapat di gedung Japendi (Jawatan Penerangan). Rapat membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kepanitiaan, arti penting monumen, letak monumen, bentuk monumen, sumber dana, dan rencana kerja. Pada tanggal 7 Juli 1958, dalam rapat pleno yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX panitia monumen setengah abad kebangkitan nasional menyetujui apa yang telah direncanakan dan dikerjakan oleh panitia khusus. Untuk merealisasikaimya, maka dalam rapat tersebut dibentuk dua panitia kecil.
Adapun susunan kepanitiaan tersebut sebagai berikut:
Panitia Teknis, yang terdiri dari:
Ketua: Prof. Ir. Soewandi
Sekretaris: diambilkan personel dari Djapendi, dan juga berkantor di Japendi.
Anggota: Bismo Wignyoamidjojo dan Winoto
Panitia Keuangan, yang terdiri dari:
Ketua: Soenarjo Mangoenpoespito (EYD: Sunaryo Mangunpuspito)
Anggota: diambilkan personel dari Resimen Infantri 13, Ds. S.P. Purbowijogo
Rapat juga menunjuk Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo untuk menghubungi pengurus/panitia yang dulu pernah dibentuk untuk mengambil alih pekerjaan mereka dan diminta supaya menunjuk sekarang wakilnya untuk duduk dalam Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional.
Perlu disampaikan bahwa di Yogyakarta sejak tanggal 2 Desember 1952 telah dibentuk panitia sementara yang bermaksud merencanakan berdirinya sebuah museum perjuangan yang akan digunakan untuk menyimpan dan memelihara benda-benda yang dipergunakan oleh rakyat Indonesia pada masa perjuangan kemerdekaan.
Adapun susunan kepanitiaan pada waktu itu adalah
Ketua: Sri Paku Alam VIII
Wakil Ketua: Prof. Mr.A.G. Pringgodigdo
Sekretaris: I. Hutauruk
Bendahara: R.M. Dryono
Kol. Bachrun, Overste Sarbini
Pemb. Komisaris Besar Polisi Sudjono Hadipranoto
R. Patah
Selanjutnya Panitia Sementara Museum Perjuangan menyerahkan barang-barang yang berhasil dikumpulkannya, antara lain berupa:
Barang-barang berupa pakaian dan lain-lain yang dipakai oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman ketika bergerilya.
Tas yang dipergunakan Drs. Mohammad Hatta ketika perundingan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda.
Barang-barang berupa senapan, juga pedang dari Aceh
Uang dengan jumlah beberapa ratus rupiah
Uang yang dijanjikan oleh Presiden Soekarno sebanyak Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) dengan catatan supaya panitia monumen berhubungan langsung dengan dia
Sejak saat itu kata Museum Perjuangan mulai digunakan lagi, dan menggeser kepopuleran kata Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional. Berita-berita yang muncul di koran-koran juga mendorong perubahan penyebutan dari Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional menjadi Museum Perjuangan.
Karena itulah, pada tanggal 14 Mei 1959 Museum Pusat TNI AD menghubungi Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional di Yogyakarta dengan mengutus Kapten Kamari Sampurno untuk mengadakan pembicaraan dengan Soetardjo selaku Sekretaris Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional di Yogyakarta.
Dalam rapat pleno keempat tanggal 19 Juni 1959, ketua panitia teknik Prof. Ir. Soewandi memberikan penjelasan tentang rencana dan bentuk bangunan. Ide bentuk bangunan muncul dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Museum akan berbentuk bulat, sedang ornamen-ornamen akan diambilkan dari macam-macam candi.
Terkait dengan masalah permohonan dana ke pemerintah pusat, ditunjuk Soetardjo (Kepala Djapendi Yogyakarta) selaku Sekretaris Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional. Hasilnya pemerintah RI sanggup memberikan dana Rp 8.000.000, serta menyanggupkan diri hadir dalam peringatan 10 tahun Yogya Kembali.
Pada tanggal 29 Juni 1959 di Gedung Negara Yogyakarta (Gedung Agung) diadakan peringatan 10 tahun Yogya Kembali yang dihadiri oleh tokoh-tokoh selama Agresi Militer Belanda II. Sebagai wakil pemerintah pusat hadir Wakil Perdana Menteri I Mr. Hardi yang mewakili Perdana Menteri Ir. Djuanda yang waktu itu sedang berada di luar negeri. Berkenan memberikan sambutan dalam acara tersebut antara lain Kepala Daerah dan Ketua DPRD Siswosoemarto dan Wakil Perdana Menteri I Mr. Hardi. Dalam sambutannya, Wakil Perdana Menteri I Mr. Hardi, mewakili pemerintah menyatakan persetujuannya terhadap pendirian Museum Perjuangan di Yogyakarta.
Pada tanggal 1 Juli 1959 bertempat di Gedung Wilis, Kepatihan, Yogyakarta, diadakan rapat pleno yang kelima. Rapat dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Dalam rapat tersebut berhasil dibentuk seksi-seksi beserta anggota. Adapun seksi-seksi tersebut antara lain:
Seksi l (Pembangunan Gedung Museum)
Anggota: Soedarman
K.R.T. Mertosono
K.R.T. Mertopuro
Dr. Sahir Nitihardjo
Winoto
Seksi II (Pengumpulan Barang-barang dari pihak sipil)
Ketua: Darmosugito
Anggota: I. Hutauruk
Wakil dari Sonobudoyo
Soetardjo
Soesilo Prawirosusanto
Soenito Djojosoegito (EYD: Sunito Joyosugito
Seksi III (Pengumpulan Barang-barang dari pihak militer)
Ketua: Kapten Kamari Sampurno
Anggota: Dari Resimen Infantri 13
Dari KMK Jogjakarta
Seksi IV (Usaha sesudah Museum Jadi dan dibuka)
Ketua: AZ. Djojoaminoto
Anggota: S. Mangunpuspito
K.R.T. Kertoprodjo
Seksi V (Relief)
Ketua: Ny. Sahir Nitihardjo
Anggota: Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo
R. W. Probosoeprodjo
Soemardjo, L. E
Joemadi
Seksi VI (Administrasi Keuangan)
Ketua: S. Mangun Puspita
Anggota: AZ. Djojoaminoto (EYD: AZ. Joyoaminoto)
Seksi VII (Penerangan dan Propaganda)
Ketua: Soetardjo
Anggota: Sdr. Prodjosudono
Toekidjo Handojo (EYD: Tukijo Handoyo)
Soedomo Bandjaransari
Laporan pelaksanaan tugas seksi-seksi tersebut disampaikan dalam rapat pleno tanggai 26 Juli 1959. Dengan mempertimbangkan masukan dan laporan-laporan dari tiap seksi maka ditetapkan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1959 dilakukan pemasanan patok pertama kali. Upacara pemasangan patok pertama dilakukan halaman ndalem Brontokusuman Yogyakarta. Upacara ini berlangsung tepat 12.00 WIB usai upacara resmi di Gedung Negara Yogyakarta (Gedung Agung) selesai. Hadir dalam acara tersebut antara lain para pembesar sipil maupun militer beserta tamu undangan. Karena Sri Sultan Hamengkubuwana IX sedang menjalani tugasnya di tempat lain maka pemasangan patok pertama dilaksakan oleh Sri Paku Alam VIII. Dengan demikian sudah dapat dipastikan tanda di mana gedung Museum Perjuangan Yogyakarta nantinya akan dibangun.
Pada tanggal 21 Agustus 1959 diadakan rapat pleno yang ke tujuh. Rapat ini dipimpin oleh Ketua Panitia Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan bertempat di Gedung Wilis, Kepatihan, Yogyakarta. Dalam rapat tersebut Sri Sultan Hamengkubuwana IX melaporkan hasil kunjungannya selama di Jakarta, antara lain keberhasilannya menemui Perdana Menteri Ir. Djuanda dan Menteri Keamanan Nasional Letnan Jenderal A.H. Nasution.
Mengenai uang Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah) dari pemerintah pusat akan diatur dalam 3 termin, yaitu:
Termin pertama: tahun 1959 sebesar 3,5 juta.
Termin kedua: tahun 1960 sebesar 2,5 juta.
Termin ketiga: tahun 1961 sebesar 2 juta.
Pada tanggal 1 September 1959 diadakan pertemuan antara Seksi I (Pembangunan Gedung Museum) dengan para pemborong yang datang dari berbagai kota besar di Jawa seperti dari Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Malang dan Yogyakarta. Pertemuan tersebut diadakan di ruang Perpustakaan Djapendi. Penjelasan mengenai gambar proyek gedung museum dan cara-cara memasukkan penawaran diberikan oleh Soedarman.
Setelah melalui pemikiran, perhitungan biaya dan memasukkan penawaran, maka pada tanggal 28 September 1959 bertempat di Japendi, diadakan pertemuan pelelangan gedung Museum Perjuangan yang dihadiri oleh para pemborong yang telah memasukkan penawaran. Surat-surat penawaran dibuka, penawar tertinggi adalah E.I.C (Indonesian Engineering Corporation) dengan penawaran mendekati Rp 7.000.000. Dengan demikian I.E.C. merupakan pemenang dalam lelang pembangunan Museum Perjuangan. Surat pemberian pekerjaan dan kontrak telah diselesaikan oleh ketua direksi Soedarman (Kepala Djawatan Gedung-gedung Negeri di Yogyakarta).
Sebagai awal pembangunan gedung Museum Perjuangan, pada tanggal 5 Oktober 1959, bertepatan dengan Hari Angkatan Perang, dilakukan pencangkulan pertama. Kegiatan itu dilaksanakan setelah usai upacara peringatan hari Angkatan Perang di Makam Pahlawan Kusuma Negara Semaki, Yogyakarta. Upacara pencangkulan pertama berlangsung di ndalem Brontokusuman, dengan didahului kata pembukaan oleh sekretaris panitia Soetardjo, disusul dari direksi yang melaporkan jalannya pelelangan. Yang ketiga adalah dari pemborong yang disampaikan oleh Poegoeh (EYD: Puguh) dari I.E.C.selanjutnya pembacaan doa oleh Kyai Haji Badawi.
Akhirnya Sri Paku Alam VIII selaku Wakil Kepala Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta berkenan memberikan amanatnya. Selanjutnya para hadirin dipersilahkan menuju ke halaman muka mengelilingi patok yang teiah dipancangkan tanggal 17 Agustus 1959. Ayunan cangkul pertama dilakukan oleh Paku Alam VIII selaku Wakil Kepala Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta bersama para pembesar sipil, militer, polisi dan lain-lain. Dengan selesainya upacara pencangkulan pertama ini, pembangunan bangunan gedung museum dimulai.
Sesuai dengan laporan sekretariat dan seksi V (relief) pada sidang pleno ke sembilan tanggal 7 April 1960, Panita Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional di Yogyakarta telah membuat dua macam sayembara yaitu:
Hiasan Puncak gedung Museum
Kesatuan Patung Gerilya di muka Gedung Museum
Menurut rencana, sayembara ini akan ditutup tanggal 30 Juni 1960, tetapi mengingat ada beberapa kiriman naskah sayembara yang tidak sampai kepada alamat yang dituju (kembali) maka atas persetujuan rapat pleno, penutupan sayembara diundur sampai dengan tanggal 31 Juli 1960.
Pada permulaan bulan Agustus 1960, setelah diadakan pemeriksaan, ternyata terdapat 44 gambar yang memenuhi syarat. Gambar-gambar tersebut meliputi gambar hiasan puncak dan kesatuan patung gerilya. Menurut hasil pemeriksa panitia ahli selaku juri, tidak ada gambar yang memenuhi keinginan panitia, hingga tidak ada hadiah pertama yang dapat diberikan. Untuk sayembara hiasan puncak menurut penilian juri hanya ada satu yang mendekati keinginan panitia yaitu gambar yang berjudul "Purna Swaraj". Gambar inilah yang dinilai no. 2 dan dapat dipakai meski harus dengan beberpa perubahan. Sebagai penghargaan kepada penciptanya diberikan uang sebesar Rp 20.000,- (dua puluh ribu rupah). Untuk gambar Kesatuan Patung Gerilya hanya dapat hadiah sebesar Rp 5.000,- (lima ribu rupiah) kepada gambar yang berjudul "Mara Hanung".
Selanjutnya kepada F. A. Sutjipto, pencipta gambar hiasan puncak tersebut diminta menyempurnakan hasil kerjanya dengan petunjuk dari panitia ahli, yang pelaksanaannya diserahkan kepada Katamsi sebagai panasehatnya.
Disamping kesibukan menyelesaikan pembangunan gedung museum di Brontokusuman, kesibukan yang lain adalah pembuatan relfef, hiasan puncak dengan ornamen-ornamen gedung Museum perjuangan. Relief dibuat di desa Karangwuni, yang berada di beberapa kilometer di sebelah utara kota Yogyakarta. Tepatnya di rumah Edhi Soenarso yang diserahi tugas menyelesaikan relief dan patung-patung kepala para Pahlawan Kemerdekaan. Sedangkan hiasan puncak dibuat di sebelah timur kota, Mujamuju, Umbulharjo, Yogyakarta sebelah timur kota Yogyakarta.
Mengenai Pahlawan Nasional yang dibuat patung kepala ialah yang diambil tokoh-tokoh nasional yang kepahlawannya telah disahkan oleh Pemerintah. Menurut rencana ada 11 patung kepala pahlawan nasional yang akan dibuat tetapi berhubung hingga saat museum akan segera dibuka panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan mengalami kesulitan untuk mencari gambar Sisingamangaraja XII, maka terpaksa baru 10 buah patung kepala yang dibuat.
Karena banyaknya materi relief dan patung yang perlu diselesaikan maka diperlukan pengerahan tenaga para pelukis, pemahat dan pematung. Pembuatan relief dan patung dipimpin oleh Edhi Soenarso dibantu oleh guru-guru ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) dan pemahat, pematung yang tergabung dalam PIM (Pelukis Indonesia Muda) antara lain Soedarso, Abdul Salam, Hendrodjasmoro, Saptoto, Soetopo dan Boediani. dan SIM (seniman Indonesia Muda).
Disamping itu masih terdapat pelaksana yang terdiri dari 20 orang pokok dan 20 orang pembantu. Adapun yang membuat rencana sket selain anggota-anggota staf sendiri, juga mendapat sumbangan pikiran dari seniman-seniman lain seperti Suromo (SIM), Handrijo (PIM), Abdul Sidik (bekas siswa ASRI), Abdul kadir, Murtihadi dan Sindusawarno (Tamansiswa). Pembuatan relief mulai dikerjakan bulan Oktober 1960 dan pada pertengahan bulan April 1961 sudah dapat dipasang di dinding gedung museum.
Hiasan puncak merupakan sebuah proyek besar dengan ukuran dasar 3 meter dan tinggi 7 meter, maka pengerjaannya tidak dapat dikerjakan sekaligus, dan dibagi menjadi 3 bagian. Untuk membuat dasarnya dibutuhkan tanah liat kurang lebih seberat 11 ton dan gibs untuk cetakannya sebanyak 6 ton. Jika gibs cetakan telah selesai baru dibawa ke ndalem Brontokusuman untuk diatur di atas atap gedung museum.
Menurut keterangan pimpinan pembangunan gedung museum Soerodjo dari NV I.E.C. yang dibantu oleh Djoko Soenarso bersama teman-temannya, dijelaskan bahwa pelaksanaan pembangunan yang dianggap sukar adalah pengecoran koepeldak dan hiasan puncak. Potongan-potongan cetakan dari gibs mulai dinaikkan ke atas atap gedung museum. Setelah diatur sedemikian rupa baru masuk tahap pengecoran dengan beton yang dilakukan oleh I.E.C.. Menurut perhitungan bahwa jika seluruh hiasan puncak selesai dicor dengan beton maka beratnya mencapai kurang lebih 15 ton.Hal itu tidak perlu dikhawatirkan karena kekuatan atap dirancang hingga 45 ton.
Pembuatan proyek hiasan puncak ini diselenggarakan oleh murid-murid SGA III Prabangkara di bawah pimpinan Prawito, Saptoto dan Hendrodjasmoro. Selain hiasan puncak oleh Prabangkara juga dibuat relief, makara dan candrasengkala. Relief dalam hal ini merupakan ornamen perhiasan tiang-tiang dan mengelilingi dinding museum dengan mengambil motif api. Jumlah Makara yang dibuat dua buah dan ditempatkan di kanan dan kiri trap pintu masuk.
Candra Sengkala di atas pintu masuk dengan tulisan yang berbunyi "Anggatra Piriantining Kusuma Negara" yang memberi catatan 1959. Pencipta dari Candra Sengkala ini adalah R.M Kawindra Susanto dan pengecoran dilakukan kerjasama dengan NV.I.E.C. Setelah pembangunan Museum Perjuangan Yogyakarta mencapai tahap akhir, maka diadakanlah upacara pemasangan batu terakhir yang dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX selaku Ketua Panita Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional pada tanggal 29 Juni 1961 pada jam 19.00 WIB.
Setelah upacara pemasangan batu terakhir selesai, dilanjutkan upacara penyerahan gedung oleh Wakil NV I.E.C. yaitu Sdr. Poegoeh kepada Sri Sultan Hamengkubuwana IX selaku Ketua Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional. Setelah upacara pemasangan batu terakhir selesai dilaksanakan, maka anggota panitia mengadakan rapat pleno yang ke sepuluh bertempat di ruang ndalem Brontokusuman. Dalam rapat tersebut selain diperdengarkan laporan dan seksi-seksi, juga dibicarakan hal-hal yang belum selesai terkait dengan pembukaan museum untuk umum.
Hasil keputusan yang disampaikan pada akhir rapat ialah pengunduran jadwal pembukaan Museum Perjuangan Yogyakarta yang semula akan diadakan pada tanggal 6 Juli 1961 lalu menjadi tanggal 5 Oktober 1961. Jadwal pembukaannya bertepatan dengan peringatan Hari Angkatan Perang. Hal itu dengan pertimbangan, antara lain:
Persiapan interior museum belum selesai.
Diselenggarakannya Pekan Raya Dwi Windu Kemerdekaan RI dari tanggal 6 Juli -24 Agustus 1961.
Adanya pertunjukan Ballet Ramayana di Prambanan, hingga suasana tidak menguntungkan untuk membuka museum untuk umum.
Meski demikian, rencana tersebut juga tidak dapat terlaksana karena suatu hal. Akhirnya museum berhasil dibuka untuk umum pada tanggal 17 November 1961 oleh Sri Paku Alam VIII melalui sebuah upacara pembukaan.
Dari uraian di atas, secara ringkas proses pembangunan Museum Perjuangan Yogyakarta dapat disebutkan sebagai berikut:
Pemasangan Patok pertama tanggal 17 Agustus 1959 oleh Sri Paku Alam VIII sebagai tanda tempat akan dibangunnya Museum Perjuangan Yogyakarta.
Pencangkulan pertama tanggal 5 Oktober 1959 oleh Sri Paku Alam VIII sebagai tanda dimulainya pembangunan Museum Perjuangan Yogyakarta
Pemasangan batu terakhir tanggal 29 Juni 1961 oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX, sebagai tanda berakhirnya pembangunan Museum Perjuang Yogyakarta.
Upacara Pembukaan Museum tanggal 17 November 1961 oleh Sri Paku Alam VIII sebagai tanda dibukanya Museum Perjuangan Yogyakarta untuk umum.
Setelah museum dibuka untuk umum selanjutnya museum dikelola langsung oleh panitia setengah abad kebangkitan nasional di Yogyakarta. Meski demikian secara operasional pengelolaan Museum Perjuangan ditangani oleh Jawatan Penerangan Daerah Istimewa Yogyakarta (Japendi). Oleh karena pengelolaan museum ditangani oleh sebuah panitia dan bukan sebuah yayasan yang dibentuk untuk menanganinya, maka kegiatan Museum Perjuangan Yogyakarta mengalami pasang surut. Bahkan sempat tutup beberapa waktu lamanya.
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Museum Perjuangan Yogyakarta. Revisi 29857213. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29857213. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Museum Perjuangan Yogyakarta sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-17T23:38:42Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Museum Perjuangan Yogyakarta · revisi 29857213 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-17T23:38:42Z
- Wikidata P625 · Museum Perjuangan Yogyakarta ↗Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-10-11T09:34:43Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.