Stadion Menak Sopal
Stadion Menak Sopal (dikenal pula oleh masyarakat setempat sebagai Stadion Kelutan) adalah sebuah stadion pelbagai guna yang terletak di Gang Menak Sopal Nomor 17, Kelurahan Kelutan, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Indonesia.
- Jenis objek
- Kompleks
- Fungsi
- Olahraga (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Stadion Menak Sopal dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Jawa Timur, Indonesia. Konteks Indonesia didukung keterangan wilayah atau kategori sumber, serta uraian arsitektur yang diperiksa; tidak menyatakan asal tradisi yang eksklusif.
- Nama utama
- Stadion Menak Sopal
- Lokasi
- Jawa Timur, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- ID4793030
- Klasifikasi sumber
- olahraga · nomor ID4793030
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas kompleks arsitektur. Kategori fungsi untuk penelusuran: olahraga. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Stadion Menak Sopal (dikenal pula oleh masyarakat setempat sebagai Stadion Kelutan) adalah sebuah stadion pelbagai guna yang terletak di Gang Menak Sopal Nomor 17, Kelurahan Kelutan, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Indonesia. Stadion ini merupakan fasilitas olahraga dan ruang publik terbesar di wilayah tersebut yang menjadi markas utama (homebase) bagi klub sepak bola kebanggaan daerah, Persiga Trenggalek, sekaligus tercatat sebagai satu-satunya stadion sepak bola berskala kabupaten yang dimiliki Trenggalek.
Secara administratif, stadion ini dikelola secara penuh oleh Pemerintah Kabupaten Trenggalek melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora). Kawasan ini terintegrasi dengan kompleks olahraga lainnya—termasuk kolam renang Tirta Jwalita dan Gelanggang Olahraga (GOR) Gajah Putih—dan difungsikan secara komprehensif. Selain untuk pertandingan sepak bola, stadion ini rutin digunakan sebagai lokasi Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI tingkat kabupaten, pusat seleksi fisik (kesamaptaan) CPNS serta calon anggota Polri/TNI, arena kampanye akbar politik dan konser musik nasional, hingga—sebagaimana tercatat pada April 2026—titik pendaratan helikopter dalam rangkaian kunjungan kerja kenegaraan.
Asal Usul Nama dan Identitas Kultural
Nama stadion ini didedikasikan secara khusus untuk menghormati pahlawan historis dan tokoh sentral peradaban Trenggalek pada abad ke-16, yakni Ki Ageng Menak Sopal. Dalam kajian akademis mengenai pengelolaan stadion, ia digambarkan sebagai pahlawan di bidang pertanian sekaligus tokoh penyiar agama Islam pada akhir masa Kerajaan Majapahit.
Dalam historiografi lokal dan cerita rakyat (folklore), Ki Ageng Menak Sopal diyakini berjasa besar dalam memimpin pembangunan Dam Bagong, sebuah sistem irigasi dan bendungan raksasa yang berhasil mengubah lanskap Trenggalek dari kawasan rawan banjir dan kekeringan menjadi sentra agraris yang sangat subur.
Versi legenda yang lebih terperinci menyebutkan bahwa Menak Sopal merupakan putra dari Raden Ayu Saraswati dan Sraba, yang tak lain adalah jelmaan Buaya Putih penguasa Sungai Bagong. Karena sang ibu tak mampu memenuhi janji yang diminta Sraba, sang ayah pun terpaksa kembali ke wujud buaya dan meninggalkan keluarganya. Menak Sopal kemudian dibesarkan dan dididik berbagai ilmu di bawah asuhan Ki Ageng Sinawang hingga tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan cakap. Nama "Trenggalek" sendiri, menurut cerita rakyat setempat, berasal dari kepanjangan "Teranging Galih" yang berarti benderangnya hati. Sumber akademis lain menyebut bahwa Ki Ageng Menak Sopal juga dikenal sebagai pendiri Kabupaten Trenggalek, yang meminjam gajah putih milik sesosok tokoh bernama Mbok Rondo Krandon untuk kemudian dikorbankan guna mengatasi bencana kekeringan maupun longsor pada masa pembangunan bendungan.
Legenda mengisahkan bahwa untuk menghentikan bencana longsor selama pembangunan bendungan tersebut, Menak Sopal harus mengorbankan seekor Gajah Putih (yang konon dipinjam dari wilayah Wengker/Ponorogo) sebagai tumbal penolak bala. Hingga kini, filosofi kepahlawanan Menak Sopal diabadikan megah sebagai nama stadion, tradisi pengorbanannya dilestarikan melalui upacara adat tahunan Nyadran Dam Bagong (dengan melarung kepala kerbau), sementara entitas "Gajah Putih" secara resmi diadaptasi menjadi identitas kultural dan julukan klub Persiga Trenggalek (Laskar Gajah Putih), sekaligus menjadi nama Gelanggang Olahraga (GOR) Gajah Putih yang berdiri berdampingan dengan stadion.
Kompleks Pendukung: GOR Gajah Putih dan GOR Jwalita
Sejak akhir 2022, kawasan Stadion Menak Sopal semakin terintegrasi dengan hadirnya Gelanggang Olahraga (GOR) Gajah Putih di Jalan Brigjend Soetran, Kelurahan Sumbergedong, tak jauh dari lokasi stadion. Pembangunan gedung ini dimulai sejak 2018 dengan sumber pendanaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan menelan anggaran sekitar Rp14,8 miliar. GOR ini diresmikan pada 30 November 2022 bertepatan dengan penyelenggaraan Trenggalek Innovation Festival (TIF), meskipun secara fisik pembangunannya baru mencapai sekitar 80 persen dan masih membutuhkan tambahan anggaran daerah sebesar Rp1,8 miliar untuk penyempurnaan tahap akhir. Nama "Gajah Putih" dipilih untuk mencerminkan keterikatan sejarah Trenggalek dengan legenda Menak Sopal, sekaligus menegaskan identitas yang sama dengan julukan klub Persiga.
GOR Gajah Putih dilengkapi lapangan bulu tangkis, futsal, sepak takraw, basket, dan voli, dan sejak diresmikan telah menjadi lokasi berbagai perhelatan besar seperti bursa kerja (job fair), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN), peringatan Hari Disabilitas Internasional tingkat provinsi, hingga konser musik. Bersama Stadion Menak Sopal dan GOR Jwalita, ketiganya kini menjadi aset olahraga inti yang dikelola Dispora Kabupaten Trenggalek.
Kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pengelolaan aset-aset olahraga milik Pemerintah Kabupaten Trenggalek, termasuk Stadion Menak Sopal, mulai menunjukkan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berdasarkan data per 31 Mei 2026, PAD yang dikelola Dispora Trenggalek dari pengelolaan GOR Gajah Putih, Stadion Menak Sopal, dan GOR Jwalita mencapai sekitar Rp112 juta, atau setara 52,39 persen dari target tahunan sebesar Rp215 juta—capaian yang diraih bahkan sebelum semester pertama tahun anggaran berakhir. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispora Trenggalek, Arief Setiyawan, menyebut capaian tersebut sebagai sinyal positif bahwa optimalisasi aset olahraga daerah melalui kolaborasi dengan komunitas olahraga dan kepemudaan mampu mendorong peningkatan pendapatan daerah, dan membuka peluang bagi Dispora untuk melampaui target PAD hingga akhir tahun.
Kultur Suporter dan Penggunaan Olahraga
Sebagai episentrum pembinaan sepak bola Trenggalek, stadion ini tidak pernah lepas dari gemuruh basis suporter fanatik Persiga, yakni Galak Mania. Kelompok pendukung ini dikenal loyal dalam mengisi ruang-ruang tribun dan berdiri di sekeliling pagar lintasan lari pada setiap laga krusial. Selain Galak Mania, entitas pendukung kontemporer seperti barisan I-Leman (Intelektual Legiun Mania) juga turut menjadikan stadion ini sebagai sentra pergerakan kreativitas tribun mereka.
Rekam Jejak Kompetisi Regional dan Nasional
Stadion Menak Sopal menyimpan sejarah panjang perjalanan klub kebanggaan daerah dalam sistem piramida liga di Indonesia:
Kejayaan Divisi III (2012–2013): Salah satu catatan emas terawal terjadi pada dekade 2010-an, di mana media lokal merekam euforia warga Trenggalek yang memadati Menak Sopal usai Persiga sukses merengkuh gelar Juara Divisi III Liga Indonesia. Arsip statistik sepak bola RSSSF mencatat gelar tersebut diraih pada edisi kompetisi 2012 di bawah naungan liga versi LPIS—masa ketika sepak bola nasional Indonesia tengah dilanda dualisme kepengurusan antara PSSI dan KPSI—sementara sejumlah pemberitaan olahraga lokal Trenggalek kerap menyebutnya sebagai gelar tahun 2013, sehingga tahun pastinya masih diperdebatkan di kalangan penggemar setempat.
Transisi Liga Nusantara dan Liga 3 (2014–2019): Stadion ini didaulat sebagai tuan rumah laga-laga keras Liga Nusantara zona Jawa Timur pada tahun 2014. Saat format berganti menjadi Liga 3, Menak Sopal secara beruntun menggelar laga kandang Persiga (2017–2019), meskipun keterbatasan kapasitas penonton menjadi isu tahunan yang tak terhindarkan setiap derbi regional berlangsung.
Momen Puncak 2018: Meskipun laga puncak penentuan gelar Juara Liga 3 Zona Jawa Timur 2018 dimainkan di Stadion R. Soedarsono, Bangil (kemenangan 4-0 atas Persekabpas), Menak Sopal menjadi titik sentral perayaan dan penyambutan trofi bersejarah tersebut oleh puluhan ribu masyarakat Trenggalek.
Insiden Walk-Out (2021): Sisi kelam kompetisi di stadion ini tercatat pada November 2021 dalam ajang Liga 3 Jawa Timur. Tensi tinggi pada pertandingan antara Perspa Pacitan melawan Persemag Magetan memicu kericuhan yang berujung pada aksi Walk-Out (WO) oleh kubu Perspa.
Kevakuman dan Kebangkitan Liga 3 (2021): Setelah dua tahun absen akibat pandemi COVID-19, Persiga kembali berkompetisi di Liga 3 Jawa Timur 2021 dengan diikuti 69 tim se-provinsi, dan Trenggalek sekaligus ditunjuk sebagai tuan rumah seluruh laga Grup H yang turut diisi Persenga Nganjuk, Perspa Pacitan, dan Persemag Magetan.
Pusat Pembinaan Usia Dini dan Multi-Event
Di luar liga senior (yang kini berlaga di Liga 4), Menak Sopal adalah kawah candradimuka bagi pembinaan pesepak bola muda dan perhelatan akbar olahraga provinsi:
Tuan Rumah Pra-Porprov Jatim (2023): Reputasi stadion ini diakui secara luas ketika Asosiasi Provinsi (ASPROV) PSSI Jawa Timur dan KONI menunjuk Menak Sopal sebagai salah satu venue tuan rumah untuk babak kualifikasi (Pra-Porprov) Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur tahun 2023. Event ini mengundang berbagai kontingen kabupaten/kota tetangga untuk bertanding memperebutkan tiket ke putaran final Porprov.
Piala Soeratin U-17 (2026): Stadion ini dipercaya menggelar babak penyisihan Grup N Piala Soeratin. Perjuangan skuad muda Persiga (ditopang pemain dari akademi MNA FC) memetik kemenangan 1-0 atas Blitar Poetra, namun ditahan imbang dramatis oleh Perspac Pacitan, menghiasi berbagai tajuk utama media. Turnamen ini juga sempat diwarnai polemik birokrasi terkait sinkronisasi data pemain di aplikasi SIAP oleh Askab PSSI Trenggalek, setelah salah satu tim SSB mengeluhkan sejumlah pemainnya hilang dari basis data tanpa koordinasi.
Polemik Jadwal Piala Soeratin (Juni 2026): Selain persoalan aplikasi SIAP, pelaksanaan Piala Soeratin U-13 dan U-15 2026 sempat tertunda akibat benturan jadwal penggunaan stadion. Panitia dari Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Trenggalek mendapati bahwa jadwal yang mereka ajukan untuk 23–24 Juni dan 2 Juli 2026 telah lebih dulu dikunci oleh klub-klub sepak bola lain di luar keanggotaan Askab, termasuk klub bernama MNA. Persoalan ini dibawa ke Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung DPRD Trenggalek pada 23 Juni 2026, di mana Pelaksana Tugas Kepala Dispora, Arief Setiawan, menegaskan pihaknya tidak pernah menolak permohonan Askab, melainkan hanya menyampaikan bahwa penyewa lain telah lebih dulu mengunci jadwal yang sama. Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek, Sukarodin, turut membantah adanya spekulasi "perang pengaruh" di balik polemik tersebut dan menegaskan akar masalahnya murni benturan jadwal. Sengketa ini akhirnya diselesaikan melalui mediasi DPRD, dengan Piala Soeratin dijadwalkan ulang ke 24–25 Juni dan 2 Juli 2026, sementara Piala Kemerdekaan antarpelajar digeser ke 17–25 Juli 2026.
Trenggalek Student League (TSL) 2026: Pada pertengahan 2026, stadion ini menjadi pusat penyelenggaraan kompetisi antar-pelajar tingkat kabupaten yang dikelola penuh oleh promotor MNA Sport Management. Turnamen yang memperebutkan Piala Bupati Trenggalek ini resmi dibuka pada 27 Juli 2026 oleh Penjabat Sekretaris Daerah Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, dan diikuti oleh 16 tim yang terbagi atas 9 tim jenjang SMP/MTs dan 7 tim jenjang SMA/SMK sederajat. Rangkaian kompetisi ini ditutup pada 3 Agustus 2026 melalui laga final kategori SMA/MA, yang mempertemukan MAN 1 Trenggalek melawan SMA Negeri 1 Trenggalek. MAN 1 Trenggalek berhasil keluar sebagai juara berkat gol tunggal Khoirul Anam pada masa injury time babak pertama, memastikan kemenangan 1-0 sekaligus membawa pulang trofi bergilir Bupati Trenggalek.
Kunjungan Kenegaraan
Di luar fungsi keolahragaan, Stadion Menak Sopal juga pernah menjadi lokasi penunjang agenda kenegaraan tingkat nasional. Pada 29–30 April 2026, kawasan stadion untuk sementara waktu disterilisasi dari aktivitas publik sebagai bagian dari prosedur protokoler pengamanan menjelang kunjungan kerja Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, ke Trenggalek. Kepala Dispora Trenggalek, Arief Setiawan, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan permintaan resmi dari unsur pengamanan dan bukan keputusan sepihak instansinya. Sehari sebelum kunjungan, sebuah Apel Gelar Pasukan yang melibatkan unsur TNI, Polri, Satpol PP, Damkar, serta tenaga medis digelar di lapangan stadion sebagai tahap akhir pemeriksaan kesiapan pengamanan.
Pada 30 April 2026, Stadion Menak Sopal difungsikan sebagai titik pendaratan helikopter (helipad) bagi rombongan Wakil Presiden, yang tiba sekitar pukul 09.15 WIB sebelum melanjutkan perjalanan darat untuk meninjau progres pembangunan Proyek Strategis Nasional Bendungan Bagong di Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan. Rombongan yang turut didampingi Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak dan Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad tersebut disambut langsung oleh Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin beserta jajaran Forkopimda, sebelum akhirnya kembali menuju helipad di Stadion Menak Sopal untuk meninggalkan Trenggalek sekitar pukul 10.30 WIB.
Penggunaan Ekstrakurikuler dan Kawasan Luar
Kompleks Stadion Menak Sopal memiliki fleksibilitas tinggi dan sering dimanfaatkan oleh lintas komunitas:
Revitalisasi Ruang Publik (Mural): Pada momen Lebaran 2018, kawasan luar stadion, khususnya dinding-dinding sekitar fasilitas kolam renang Tirta Jwalita, direvitalisasi oleh komunitas seni lokal yang melukiskan mural pahlawan dan pesan-pesan moral guna memperindah wajah kawasan.
Kejuaraan Otomotif (Road Race): Jalanan beraspal yang mengitari pagar luar kompleks stadion rutin dialihfungsikan sebagai sirkuit balap motor non-permanen, salah satunya ketika menjadi tuan rumah kejuaraan bergengsi balap motor kelas 2-Tak (Matapanah 2 Stroke Race) pada September 2023.
Ruang Publik Sehari-hari: Lintasan aspal yang mengelilingi lapangan menjadikan stadion ini destinasi favorit warga untuk berjalan kaki dan berlari (jogging) pada akhir pekan, dilengkapi fasilitas pull-up di sudut selatan sisi timur stadion, serta area parkir di gerbang timur yang ramai oleh pedagang kaki lima dan wahana anak-anak pada sore hari.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Riwayat dalam arsip sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Sejarah Awal dan Pendirian Stadion
Berdasarkan sejumlah sumber, termasuk kajian arsitektur akademis dan pemberitaan lokal, Stadion Menak Sopal didirikan pada tahun 1982, berdekatan waktunya dengan berdirinya klub sepak bola Persatuan Sepak Bola Indonesia Trenggalek (Persiga). Sejak awal berdirinya, stadion ini beralamat di Gang Menak Sopal Nomor 17, dan menjadi satu-satunya fasilitas berstandar stadion yang dimiliki Kabupaten Trenggalek, dengan tribun penonton permanen hanya berada di sisi barat. Sebagai catatan, basis data klub Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur mencantumkan tahun berdiri Persiga sebagai 1966, sehingga terdapat perbedaan antarsumber mengenai tahun pasti berdirinya klub dan stadion—sebuah ketidakkonsistenan yang umum dijumpai pada dokumentasi sejarah klub-klub sepak bola tingkat kabupaten di Indonesia.
Dokumentasi visual tertua yang beredar mengenai stadion ini adalah rekaman sebuah pertandingan persahabatan pada 10 Februari 1985 antara kesebelasan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Trenggalek melawan tim Dinas Kesehatan Trenggalek, yang menggambarkan fungsi awal stadion sebagai wadah pertandingan antarinstansi dan hiburan warga di luar kompetisi liga resmi. Selama beberapa dekade sesudahnya, stadion ini tetap menjadi satu-satunya fasilitas olahraga berskala besar milik Pemerintah Kabupaten Trenggalek, sebelum akhirnya dilengkapi kompleks penunjang seperti GOR Gajah Putih pada era 2020-an.
Arsitektur, Infrastruktur, dan Polemik Renovasi
Stadion Menak Sopal merupakan stadion olahraga madya bertipe konvensional. Di sekeliling lapangan berumput alami, terdapat lintasan lari (running track) berbahan dasar gravel/tanah yang sering dipergunakan untuk tes fisik abdi negara maupun kejuaraan atletik sekolah. Stadion ini tercatat hanya memiliki satu tribun beton permanen yang dilengkapi atap di sisi barat (Tribun Utama/VIP), sementara area timur dibiarkan terbuka (standing area).
Angka kapasitas penonton yang beredar juga bervariasi antarsumber. Sebuah kajian manajemen dari Universitas Negeri Yogyakarta mencatat tribun barat stadion hanya mampu menampung sekitar 3.000 orang, tanpa dilengkapi penerangan lapangan yang memadai dan dengan sejumlah fasilitas interior yang kurang terawat. Di sisi lain, basis data sepak bola daring seperti Transfermarkt mencantumkan kapasitas resmi stadion yang terasosiasi dengan pendaftaran Persiga Trenggalek di kompetisi Liga 4 sebesar 10.000 kursi. Perbedaan angka-angka tersebut mencerminkan belum adanya audit kapasitas resmi yang seragam untuk fasilitas ini.
Kondisi infrastruktur stadion ini memiliki rekam jejak yang panjang terkait dengan polemik kelayakan dan proyek renovasi:
Era 2000-an: Pada awal milenium baru, seiring dengan otonomi daerah, kompleks ini mulai difokuskan pembangunannya dari sekadar lapangan distrik menjadi stadion representatif yang memadai untuk menggelar kompetisi format lama PSSI dan kejuaraan daerah.
Wacana Tribun Baru (2017): Karena kapasitas yang sangat terbatas dalam menampung animo suporter, Pemerintah Kabupaten Trenggalek pada bulan Juli 2017 tercatat pernah menyusun dan mengajukan proposal pendanaan pembangunan tribun timur baru kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia.
Perbaikan Lapangan Becek (2022): Hampir setiap musim hujan, kondisi rumput stadion kerap dikeluhkan karena tergenang air dan berlumpur (becek). Merespons hal tersebut, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) saat itu mengucurkan anggaran sebesar Rp 500 juta pada awal 2022 untuk membongkar dan mengganti sistem rumput lapangan agar layak digunakan untuk perhelatan kompetisi resmi.
Dugaan Maladministrasi (2024): Memasuki tahun 2024, media lokal sempat menyoroti adanya dugaan proyek rehabilitasi fasilitas stadion yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis (RAB) dan standar operasional kelayakan infrastruktur olahraga.
Kajian Akademis: Sebuah jurnal ilmiah arsitektur nasional turut mengkritik penataan interior dan pencahayaan kompleks olahraga ini, termasuk minimnya kursi penonton dan penerangan lapangan. Publikasi tersebut merekomendasikan revitalisasi desain berbasis arsitektur postmodern agar Menak Sopal mampu bertransformasi menjadi kompleks keolahragaan modern yang ideal, sekaligus menyoroti perlunya pusat pelatihan bagi atlet berprestasi sebagaimana diamanatkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Kabupaten Trenggalek 2024.
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Stadion Menak Sopal. Revisi 29612456. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29612456. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Stadion Menak Sopal sebagai kompleks dengan lingkup beberapa bangunan atau ruang. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-08-21T23:49:37Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Stadion Menak Sopal · revisi 29612456 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-08-21T23:49:37Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.