Arsitektur.
bagian dari ensiklopedia.online
ARS-R603225279
Adaptasi ensiklopedia kolaboratif · ringkasan berbahasa Indonesia dan teks sumber berbahasa Indonesia. Identitas dan rujukan berasal dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia, nomor ID3225279. Asal dan lisensi uraian
BangunanBengkulu, IndonesiaARS-R603225279

Rumah Fatmawati

Rumah Fatmawati adalah salah satu tempat bersejarah yang berada di Bengkulu, tepatnya berada di Jalan Fatmawati, Kelurahan Penurunan, Kecamatan Ratu Samban. Rumah Fatmawati atau tempat kediaman Fatmawati istri ke-3 Soekarno ini ditetapkan Pemerintah Daerah Bengkulu menjadi aset sejarah.

Dasar informasi:[1]
Bandingkan
Jenis objek
Bangunan
Fungsi
Hunian (kategori penelusuran)
Masa tercatat
Belum diringkas dari riwayat sumber
Kondisi dan status
Kondisi mutakhir belum dinilai
01

Identitas dan tapak

Rumah Fatmawati dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Bengkulu, Indonesia. Konteks Indonesia didukung keterangan wilayah atau kategori sumber, serta uraian arsitektur yang diperiksa; tidak menyatakan asal tradisi yang eksklusif.

Dasar informasi:[1]
Lingkup profil: Artikel sumber mengidentifikasi Rumah Fatmawati sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan. Bangunan lain pada tapak tidak otomatis menjadi bagian dari entitas ini.
Nama utama
Rumah Fatmawati
Lokasi
Bengkulu, Indonesia · Bangunan di Indonesia
Nama lain dalam sumber
Q108934500; ID3225279
Klasifikasi sumber
hunian · nomor ID3225279
Dasar kondisi
Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
02

Ruang dan fungsi

Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: hunian. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.

Dasar informasi:[1]

Membaca arsitektur

Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, ornamen atau relief, susunan ruang, tiang atau struktur penyangga. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.

Dasar informasi:[1]

Deskripsi fisik dalam sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembuka

Rumah Fatmawati adalah salah satu tempat bersejarah yang berada di Bengkulu, tepatnya berada di Jalan Fatmawati, Kelurahan Penurunan, Kecamatan Ratu Samban. Rumah Fatmawati atau tempat kediaman Fatmawati istri ke-3 Soekarno ini ditetapkan Pemerintah Daerah Bengkulu menjadi aset sejarah. Rumah tersebut dilengkapi berbagai ornamen asli, rumah itu berukuran 92 meter persegi dan dibangun ulang sesuai konstruksi aslinya, yaitu berbentuk panggung dan terbuat dari kayu. Perabot yang ada seperti meja rias, tempat tidur, dan mesin jahit adalah peralatan asli. Menurut sejarah, dengan mesin jahit tadi, Fatmawati sempat membuat bendera Merah Putih, yang dikibarkan pada Proklamasi RI 17 Agustus 1945.

Rumah ini bukan hanya bercerita sebuah tempat tinggal kediaman Ibu Fatmawati yang berada di Bengkulu. Sebab, aset sejarah itu lebih bercerita banyak tentang keberadaan Bung Karno pada masa pengasingan, yang lokasinya tak jauh dari rumah tersebut. Rumah ini sempat sekali direnovasi total pada tahun 1990-an. Selebihnya, hanya dilakukan pemeliharaan saja. Dulunya ini adalah rumah tinggal orang tua Fatmawati pada tahun 1915. Kemudian pada tahun 1990-an, rumah ini direhab menjadi museum Fatmawati.

Rumah Fatmawati menerapkan tipologi rumah adat Bumbungan Lima, sehingga arsitektur ini tersusun dengan cara mengekspresikan harmoni dari seluruh aspek rumah adat Bumbungan Lima. Selain penerapan tipologi rumah Bumbunga Lima, rumah Fatmawati mempunyai keunikan ornamen yang mempunyai motif yang berbeda jenisnya. Motif tersebut ialah motif Pucuk Rebung, motif Lebah Bergayut, dan motif Bunga Soraja. Motif ini mempunyai keunikan tersendiri, seperti pada motif Lebah Bergayut yang memiliki makna sikap rela berkorban dan tidak mementingkan diri sendiri, motif Pucuk Rebung mempunyai makna sebuah, pertumbuhan yang kokoh dalam suatu persatuan dan motif Bunga Soraja mempunyai makna selalu bersyukur atas kelebihan maupun kekuranga yang dimiliki. Keunikan ornamen tradisional rumah. Bumbungan Lima dari aspek makna, tata letak, dan motif ukiran harus tetap dilestarikan dan dikembangkan lagi agar ornamen Bumbungan Lima tidak lagi terancam eksistensinya di era sekarang.

Status cagar budaya

Rumah Fatmawati tercatat dalam basis data Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan nama "Rumah Tradisional Melayu/Rumah Fatmawati". Bangunan tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat kabupaten/kota melalui Surat Keputusan Nomor 120 Tahun 2009, tertanggal 4 Juni 2009. Pencatatan ini menempatkan Rumah Fatmawati sebagai bagian dari warisan bangunan bersejarah yang perlu dilindungi dan dilestarikan.

Nilai penting bangunan ini berkaitan dengan sejarah kehidupan Fatmawati di Bengkulu dan ingatan masyarakat terhadap perannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Keberadaan rumah tersebut juga menghubungkan sejarah pribadi Fatmawati dengan masa pengasingan Soekarno di Bengkulu. Karena itu, pelestariannya tidak hanya menyangkut bentuk fisik bangunan, tetapi juga keberadaan benda-benda yang berkaitan dengan kehidupan tokoh tersebut dan informasi sejarah yang menyertainya.

Pada 5 Februari 2020, Presiden Joko Widodo mengunjungi Rumah Fatmawati sebelum meresmikan Monumen Pahlawan Nasional Ibu Agung Hj. Fatmawati Sukarno di Kota Bengkulu. Dalam kunjungan tersebut, presiden melihat koleksi foto keluarga dan mesin jahit yang digunakan Fatmawati untuk membuat bendera Merah Putih yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945. Pada saat itu, rumah tersebut dikelola oleh Yayasan Ibu Fatmawati.

Arsitektur dan ragam hias

Rumah Fatmawati mengadopsi tipologi rumah tradisional Bumbungan Lima yang berkembang di Bengkulu. Penelitian Rizki Adinda Putri dan Agus Dody Purnomo dalam Jurnal Patra pada 2022 mengidentifikasi keserupaan bentuk bangunan museum tersebut dengan rumah tradisional Bumbungan Lima serta penggunaan ragam hias yang berkaitan dengan tradisi arsitektur Melayu.

Tipologi rumah panggung merupakan salah satu ciri arsitektur yang tampak pada bangunan tersebut. Penggunaan bentuk tradisional ini menjadikan Rumah Fatmawati bukan hanya tempat untuk mengenang tokoh sejarah, melainkan juga contoh penerapan unsur arsitektur lokal pada bangunan museum. Bentuk bangunan dan ragam hiasnya memperlihatkan hubungan antara pelestarian ingatan sejarah dengan pengenalan kembali warisan arsitektur daerah.

Penelitian tersebut mengidentifikasi tiga motif utama pada ornamen Rumah Fatmawati, yaitu Lebah Bergayut, Pucuk Rebung, dan Bunga Saroja. Ketiganya merupakan bagian dari ragam hias yang berhubungan dengan tradisi Melayu. Keberadaan ornamen tersebut menunjukkan bahwa unsur dekoratif pada bangunan tradisional tidak semata-mata berfungsi memperindah tampilan, tetapi juga dapat membawa makna simbolis yang diwariskan melalui kebudayaan setempat.

Motif Lebah Bergayut, misalnya, dikaitkan dengan gambaran kehidupan dan sikap rela berkorban. Sementara itu, motif Pucuk Rebung dan Bunga Saroja turut memperlihatkan penggunaan bentuk tumbuhan sebagai sumber inspirasi ragam hias. Dalam penelitian tersebut, ketiga motif dipahami memiliki keterkaitan makna dengan kehidupan dan perjuangan. Penafsiran ini memperlihatkan bagaimana nilai-nilai budaya dapat diwujudkan melalui bentuk, pola, dan penempatan ornamen pada bangunan.

Kajian terhadap ornamen Rumah Fatmawati juga menyoroti pentingnya dokumentasi dan pengenalan ragam hias tradisional kepada masyarakat. Pencatatan bentuk serta makna ornamen dapat membantu memperluas pemahaman mengenai arsitektur tradisional Bengkulu, sekaligus menjaga agar pengetahuan mengenai unsur budaya tersebut tidak hanya tersimpan dalam bangunan, tetapi juga dikenal melalui penelitian dan pendidikan.

Fungsi museum dan pelestarian

Sebagai museum yang berkaitan dengan kehidupan Fatmawati, rumah ini menyimpan benda dan dokumentasi yang membantu pengunjung memahami kehidupan keluarga serta peran tokoh tersebut dalam sejarah Indonesia. Koleksinya mencakup foto keluarga dan sejumlah memorabilia, termasuk mesin jahit yang dikaitkan dengan pembuatan bendera Merah Putih untuk upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Keberadaan benda-benda tersebut memberikan konteks material bagi kisah sejarah yang disampaikan melalui museum.

Nilai sejarah museum tidak hanya terletak pada benda yang dipamerkan, tetapi juga pada hubungan antara koleksi, bangunan, dan peristiwa yang dikenang. Foto keluarga, misalnya, membantu memperlihatkan sisi kehidupan pribadi Fatmawati, sedangkan mesin jahit menghubungkan koleksi museum dengan perannya dalam pembuatan bendera pusaka. Penataan dan penjelasan mengenai benda-benda tersebut dapat membantu pengunjung memahami latar belakang sejarahnya, alih-alih melihatnya hanya sebagai barang peninggalan.

Pelestarian Rumah Fatmawati juga mencakup pemeliharaan karakter arsitektur dan ragam hias tradisionalnya. Perubahan fisik yang tidak memperhatikan bentuk serta unsur bangunan dapat mengurangi nilai informasi yang terkandung di dalamnya. Oleh sebab itu, dokumentasi kondisi bangunan, pencatatan ornamen, dan penyampaian informasi sejarah merupakan bagian penting dalam menjaga nilai warisan budaya rumah tersebut. Kajian arsitektur yang diterbitkan pada 2022 turut menekankan pentingnya mengenalkan ornamen tradisional Bumbungan Lima agar keberadaannya tetap dikenal oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Pendidikan

Pendidikan Fatmawati dimulai saat berusia 6 tahun di sekolah formal Angka II selama satu tahun, yang didirikan oleh organisasi Muhammadiyah. Pada tahun 1930, Fatmawati pindah ke Sekolah Angka I yang dikenal sebagai Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Jalan Peramuan, Kondisi ekonomi orang tua Fatmawati mendorong keluarga mereka untuk pindah ke Palembang ketika Fatmawati berada di kelas empat. Fatmawati kemudian disekolahkan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah di Bukit Kecil.Di sekolah baru, Fatmawati menerima pelajaran tambahan seperti menjahit, mengatur meja makan, dan memasak selain pelajaran umum. Setelah tidak lama tinggal di Palembang, saat Fatmawati duduk di kelas lima, keluarganya pindah ke Curup. Tempat tinggalnya jauh dari kota dan sekolah, ditambah kondisi ekonomi yang kurang baik, membuat Fatmawati tidak bisa melanjutkan sekolah. Pada tanggal 14 Februari 1938, Soekarno tiba di Bengkulu dalam pengasingan bersama istri dan dua anak angkatnya. Hassan Din berkunjung ke rumah Soekarno, saling berbagi pengalaman perjuangan, dan Soekarno menawarkan Hassan Din untuk kembali berkunjung di masa mendatang.

Pernikahan

Pertemuan Fatmawati dengan Soekarno berawal ketika Soekarno diasingkan di Bengkulu. Pada saat elajar diasingkan di Bengkulu, Soekarno mengajar di sekolah kolah Muhammadiyah, dan Fatmawati menjadi salah satu diyah murid di sekolah tersebut. Soekarno melihat Fatmawati indah adalah anak yang pintar dan mampu memikat hati Soekarno. Suatu hari pada tahun 1938, Fatmawati bertemu dengan Soekarno. Malam itu Fatmawati tidak pulang ke Curup, kemudian Soekarno menawarkan Fatmawati untuk bersekolah di Rooms Katholik Vakschool bersama anak angkat Soekarno dan Inggit, yaitu Ratna Juami. anda, Dengan segala pertimbangan, akhirnya Fatmawati juga menyetujuinya dan Fatmawati pun tinggal satu rumah 1978). dengan Soekarno, Inggit Garnasih, dan Ratna Juami. Kehadiran Fatmawati dikediaman Soekarno indah membawa perubahan dalam kehidupan rumah tangga Soekarno dengan Inggit Garnasih. Perlahan-lahan, Cukup Soekarno mulai tertarik dan menaruh hati kepada Fatmawati. Hal itu dirasakan oleh Inggit, Inggit merasakan dan perasaan terdalam Soekarno kepada Fatmawati. Suatu Bukit hari ketika Inggit menanyakan perasaan Soekarno erima kepada Fatmawati, Soekarno membantahnya, tetapi Inggit bisa merasakannya,

Pernikahan Fatmawati dengan Soekarno dimulai pada bulan Agustus 1938, ketika Fatmawati mulai tinggal bersama keluarga Soekarno di Bengkulu. Kedekatan Fatmawati dengan keluarga barunya, terutama dengan Soekarno, semakin erat, di mana Soekarno dianggapnya seperti seorang guru. Meskipun keakraban ini menimbulkan kecurigaan Inggit, yang merasa adanya rasa cinta di antara hubungan guru dan murid, Soekarno menjelaskan bahwa hubungan mereka hanyalah sebagian dari guru dan murid. Akhirnya, Fatmawati memutuskan untuk pindah ke rumah neneknya. Meskipun pindah, pertemuan antara Fatmawati dan Soekarno masih sering terjadi di rumah nenek Fatmawati, di mana Soekarno memberikan pelajaran tambahan bahasa Inggris. Ketika Fatmawati berusia 17 tahun, dia diminta menjadi menantu, dan dia mencari saran dari Soekarno mengenai lamaran tersebut.

Setelah mendengar penjelasan dan pertanyaan Fatmawati, Soekarno terdiam sejenak, kemudian mengungkapkan perasaannya yang selama ini terpendam. Fatmawati memutuskan menerima pinangan Soekarno dengan syarat bahwa Soekarno harus menceraikan Inggit dengan baik-baik karena Fatmawati tidak menerima poligami dan tidak ingin terlibat dalam persaingan antar istri. Syarat yang diajukan oleh Fatmawati tidak menjadi masalah bagi Soekarno, karena Inggit sendiri lebih memilih bercerai daripada menjadi bagian dari poligami. Perjalanan cinta Fatmawati dan Soekarno penuh dengan ketegangan dan romantika pada masa itu. Pada bulan Juli 1943, Fatmawati menerima telegram dari Soekarno dalam bahasa Jepang, yang berisi permintaan agar mereka menikah, diwakili oleh opseter Sarjono, dan Fatmawati segera berangkat ke Jakarta.

03

Pihak dan peran

Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.

Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.

04

Riwayat perubahan

Riwayat dalam arsip sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Sejarah

Rumah ini berdiri di atas tanah 500 meter persegi. Di dalam rumah ini, masih terdapat pakaian asli yang sering dipakai Fatmawati, sedangkan di ruang tamu, terpajang foto-foto Fatmawati bersama dengan Bung Karno serta anak-anak mereka, yaitu Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Di samping itu, tampak pula foto Fatmawati ketika melakukan berbagai kunjungan kenegaraan. Di sebelah pojok kanan ruang tamu terdapat mesin jahit bermerek Singer buatan tahun 1941 yang ia gunakan untuk menjahit Sang Saka Merah Putih. Rumah beraksitektur khas Bengkulu ini merupakan tempat Fatmawati belajar menjahit. Bahkan, menjahit sudah menjadi hobi Fatmawati. Kediaman ibu negara pertama yang lahir pada 5 Februari 1923 ini tak jauh dari rumah Soekarno saat diasingkan di Bengkulu dalam kurun 1938-1942, jaraknya sekitar 200 meter saja.

Tanggal observasi fisik belum dipastikan

Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber

Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.

Dasar informasi:[1]
05

Ukuran dan sistem

Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.

Dasar informasi:[1]

Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.

06

Dokumentasi dan sumber

Edisi sumber dan hak penggunaan

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Rumah Fatmawati. Revisi 30053376. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗

Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.

Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 30053376. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.

Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Rumah Fatmawati sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.

Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.

Tanggal atau versi data sumber: 2026-10-11T03:29:12Z.

Catatan pembacaan sumber
  • Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
  • Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.

Dasar informasi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia · Rumah Fatmawati · revisi 30053376 ↗
    Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-10-11T03:29:12Z

Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.

Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.

Baca dokumentasi