Situs Karangkamulyan
Situs Karangkamulyan adalah situs arkeologi yang terletak di Desa Karangkamulyan, Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat. Situs ini merupakan peninggalan dari zaman Kerajaan Galuh. Lokasinya berada di jalan poros Ciamis-Banjar dengan luas 25,5 hektar.
- Jenis objek
- Kompleks
- Fungsi
- Fungsi mengikuti uraian sumber
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Situs Karangkamulyan dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Jawa Barat, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Situs Karangkamulyan
- Lokasi
- Jawa Barat, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q12515570; ID321112
- Klasifikasi sumber
- fungsi yang dibahas sumber · nomor ID321112
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas kompleks arsitektur. Fungsi ruang mengikuti uraian sumber. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Situs Karangkamulyan adalah situs arkeologi yang terletak di Desa Karangkamulyan, Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat. Situs ini merupakan peninggalan dari zaman Kerajaan Galuh. Lokasinya berada di jalan poros Ciamis-Banjar dengan luas 25,5 hektar. Situs ini bercorak Hindu-Sunda. Situs Karangkamulyan menerapkan pola kelipatan tiga dalam susunan bangunannya. Situs ini terletak di kawasan hutan lindung dan dikaitkan dengan pusat pemerintahan Kerajaan Galuh pada masa Prabu Permanadikusumah dan putranya, Ciung Wanara.
Lokasi
Situs Karangkamulyan berada di dalam kawasan hutan lindung dan di antara pertemuan sungai Cimuntur dan Citanduy. Lahan yang dipagar berbentuk bujur sangkar dengan tumpukan batu alami. Bagian tengahnya ada menhir, batu berbentuk lonjong yang pipih, dolmen, dan tumpukan batu-batu kecil. Di sekitar batu ditemukan arca Ganesa, Yoni yang terbelah, dan punden yang rusak. Sekeliling lahan ini terdapat lahan datar yang tidak ditumbuhi oleh rumput dan digunakan sebagai tempat sabung ayam. Dalam Cikahuripan terdapat mata air yang menjadi tempat mandi para putri raja dari Kerajaan Galuh.
Secara geografis, situs ini berada pada koordinat 7°20,84' LS dan 108°29,376' BT, di tepi jalan raya yang menghubungkan Ciamis dan Banjar. Batas kawasan situs di sebelah utara adalah jalan raya, di sebelah timur Sungai Cimuntur, di sebelah selatan Sungai Citanduy, dan di sebelah barat kawasan rest area.
Situs Karangkamulyan merupakan tinggalan masa Hindu–Buddha. Waktu penemuannya tidak diketahui secara pasti. Menurut keterangan masyarakat setempat, kawasan ini telah lama dikunjungi sejak sekitar abad ke-18 untuk berbagai keperluan. Namun, inventarisasi benda purbakala yang dilakukan oleh N. J. Krom pada tahun 1914 tidak mencantumkan kompleks Karangkamulyan.
Kompleks Situs Karangkamulyan
Di dalam Situs Karangkamulyan terdapat 9 peninggalan arkeologi yaitu Batu Pangcalikan, Panyabungan Hayam, Sanghyang Bedil, lambang peribadatan, Cikahuripan, Panyandaan, Pamangkonan, Makam Adipati Panaekan, dan tumpukan batu Sri Begawat Pohaci. Luas lahan Batu Pangcalikan adalah 25 m² dengan pagar pembatas dari batu setinggi 60 cm dan selebar 80 cm. Panyabungan Hayam merupakan tanah lapang yang diisi oleh batu datar dan menhir. Cikahuripan dan Pamangkonan adalah bangunan persegi dengan dinding batu. Sanghyang Bedil dan Panyandaan adalah bangunan persegi dengan tambahan batu di depan pintu masuknya. Sedangkan Sri Begawat Pohaci adalah tumpukan batu yang tidak beraturan dengan batu tegak di puncaknya dan Situs Adipati Panaekan adalah punden yang membentuk lingkaran dengan batu tegak di sisi utara dan selatannya.
Pangcalikan
Pangcalikan merupakan bagian pertama yang dijumpai dari arah pintu masuk kawasan. Situs ini terdiri atas tiga halaman yang dipisahkan oleh susunan batu. Pada halaman paling utara terdapat batu tuf berukuran sekitar 92 × 92 sentimeter dengan tinggi 48 sentimeter yang oleh masyarakat disebut pangcalikan.
Di sekitar batu tersebut terdapat sejumlah batu datar dan batu berbentuk bulat memanjang. Situs ini diduga sebagai pusat pemerintahan, singgasana, meja altar, atau dolmen yang berkaitan dengan tradisi megalitik. Saat ini kawasan Pangcalikan menjadi pusat penyelenggaraan tradisi Ngikis dan sejumlah kegiatan budaya lainnya.
Sipatahunan
Sipatahunan berada di tepi Sungai Citanduy. Di lokasi ini tidak ditemukan objek arkeologis. Dalam tradisi lisan setempat, tempat ini dikaitkan dengan lokasi dihanyutkannya bayi Ciung Wanara untuk diselamatkan.
Sanghyang Bedil
Sanghyang Bedil berupa bangunan susunan batu berbentuk segi empat dengan pintu masuk di sisi selatan. Di bagian tengah terdapat dua batu panjang yang patah, satu dalam posisi tegak dan satu lainnya rebah. Batu yang rebah disebut Sanghyang Bedil karena bentuknya menyerupai senapan.
Panyambungan Hayam
Di sebelah selatan Sanghyang Bedil terdapat area yang dikenal sebagai Panyambungan Hayam. Lokasi ini berbentuk melingkar dengan pohon bungur di bagian tengah dan susunan batu pada sisi utara.
Lambang Peribadatan
Lambang Peribadatan merupakan tinggalan yang dikaitkan dengan tradisi Hindu–Buddha dan megalitik. Situs ini berupa halaman berbentuk persegi yang dibatasi susunan batu. Di bagian tengah terdapat batu tegak berbentuk persegi panjang yang dikelilingi batu-batu bulat.
Menurut pengelola situs, lokasi ini sering dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.
Cikahuripan
Cikahuripan merupakan pertemuan dua aliran air yang dikenal sebagai Citeguh dan Cirahayu. Saat ini lokasi tersebut digunakan sebagai tempat mandi untuk keperluan tertentu.
Dalam kepercayaan masyarakat setempat, air Cikahuripan dianggap memiliki nilai spiritual. Sebagian masyarakat meyakini bahwa penggunaan air tersebut dapat mendatangkan keberkahan atas izin Tuhan Yang Maha Esa.
Panyandaan dan Makam Sri Bhagawat Pohaci
Di sebelah timur Cikahuripan terdapat Situs Panyandaan yang berupa susunan batu dengan sebuah batu berdiri dan batu datar berbentuk segitiga yang dikelilingi batu-batu kecil.
Dalam tradisi setempat, lokasi ini dikaitkan dengan tempat beristirahat Dewi Naganingrum setelah melahirkan Ciung Wanara.
Di depan situs tersebut terdapat tiga batu tegak yang salah satunya condong. Kawasan ini dipercaya masyarakat sebagai Makam Sri Bhagawat Pohaci.
Pamangkonan
Pamangkonan terletak di sebelah selatan Panyandaan. Situs ini berupa susunan batu berbentuk persegi dengan pintu masuk di sisi timur. Di bagian tengah terdapat susunan batu bulat yang mengelilingi sebuah batu yang dikenal dengan nama Sanghyang Inditinditan.
Makam Adipati Panaekan
Makam Adipati Panaekan berada di sebelah tenggara Pamangkonan. Situs ini berupa susunan batu melingkar dengan makam di bagian tengahnya.
Menurut tradisi lisan setempat, Adipati Panaekan merupakan tokoh yang menurunkan garis keturunan bupati pertama Ciamis.
Parit dan benteng
Salah satu unsur penting di Karangkamulyan adalah keberadaan sistem parit dan benteng. Parit ditemukan di bagian barat kawasan dan menghubungkan Sungai Citanduy dengan Sungai Cimuntur. Lebar parit sekitar 10 meter, meskipun sebagian jejaknya telah hilang.
Zona inti situs juga dikelilingi parit dengan lebar antara 0,5 hingga 1,5 meter. Pada bagian luar parit terdapat gundukan tanah yang membentuk benteng dengan tinggi sekitar 2 meter dan lebar antara 3 hingga 4 meter. Jejak benteng tersebut diperkirakan memanjang hingga ke tepi Sungai Cimuntur.
Temuan keramik asing di kawasan ini menunjukkan adanya aktivitas yang berasal dari sekitar abad ke-10 hingga abad ke-17.
Cerita Rakyat Ciung Wanara
Situs Karangkamulyan sering dikaitkan dengan legenda Ciung Wanara yang menjadi bagian penting dalam tradisi lisan masyarakat Galuh.
Menurut kisah tersebut, Prabu Adimulya Permanadikusuma menyerahkan pemerintahan kepada Prabu Bondan Sarati dan memilih menjalani kehidupan sebagai pertapa dengan gelar Ajar Sukaresi. Dalam perkembangan cerita, Dewi Naganingrum melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian dihanyutkan di Sungai Citanduy untuk menyelamatkannya dari ancaman Bondan Sarati.
Bayi tersebut ditemukan dan diasuh oleh Aki Balangantrang. Ketika dewasa, ia dikenal dengan nama Ciung Wanara. Sejumlah lokasi di kawasan Karangkamulyan, seperti Sipatahunan, Panyandaan, dan Panyambungan Hayam, dalam tradisi masyarakat setempat dihubungkan dengan episode-episode dalam kisah tersebut.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Situs Karangkamulyan. Revisi 29840557. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29840557. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Situs Karangkamulyan sebagai kompleks dengan lingkup beberapa bangunan atau ruang. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-17T19:18:45Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Situs Karangkamulyan · revisi 29840557 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-17T19:18:45Z
- Wikidata P625 · Situs Karangkamulyan ↗Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2024-05-19T12:11:24Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.