Pura Meru Lombok
Pura Meru Lombok adalah sebuah pura yang dibangun pada tahun 1720 dan merupakan salah satu pura Hindu Bali tertua di Pulau Lombok. Pura ini terletak di Kecamatan Cakranegara, Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram.
- Jenis objek
- Kompleks
- Fungsi
- Keagamaan (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Pura Meru Lombok dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Bali, Indonesia. Konteks Indonesia didukung keterangan wilayah atau kategori sumber, serta uraian arsitektur yang diperiksa; tidak menyatakan asal tradisi yang eksklusif.
- Nama utama
- Pura Meru Lombok
- Lokasi
- Bali, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q1912772; ID4646946
- Klasifikasi sumber
- keagamaan · nomor ID4646946
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas kompleks arsitektur. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Pura Meru Lombok adalah sebuah pura yang dibangun pada tahun 1720 dan merupakan salah satu pura Hindu Bali tertua di Pulau Lombok. Pura ini terletak di Kecamatan Cakranegara, Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram. Pura ini sangat sakral dan menjadi kebanggaan warga Lombok, dan sangat cocok untuk wisata sejarah dan religi. Mengunjungi Pura Meru ini tidak dipungut biaya, dan pengunjung cukup memberi donasi seikhlasnya serta dapat dikunjungi mulai dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore WIT,
Di halaman pura terdapat tetabuhan kayu yang berfungsi untuk memanggil atau mengundang masyarakat untuk melaksanakan kegiatan, seperti upacara agama atau festival kebudayaan. Pura Meru ini memiliki tiga bagian, pada halaman barat terdapat rumah “kulkul” atau kentongan, pada halaman tengah terdapat dua buah bangunan besar berundak yang berfungsi untuk menyusun sesaji untuk upacara dan sembahyangan. Sedangkan pada sebelah timur terdapat tiga buah menara dengan susunan atap yang khas dan unik, yakni sebelas susun pada menara tengah dan sembilan susun pada menara kiri dan kanan. Pura ini juga dijadikan simbol alam semesta dan penghormatan kepada tiga dewa utama umat Hindu, yakni Brahma, Wishnu, dan Siwa.
Di seberang Pura Meru ini, terdapat Taman Mayura yang memiliki kolam mengelilingi sebuah bangunan di tengahnya. Bangunan tersebut dinamakan Bale Kembang yang berfungsi untuk mengadili suatu perkara pada masa penjajahan Belanda. Dulunya, taman ini disebut dengan Taman Kelepug. Nama Kelepug diambil dari suara jatuhnya air di telaga taman tersebut. Sedangkan Mayura sendiri berarti Burung Merak, sebab dulunya banyak berkeliaran burung merak di sekitar kolam.
Deskripsi
Menara dari pura ini berbentuk limas dengan atap tumpang atau bersusun dan akan semakin mengecil di bagian puncaknya. Model atapnya merupakan simbolisasi tingkatan lapisan alam yaitu bhuana agung (alam besar atau makrokosmos) dan bhuana alit (alam kecil atau mikrokosmos), dari bawah ke atas.
Meru Siwa memiliki ukuran lebih tinggi dibandingkan dua meru lainnya. Berdiri di atas pondasi bata setinggi 3 meter dengan ukuran 5 meter x 5 meter, Meru Siwa menjulang setinggi 18,26 meter, beratap ijuk dan bersusun 11 lapis, dan diapit oleh Meru Brahma dan Wisnu yang beratap genting dengan tinggi bangunan lebih pendek, sekitar 15 meter dan bersusun sembilan.
Seperti halnya Meru Siwa, pondasi kedua meru ini setinggi 3 meter dengan ukuran 4,3 meter x 4,3 meter. Ketiga meru tersebut juga mewakili tiga gunung yang dianggap suci oleh pemeluk Hindu. Meru Brahma mewakili Gunung Agung di Bali, Siwa mewakili Gunung Rinjani di Lombok, dan Wisnu diwakili oleh Gunung Semeru di Jawa Timur.
Ketiga meru tersebut juga memiliki arti simbol warna yang bermakna. Pada perayaan piodalan (acara untuk mengingat lahir kembalinya pura), setiap meru akan dihiasi dengan kain yang disesuaikan dengan warna yang berbeda. Meru Brahma akan dihiasi dengan warna merah yang berarti api, simbol kematian umat Hindu yang dikremasi menggunakan api.
Meru Siwa menggunakan kain berwarna putih yang merupakan simbol air untuk mensucikan abu hasil kremasi sebelum dibuang ke laut. Sedangkan Meru Wisnu akan dihiasi dengan kain hitam yang melambangkan kegelapan atau kehidupan baru setelah kematian. Meru-meru ini terdapat di halaman jero pura atau disebut juga sebagai utama mandala, satu dari empat bagian dari Pura Meru Cakranegara yang ditandai dengan adanya halaman-halaman luas. Bagian lainnya adalah madya mandala, nista mandala, dan legar mandala.
Setiap bagian tadi diberi pembatas tembok bata merah tanpa plester setinggi 3-4 meter dengan ketebalan mencapai 80 sentimeter. Tiap bagian pada pura dihubungkan dengan pintu bergapura (gelung kori) dan arca raksasa (pemedal alit) pada tengah-tengah tembok pembatas. Pintu-pintu serupa dengan ukuran lebih kecil juga dibuat pada sisi utara-selatan dari tembok pembatas. Termasuk di bagian depan pura, tak jauh dari Kori Agung, sebagai jalur masuk-keluar umat dan turis.
Halaman utama mandala berukuran 42,5 meter x 42,5 meter dan menjadi inti dari Pura Meru Cakranegara. Selain tiga menara, terdapat pula bale dan padmasaran untuk para pemimpin upacara persembahyangan.
Ada juga 29 pondokan mini tiang enam berkelir putih dengan atap ijuk yang berderet dari utara ke selatan di sepanjang dinding pembatas Utama Mandala. Pondokan mini ini dikenal sebagai sanggar, melambangkan 29 banjar di sekitar pura yang ikut membantu pembangunannya di masa lampau. Ketika upacara Pujawali atau Usadha, umat dari 29 banjar akan menghias sanggar mereka di Pura Meru ini.
Di bagian madya mandala yang berukuran sama dengan utama mandala, terdapat bale petandakan dan bale gong. Beberapa pohon cempaka dan kamboja ukuran besar ikut menghijaukan madya mandala ini.
Nista mandala serta lengar mandala posisinya seolah bersatu karena tidak ada tembok pembatas. Kori Agung terletak di lengar mandala dan menjadi penghubung antara madya mandala dan utama mandala. Pura Meru dapat menampung hingga 5.000 umat Hindu di Lombok dan menjadi pusat persembahyangan saat ritual-ritual keagamaan seperti Pujawali, Galungan, dan Kuningan.
Uniknya, di sisi selatan terdapat bangunan Masjid Nurul Falah dengan dua menaranya yang menyembul di antara rimbunan pepohonan sekitar pura. Sebuah jalan kampung berdasar cone block selebar dua meter menjadi pemisah antara masjid dan pura.
Masjid yang kini dibangun ulang berlantai dua itu sudah ada sejak masa raja terakhir Kerajaan Karangasem Mataram, Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem yang memerintah antara 1870-1894. Ia dikenal sebagai pemimpin yang toleran dan menjaga keberagaman. Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem beristrikan perempuan Muslim Sasak, Dinda Aminah yang kemudian berganti nama menjadi Nawangsasih.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Pura Meru Lombok. Revisi 28597925. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 28597925. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Pura Meru Lombok sebagai kompleks dengan lingkup beberapa bangunan atau ruang. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2025-11-22T02:58:55Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Pura Meru Lombok · revisi 28597925 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2025-11-22T02:58:55Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.