Arsitektur.
bagian dari ensiklopedia.online
ARS-R600061110
Adaptasi ensiklopedia kolaboratif · ringkasan berbahasa Indonesia dan teks sumber berbahasa Indonesia. Identitas dan rujukan berasal dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia, nomor ID61110. Asal dan lisensi uraian
BangunanBandung, Jawa Barat, IndonesiaARS-R600061110

Stasiun Bandung

Stasiun Bandung (BD), juga dikenal sebagai Stasiun Hall, adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A di Kota Bandung yang terletak di perbatasan antara Kebonjeruk, Andir dan Pasirkaliki, Cicendo.

Dasar informasi:[1]
Bandingkan
Jenis objek
Bangunan
Fungsi
Transportasi (kategori penelusuran)
Masa tercatat
Belum diringkas dari riwayat sumber
Kondisi dan status
Kondisi mutakhir belum dinilai
01

Identitas dan tapak

Stasiun Bandung dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.

Dasar informasi:[1]
Lingkup profil: Artikel sumber mengidentifikasi Stasiun Bandung sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan. Bangunan lain pada tapak tidak otomatis menjadi bagian dari entitas ini.
Nama utama
Stasiun Bandung
Lokasi
Bandung, Jawa Barat, Indonesia · Bangunan di Indonesia
Nama lain dalam sumber
Q2571158; ID61110
Klasifikasi sumber
transportasi · nomor ID61110
Dasar kondisi
Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Titik lokasi: Titik rujukan Wikidata P625 untuk identitas sumber; bukan jejak bangunan. Ketelitian horizontal belum diverifikasi.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
02

Ruang dan fungsi

Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: transportasi. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.

Dasar informasi:[1]

Membaca arsitektur

Uraian sumber mencakup bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.

Dasar informasi:[1]

Deskripsi fisik dalam sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembuka

Stasiun Bandung (BD), juga dikenal sebagai Stasiun Hall, adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A di Kota Bandung yang terletak di perbatasan antara Kebonjeruk, Andir dan Pasirkaliki, Cicendo. Pintu selatan Stasiun Bandung terletak di Jalan Stasiun Timur, sedangkan pintu utara terletak di Jalan Kebon Kawung. Stasiun ini berada pada ketinggian 709 meter di atas permukaan laut dan merupakan salah satu stasiun kereta api utama di wilayah Bandung Raya. Stasiun ini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi II Bandung dan KAI Commuter.

Stasiun ini melayani seluruh kereta api yang melintasi maupun memiliki stasiun ujung di Kota Bandung yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia, kecuali kereta api Kahuripan, Serayu, Pasundan, dan Kutojaya Selatan. Keempat kereta api tersebut hanya dilayani di Stasiun Kiaracondong, stasiun kereta api utama lainnya di Kota Bandung.

Pada awalnya, Stasiun Bandung hanya terdapat satu gedung stasiun; tetapi setelah dilakukan perbaikan oleh Pemerintah Kota Bandung, stasiun ini sekarang terbagi menjadi dua bagian yang tetap di dalam satu kawasan, yaitu sisi utara stasiun hanya melayani keberangkatan kereta api antarkota dan kereta api pengumpan Whoosh, sedangkan sisi selatan stasiun melayani keberangkatan kereta api lokal Commuter Line. Sejak tahun 2014, Commuter Line Bandung Raya dan Commuter Line Garut tidak dilayani di pintu utara stasiun, tetapi hanya dilayani di pintu selatan. Hal ini guna untuk meningkatkan pelayanan kepada penumpang dan calon penumpang di stasiun ini.

Berdasarkan jumlah penumpang kereta api antarkota yang dirilis PT Kereta Api Indonesia (KAI) antara Januari–Oktober 2024, Stasiun Bandung menjadi stasiun kereta api tersibuk keenam di Indonesia dengan mencatatkan 2.560.639 penumpang berdasarkan total jumlah penumpang naik maupun turun.

Stasiun ini juga dikenal sebagai terminal angkutan kota (angkot) karena juga dijadikan tempat singgah banyak angkot menuju berbagai tujuan.

Generasi pertama (1884–1928)

Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Dulu (1984) karangan Haryoto Kunto, gagasan awal pembangunan Stasiun Bandung berkaitan dengan pembukaan perkebunan di Bandung sekitar tahun 1870. Pembangunan dimulai sekitar tahun 1883. Pada Agustus 1883, telah dimulai penggalian, pekerjaan bangunan, dan pembuatan jalan akses ke bangunan stasiun. Stasiun ini kemudian diresmikan pada 17 Mei 1884 oleh Staatsspoorwegen (SS) pada masa pemerintahan Bupati Koesoemadilaga; pada waktu yang sama juga dibuka jalur kereta Batavia–Bandung melalui Bogor dan Cianjur.

Pada saat itu, para tuan tanah perkebunan (Preangerplanters) menggunakan jalur kereta api untuk mengirimkan hasil perkebunannya ke Batavia dengan lebih cepat. Untuk menampung dan menyimpan hasil perkebunan yang akan diangkut dengan kereta, maka dibangunlah gudang-gudang penimbunan barang di beberapa tempat di dekat Stasiun Bandung, yaitu Jalan Cibangkong, Jalan Cikudapateuh, daerah Kosambi, Kiaracondong, Braga, Pasirkaliki, Ciroyom, dan Andir. Setelah peresmian jalur Bandung–Surabaya pada 1 November 1894, para pemilik pabrik dan perkebunan gula dari Jawa Tengah dan Timur (Suikerplanters) menyewa kereta api menuju Bandung untuk mengikuti Kongres Pengusaha Perkebunan Gula yang pertama. Kongres tersebut merupakan hasil pertemuan Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula (Bestuur van de Vereniging van Suikerplanters) di Surabaya pada tahun 1896.

Bangunan stasiun ini sempat mendapatkan renovasi berulang sebanyak tiga kali semenjak pertama kali peletakan batu pertama pada 1882; yakni pada 1900, 1906, dan 1909. Pada tahun 1920, SS mewacanakan untuk mengganti stasiun yang ada dengan stasiun pulau. Namun, upaya ini gagal karena masalah keuangan dan upaya penghematan biaya pembangunan.

Pada tahun 1918, dilaksanakan proyek pembangunan jalur baru Bandung–Rancaekek–Jatinangor–Tanjungsari–Citali, kemudian dibangun lintas Bandung–Citeureup–Majalaya setahun kemudian, dan dibangun jalur Citeureup-Banjaran–Pengalengan pada tahun 1921. Untuk jalur yang menuju ke perkebunan teh, maka dibangun jalur Bandung ke Kopo (Soreang) dan kemudian ke Ciwidey. Jalur kereta api yang terwujud adalah Bandung–Ciwidey dan Dayeuhkolot–Majalaya.

Bangunan stasiun generasi pertama ini terus bertahan hingga akhir tahun 1920-an. Mengingat pentingnya stasiun ini, diresmikanlah sebuah monumen (tugu) di depan pintu selatan stasiun pada tanggal 6 April 1925 yang dirancang E.H. de Roo, dibangun untuk memperingati 50 tahun Staatsspoorwegen (SS) berkarya di Jawa. Tugu itu diyakini sebagai hadiah dari Wali Kota Bandung kepada SS atas jasa-jasanya berhasil mempersatukan Jawa dengan kereta api. Tugu itu diterangi seribu lampu dan diresmikan dengan upacara yang dihadiri warga Bandung dan petinggi-petinggi SS.

Generasi kedua (1928–sekarang)

Dalam majalah Spoor- en Tramwegen 24 Juli 1928, beberapa tahun setelah peringatan lima puluh tahun SS, Kepala Jawatan Ir. Staargard mengumumkan renovasi stasiun. Ia mengatakan bahwa bangunan stasiun generasi pertama dianggap "stasiun tua dan kuno" pada 1925. Bagian kanopi sisi selatan stasiun, yang telah dibangun sejak pertama kali stasiun dibuka, dan ditambah dengan atap kanopi sisi utara pada tahun 1901, kemudian diperpanjang dengan kanopi bertiang T yang terbuat dari beton bertulang. Hal ini bertujuan agar penumpang tidak kepanasan atau kehujanan saat menunggu kereta api. Bangunan stasiun baru ini rampung pada 1930. Pada proses renovasi ini, bangunan stasiun lama dibongkar dan digantikan dengan bangunan baru yang mengikuti gaya Art Deco, dan dirancang oleh F.J.A. Cousin yang merupakan arsitek in-house Staatsspoorwegen.

Pada saat peresmian Stasiun Bandung baru, surat kabar Javabode menuliskan bahwa masyarakat sekitar merayakannya selama dua hari secara berturut-turut. Kereta api merupakan sarana transportasi hasil produksi perkebunan Bandung, seperti kina, teh, kopi, dan karet, sehingga pertumbuhan ekonomi di kota tersebut berkembang pesat.

Generasi ketiga (1989–sekarang)

Di atas bekas Balai Yasa Bandung, dibuka bangunan stasiun generasi ketiga (sebagai pintu keberangkatan sisi utara) yang kemudian dibuka pada Kamis, 27 April 1989 oleh Menteri Perhubungan saat itu, Azwar Anas. Biaya pembangunan stasiun sisi utara ini mencapai Rp1,1 miliar, dengan lahan parkir yang dirasa cukup untuk menampung sekitar 100 unit mobil.

Di sela-sela pembukaan tersebut, Anas sempat berpidato, bahwa PJKA harus bisa memperbaiki kualitas pelayanan serta meningkatkan pemasaran agar dapat bersaing dengan kendaraan jalan raya.

Arsitektur dan letak bangunan

Bangunan sisi selatan Stasiun Bandung bergaya Art Deco, ditandai dengan bentuk bangunan yang cenderung kubus pada hall depan. Fasad bangunan didesain mengikuti fasad lama stasiun (bangunan lama stasiun ini bergaya Indische Empire seperti stasiun-stasiun SS lainnya), tetapi didominasi oleh bidang-bidang transparan yang membuatnya berbeda dengan arsitektur lama.

Pintu utara stasiun ini dahulunya merupakan bekas Balai Yasa Bandung yang kini sudah dinonaktifkan, sementara pintu selatan dijadikan sebagai pintu masuk kedua. Di hadapan stasiun berderet-deret kantor Daerah Operasi II Bandung yang halamannya juga dibuat untuk lahan parkir stasiun, mess, kantor Reska Multi Usaha Bandung, unit polisi khusus kereta api, dan unit kesehatan KAI. Di sebelah timur laut stasiun terdapat kantor pusat KAI. Ke arah barat stasiun ini terdapat bekas Stasiun Bandung Gudang yang sudah tidak aktif karena sudah tidak ada lagi aktivitas pengangkutan barang di sana serta digantikan oleh pusat perbelanjaan Paskal Hyper Square.

Bangunan stasiun sisi selatan telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kelas A berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung No. 7 Tahun 2018, beserta sejumlah bangunan kolonial lainnya di Kota Bandung.

Tata letak jalur

Stasiun ini memiliki sepuluh jalur kereta api; terdiri dari tujuh jalur utama dengan jalur 3 dan 4 merupakan sepur lurus ditambah tiga jalur untuk aktivitas langsir kereta api. Semua jalur digunakan untuk pemberhentian kereta api dan juga sebagai titik langsiran kereta api. Semua kereta api penumpang yang melintas di jalur kereta api Bogor–Padalarang–Kasugihan/lintas selatan Jawa pasti berhenti di stasiun ini.

Stasiun ini dilengkapi dengan depo lokomotif di barat laut kompleks stasiun dan depo kereta yang cukup besar dan batasnya sampai ke Stasiun Ciroyom serta memiliki pemutar rel.

Stasiun ini memiliki jembatan penyeberangan penumpang untuk menghubungkan penumpang, baik dari stasiun utara maupun dari stasiun selatan, menuju peron. Selain itu, dilakukan peninggian peron jalur 1 dan peron antara jalur 2 dan 3, serta pemanjangan peron antara jalur 4 dan 5 dan peron antara jalur 6 dan 7, untuk menunjang penumpang menuju jembatan tersebut. Oleh karena itu, penumpang yang dari/menuju peron tidak lagi menyeberangi jalur rel. Meskipun demikian, jembatan penyeberangan orang tersebut hanya dapat dicapai dengan travelator miring yang tidak dapat digunakan pengguna jasa disabilitas yang menggunakan kursi roda. Dari semua jalur, hanya jalur 1 yang dapat diakses disabilitas secara mandiri karena terhubung langsung dengan gerbang selatan stasiun dengan rampa ke peron tinggi.

Fasilitas

Stasiun ini sering dijadikan sebagai stasiun kereta api percontohan oleh KAI supaya mutu pelayanan dibuat setara dengan bandara. Oleh karena itu, KAI menjadikan stasiun ini sebagai stasiun kereta api pertama di Indonesia yang menerapkan sistem cetak tiket boarding pass sejak Februari 2016 serta sistem pemeriksaan bagasi dengan sinar-X pada Oktober 2018.

Dalam rangka menjawab kebutuhan kerja penumpang kereta api, KAI bersama Kementerian Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia (BUMN) meresmikan ruang kerja bersama di sembilan stasiun kereta api besar di Jawa. Ruang kerja bersama itu diresmikan oleh Menteri BUMN saat itu, Rini Soemarno di Stasiun Bandung pada 6 April 2019. Ruang kerja bersama ini dilengkapi meja kursi dan tersambung dengan internet melalui Wi-Fi.

Pada 28 September 2022, PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah melakukan uji coba proses keberangkatan KA antarkota menggunakan sistem pengenalan wajah di stasiun ini, sebelumnya rencana ketersediaan fasilitas ini akan digunakan di semua stasiun keberangkatan penumpang di Indonesia. Setelah melakukan uji coba di Stasiun Bandung selama empat bulan, fasilitas tersebut sudah digunakan pada semua stasiun KA utama lainnya, yaitu Stasiun Jakarta , Jakarta , di lintas barat, , , , , , , , di lintas selatan, , , , , di lintas utara, di lintas timur Pulau Jawa, dan di lintas Sumatera Utara.

Persinyalan

Stasiun ini merupakan stasiun kereta api di Indonesia yang pertama kali menggunakan sistem persinyalan elektrik. Pada 1970, stasiun ini mulai menggunakan yang diproduksi oleh Siemens dengan seri DrS60. Pada Desember 2021, sebagai bagian dari upaya modernisasi persinyalan, sistem persinyalan elektrik lama produksi Siemens digantikan dengan sinyal baru produksi PT Len Industri pada. Upaya ini dilakukan karena sistem persinyalan elektrik lama tersebut sudah digunakan selama 50 tahun. Bersamaan dengan itu, lintasan jalur rel antara stasiun ini dengan Stasiun Ciroyom dijadikan sebagai jalur tunggal ganda atau sepur kembar.

Ciri khas

Stasiun ini memiliki bel stasiun dengan instrumental dari lagu pop Sunda yang berjudul "Manuk Dadali", "Karatagan Pahlawan", dan "Sabilulungan" pada keberangkatan dan kedatangan kereta api penumpang.

03

Pihak dan peran

Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.

Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.

04

Riwayat perubahan

Tanggal observasi fisik belum dipastikan

Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber

Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.

Dasar informasi:[1]
05

Ukuran dan sistem

Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.

Dasar informasi:[1]

Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.

06

Dokumentasi dan sumber

Edisi sumber dan hak penggunaan

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Stasiun Bandung. Revisi 30037185. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.

Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗

Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.

Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 30037185. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.

Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Stasiun Bandung sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.

Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.

Tanggal atau versi data sumber: 2026-10-06T07:49:17Z.

Catatan pembacaan sumber
  • Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
  • Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.

Dasar informasi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia · Stasiun Bandung · revisi 30037185 ↗
    Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-10-06T07:49:17Z
  2. Wikidata P625 · Stasiun Bandung ↗
    Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-05-26T18:23:57Z

Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.

Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.

Baca dokumentasi