Rumah Pengasingan Bung Hatta
Rumah Pengasingan Bung Hatta merupakan tempat Mohammad Hatta menjalani hukuman pengasingan sebagai tahanan politik selama 6 tahun (1936–1942) di Banda Naira, kini di Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Hunian (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Rumah Pengasingan Bung Hatta dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Maluku Tengah, Maluku, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Rumah Pengasingan Bung Hatta
- Lokasi
- Maluku Tengah, Maluku, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q65213908; ID2752664
- Klasifikasi sumber
- hunian · nomor ID2752664
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: hunian. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, ornamen atau relief, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Rumah Pengasingan Bung Hatta merupakan tempat Mohammad Hatta menjalani hukuman pengasingan sebagai tahanan politik selama 6 tahun (1936–1942) di Banda Naira, kini di Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Ia bersama dengan tokoh nasional lain bernama Sutan Sjahrir juga diasingkan dekat rumah pengasingan Bung Hatta yang sekarang dikenal sebagai Rumah Pengasingan Bung Sjahrir mulai Februari - Maret Tahun 1942.
Pada 2008, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan bangunan Rumah Pengasingan Bung Hatta sebagai cagar budaya dari provinsi Maluku dengan SK Menteri Nomor PM.31/PW.007/MKP/2008. Sampai saat ini, bangunan bercat putih yang berlokasi di jalan dr. Rehatta di kawasan Nusantara ini telah menjadi museum sebagai objek wisata sejarah utama di Banda Naira.
Sekolah Sore
Semasa dalam masa pengasingan Bung Hatta dan Bung Sjahrir membuka sekolah sore yang tepatnya berada di paviliun selatan bangunan ini. Sekolah yang berbentuk kelas kecil terdiri dari tujuh bangku dan meja belajar model lama menghadap sebuah papan tulis kayu. Dalam sekolah sore ini Bung Hatta dan Bung Sjahrir mengajari anak-anak Banda pelajaran aritmetika hingga bahasa Inggris. Syahrir mengajar anak-anak kecil, sedangkan Hatta mengajar anak yang lebih besar.
Untuk menanamkan nilai patriotisme dan nasionalisme, Bung Hatta pernah mengajak anak-anak mengecat perahu dengan warna merah-putih. Sedangkan Syahrir kerap mengajak anak-anak naik perahu ke Pulau Pisang, yang berjarak beberapa kilometer dari Neira sambil mengajari mereka bernyanyi Indonesia Raya. Mereka berdua juga mengajarkan bahwa Teuku Umar dan Diponegoro adalah pahlawan yang berjuang melawan penjajah, bukan pemberontak. Suatu hari, Bung Hatta pernah kedapatan mengecat perahu dengan warna merah-putih tanpa warna biru satu titikpun oleh seorang Belanda yang merupakan pejabat disana. Tapi Bung Hatta berdalih, “Tuan kan tahu sendiri, laut sudah berwarna biru.” Si Belanda tersebut lantas pergi tanpa mengindahkan dalihnya.
Untuk mengenang jasa besar mereka berdua, pulau Pisang diganti namanya menjadi Pulau Sjahrir sementara pulau yang terletak di tenggara Pulau Banda dinamai menjadi Pulau Hatta.
Rutinitas Harian selama Pengasingan
Sepanjang masa pengasingannya di Banda Neira, Hatta menjalani rutinitas harian yang teratur. Ia bangun setiap pukul lima pagi, mandi, lalu melaksanakan salat. Pada pukul enam hingga tujuh pagi, ia membaca berbagai majalah sambil minum kopi tubruk dan sarapan sepotong roti yang diperoleh dari langganan roti milik warga keturunan Arab setempat serta sebutir telur mata sapi, dan biasanya ia membangunkan Sjahrir yang gemar bangun siang sebelum sarapan bersama. Pukul tujuh hingga delapan pagi digunakan Hatta untuk berbincang dengan Sjahrir mengenai berbagai persoalan, sementara pukul delapan hingga dua belas siang ia habiskan untuk belajar dan membaca di antara enam belas peti bukunya; pada waktu itu pula ia kadang mengetik naskah untuk surat kabar Pemandangan dan Batavia, serta memberikan bimbingan kursus tertulis ilmu ekonomi kepada para simpatisannya melalui korespondensi. Setelah menunaikan salat zuhur pada tengah hari, Hatta beristirahat hingga pukul setengah lima sore, kemudian berjalan-jalan menyusuri kebun pala atau pantai hingga pukul setengah enam petang.
Pergaulan dengan Sesama Tahanan Politik
Hatta dan Sjahrir secara rutin mengunjungi rumah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusuma Sumantri, dua tokoh politik yang lebih dahulu diasingkan ke Banda Neira, setiap Sabtu malam. Di rumah Iwa Kusuma Sumantri, keduanya berkenalan dengan Bahalwan, seorang peranakan Arab yang piawai bertutur tentang tafsir Al-Qur'an dan kisah kepahlawanan Nabi meski belum pernah mengunjungi negeri Arab. Sutan Sjahrir, dalam catatan hariannya yang kemudian dibukukan sebagai Renungan dan Perjuangan, mencatat penilaiannya terhadap sikap politik Hatta selama masa pengasingan; menurut Sjahrir, meski dikenal luas sebagai tokoh nonkoperasi yang militan menolak kerja sama dengan pemerintah kolonial, dalam hatinya Hatta sesungguhnya tetap menyimpan kepercayaan terhadap kemungkinan kehidupan politik yang demokratis dalam suasana kolonial. Sjahrir mencatat pula bahwa masa pengasingan di Banda membuat sikap tersebut berubah menjadi lebih pahit dibandingkan sebelumnya. Kabar mengenai pecahnya Perang Dunia Kedua di kawasan Asia Pasifik pertama kali mereka peroleh melalui radio milik Ho Kok Chai, seorang warga keturunan Tionghoa yang menjadi pemilik pesawat radio pertama di Banda Neira.
Karakter Hatta di Mata Warga Banda
Warga Banda mengenal Hatta sebagai sosok yang sangat disiplin terhadap waktu. Ia rutin berjalan-jalan sore setiap Senin hingga Sabtu pada pukul empat hingga lima menyusuri jalan setapak dari rumah menuju masjid, masuk hutan, melintasi kebun pala, hingga ke ujung pantai pulau sebelum kembali. Karena ketepatan waktunya, para pekerja kebun pala setempat menjadikan kemunculan Hatta sebagai penanda waktu pulang kerja, sebab pada masa itu tidak tersedia jam di kebun yang luas tersebut. Menurut kesaksian Des Alwi, anak angkatnya, Hatta juga dikenal tidak bisa berenang dan takut air; ia baru bersedia belajar berenang atas ajakan anak-anak Banda, namun tetap menggulung celana panjangnya hingga selutut dan mengenakan sepatu tenis ketika turun ke laut. Berbeda dengan Sjahrir yang gemar memutar lagu-lagu klasik Barat dari gramofon, Hatta lebih menyukai ketenangan untuk membaca buku dan beberapa kali menegur kebiasaan tersebut.
Kunjungan Kembali Pascakemerdekaan
Pada April 1973, Hatta beserta keluarganya kembali mengunjungi Banda Neira atas undangan Des Alwi, didampingi pula oleh Nyonya Poppy Sjahrir, istri mendiang Sutan Sjahrir. Rombongan menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Ambon dengan pesawat, dilanjutkan dengan pelayaran kapal perang selama sekitar lima belas jam menuju Banda. Kedatangan mereka disambut haru oleh para tetua setempat, dan warga pulau menggelar berbagai pertunjukan kesenian untuk merayakan kepulangan Hatta.
Rumah utama
Rumah utama dari rumah pengasingan ini memiliki sebuah selasar depan seluas 29,25 m² dan selasar belakang seluas 42,25 m², sebuah ruang tamu seluas 36 m², sebuah ruang makan seluas 17,6 m², dan tiga ruang tidur yang masing-masing luas terdiri dari 22,5 m², 19,8 m², dan 19,8 m². Atap bangunan ini masih berupa atap seng berbentuk perisai kuda-kuda dari kayu dengan plafon berupa papan kayu yang ditahan oleh balok kayu. Lantai bangunan ini masih berupa ubin terakota berwarna merah bata dengan ukuran bervariasi. Di bangunan inilah terdapat barang-barang peninggalan Bung Hatta seperti, kacamata, meja kerja, mesin tik, kursi santai, dan lemari berisi sepatu dan pakaiannya.
Paviliun Samping (Paviliun Timur)
Bangunan ini memiliki atap seng berbentuk perisai kuda-kuda dari kayu dengan plafon berupa papan kayu yang ditahan oleh balok kayu. Lantainya masih sama dengan lantai rumah utama yaitu berupa ubin terakota berwarna merah bata dengan ukuran bervariasi. Dua ruangan depan lantainya terbuat dari batu alam berwarna abu-abu sedangkan dua ruangan belakang lantainya terbuat dari semen polos berwarna abu-abu.
Paviliun Belakang (Paviliun Selatan/Sekolah Sore)
Di bangunan inilah Bung Hatta dan Bung Sjahrir membuka sekolah sore bagi anak-anak di Banda Neira. Untuk bagian bangunan sama persis seperti rumah utama tetapi yang membedakan adalah adanya deretan bangku dan papan tulis sebagai tempat mengajar serta tempayan besar berisi air untuk minum.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Riwayat dalam arsip sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Sejarah
Pada 11 Februari 1936, Bung Hatta dan Bung Sjahrir tiba di pulau Banda Neira untuk diasingkan sebagai tahanan politik oleh pihak kolonial Belanda. Menurut pengakuan putri pertama Bung Hatta, Meutia Hatta menjelaskan alasan pihak kolonial Belanda sengaja mengasingkan mereka di tempat yang indah ini (Banda Neira) agar sikap mereka melunak pada pemerintah akan tetapi usaha itu gagal. Karena mereka belum mendapatkan rumah sebagai tempat tinggal disana, keduanya memutuskan untuk sementara tinggal di kediaman Iwa Koesoemasoemantri disana.
Seminggu kemudian, mereka memutuskan untuk pindah ke rumah kosong dari seorang tuan tanah (perkenier) dengan harga sewa seharga f.12,50 (setara Rp 70.000) sebulan. Menurut penuturan putri kedua Bung Hatta, Gemala Hatta menuturkan bahwa rumah tersebut diberi harga murah karena sudah lama kosong dan berhantu tetapi ayahnya tidak ambil pusing dan tetap menyewa rumah tersebut. Setelah beberapa bulan akhirnya Bung Sjahrir memutuskan untuk pisah dan tinggal di rumah yang tidak jauh dari rumah pengasingan Bung Hatta yang sekarang dikenal sebagai Rumah Pengasingan Bung Sjahrir. Pada 1944 bangunan rumah pengasingan ini dibangun ulang karena hancur dibom oleh sekutu pada masa Perang Dunia II.
Di tempat inilah keduanya bertemu dengan seorang tokoh yang nantinya menjadi sejarawan merangkap diplomat kebanggan Banda Neira bernama Des Alwi yang kala itu masih bersekolah kelas 2 di ELS (Europesche Lagere School). Karena kedekatannya, Des Alwi memanggil Bung Hatta dengan sebutan om kacamata dan Bung Sjahrir sampai akhirnya diangkat oleh mereka berdua sebagai anak dan disekolahkan sampai ke luar negeri. Sebelumnya, Bung Hatta diasingkan oleh pihak kolonial Belanda di Boven Digoel, Papua pada 1935 selama setahun. Setelah enam tahun diasingkan disini, Bung Hatta bersama Bung Sjahrir kemudian diasingkan ke Rumah Pengasingan Hatta - Sjahrir di kota Sukabumi, Jawa Barat pada 1 Februari 1942 dalam rangka mempersiapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Masa pengasingan Bung Hatta dan Bung Sjahrir berakhir pada awal 1942 ketika sebuah pesawat amfibi Catalina datang untuk menjemput mereka berdua. Ketika proses pengangkutan ternyata pesawat kelebihan beban, terpaksa akhirnya Bung Hatta merelakan dua peti buku ditinggal dan dititipkan kepada Des Alwi di Banda Neira.
Pada 1972, setelah tidak lagi menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, Bung Hatta sempat kembali mengunjungi rumah ini. Ia disambut bagai anak asli dari pulau tersebut. Banyak pula warga yang menangis ketika Hatta pulang kembali ke Jakarta sama seperti ketika Februari 1942 lalu ketika Bung Hatta dan Bung Sjahrir mengakhiri masa pengasingan di sana.
Awalnya rumah pengasingan ini dirawat oleh seorang laki-laki bernama Decky Baadila atas amanat dan bantuan dari Des Alwi yang kerap dipanggil Om Des oleh orang sana. Setelah Decky meninggal pada 1984, tanggung jawab pemeliharaan rumah tersebut akhirnya jatuh pada adik kandung perempuannya yang bernama Emi Baadila yang kerap dipanggil Oma Emi dengan bantuan upah bulanan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Ternate sebagai biaya penunjang perawatan.
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Rumah Pengasingan Bung Hatta. Revisi 30023016. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 30023016. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Rumah Pengasingan Bung Hatta sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-10-02T20:46:54Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Rumah Pengasingan Bung Hatta · revisi 30023016 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-10-02T20:46:54Z
- Wikidata P625 · Rumah Pengasingan Bung Hatta ↗Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-07-27T04:50:49Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.