Stasiun Yogyakarta
Stasiun Yogyakarta (YK) (Stasiyun Yogyakarta/Ngayogyakarta), terkadang ditulis Stasiun Jogjakarta, dan juga dikenal sebagai Stasiun Tugu, adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Sosromenduran, Gedongtengen, Kota Yogyakarta pada ketinggian +113 meter di atas permukaan laut dengan jarak 512.05 km arah tenggara dari Jakarta .
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Transportasi (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Stasiun Yogyakarta dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Stasiun Yogyakarta
- Lokasi
- Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q2457850; ID64189
- Klasifikasi sumber
- transportasi · nomor ID64189
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: transportasi. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, pintu, jendela, atau gerbang, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Stasiun Yogyakarta (YK) (Stasiyun Yogyakarta/Ngayogyakarta), terkadang ditulis Stasiun Jogjakarta, dan juga dikenal sebagai Stasiun Tugu, adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Sosromenduran, Gedongtengen, Kota Yogyakarta pada ketinggian +113 meter di atas permukaan laut dengan jarak 512.05 km arah tenggara dari Jakarta . Stasiun ini merupakan stasiun kereta api utama di Daerah Istimewa Yogyakarta serta dalam pengelolaan Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi VI Yogyakarta bersama dengan anak perusahaan PT KAI (Persero) seperti KAI Commuter dan KAI Bandara. Bangunan stasiun beserta rel Kereta Api yang membujur dari barat ke timur berada di Gedongtengen. Letak stasiun ini tidak jauh dari objek wisata Jalan Malioboro.
Sebagai penghubung utama di jalur selatan Pulau Jawa, Stasiun Yogyakarta melayani kereta api antarkota kelas eksekutif dan sebagian besar kelas campuran beserta kereta bandara YIA dan komuter seperti Commuter Line Yogyakarta dan . Stasiun besar lainnya di Kota Yogyakarta, yaitu Stasiun Lempuyangan dikhususkan untuk melayani KA antarkota lintas selatan kelas ekonomi, kereta rangkaian panjang (KA Jayakarta), sebagian kecil kelas campuran, dan Commuter Line Yogyakarta.
Berdasarkan jumlah penumpang kereta api antarkota yang dirilis PT Kereta Api Indonesia (KAI) antara Januari–Oktober 2024, Stasiun Yogyakarta menjadi stasiun kereta api tersibuk di luar Jabodetabek dengan mencatatkan 4.847.417 penumpang berdasarkan total jumlah penumpang naik maupun turun.
Generasi pertama (1887–1928)
Menurut rencana yang dibuat oleh Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1884, setelah beberapa tahun berkutat dengan masalah konsesi jalur antara pemerintah dan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), dan juga rampungnya hubungan Surabaya–Solo dan Batavia–Bogor–Cicalengka, stasiun terminus untuk Yogyakarta direncanakan akan dibangun di kawasan Tugu, tepatnya di sebelah barat dari terminus Stasiun Lempuyangan (dulunya disebut sebagai Djocja Vorstenlanden atau Djocja NIS) milik Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), dan akan menjadi terminus dari jalur kereta api Cilacap–Yogyakarta yang dibangun pada periode yang sama. Stasiun ini juga ditempatkan di sebelah timur bantaran Kali Winongo. Di masa-masa konstruksi proyek jalurnya, dibangun jembatan gantung untuk lalu lalang pekerja proyek. Hubungan dengan stasiun milik NIS akan membuat lalu lintas kereta api semakin lancar. Jalur Cilacap–Yogyakarta dibangun melalui berbagai daerah yang padat penduduk serta melewati Bagelen dan Banyumas selatan, hingga akhirnya mencapai Cilacap.
Stasiun ini dibangun di depan Hotel Toegoe, dan mempekerjakan lebih dari 1.000 orang per hari. Selain membangun stasiun, juga membangun rumah dinas pegawai kereta api, dan ditempatkan strategis agar dekat dengan kawasan permukiman Eropa dan Tionghoa, dan tidak berjarak lebih jauh (2 pal) dari pusat kota Yogyakarta. Di samping membangun stasiun, juga membangun penghubung antara stasiun ini dengan Lempuyangan (kelak dikenal sebagai Jembatan Kewek). Buruh-buruh proyek jalur tersebut diupah sebesar 80 sen, sesuatu yang dapat dianggap bernilai besar pada masa itu.
Jembatan Kewek mulai beroperasi pada 7 Juli 1887, memotong Sumbu Filosofis Yogyakarta, sedangkan Stasiun Yogyakarta mulai beroperasi 13 hari kemudian dengan beroperasinya jalur Cilacap–Yogyakarta. Stasiun ini dahulu dirujuk sebagai Djocja Toegoe atau Djokja Toegoe. Menjelang masa operasional penuhnya, Hotel Toegoe, yang menjadi salah satu hotel unggulan di Yogyakarta, mulai membenahi pelayanan. Bahkan, ada seorang Tionghoa yang mencoba ikut mencari peruntungan dengan menjadikan rumahnya sebagai alternatif penginapan.
Beberapa waktu setelah hubungan antara Batavia–Surabaya lewat jalur selatan selesai terbentuk pada 1894, muncul kembali wacana untuk mengubah jalur kereta api Semarang–Vorstenlanden dari menjadi agar dapat beradaptasi dengan jalur lain. Wacana ini sebenarnya sudah mengemuka sejak 1875, dilakukan antara Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Pemerintah telah memperkirakan bahwa ketika hubungan Batavia dan Surabaya sudah terbentuk, akan banyak wisatawan yang mengeluh karena terpaksa harus berganti kereta, atau bahkan menginap di Yogyakarta. Alih-alih mengubah lebar sepurnya menjadi 1.067 mm, NIS dan SS memilih sepakat untuk memasang lebar sepur ganda agar kereta api dengan sepur 1.067 mm dapat berjalan di jalur NIS. Pada 15 Juni 1899, lebar sepur ganda tersebut sudah bisa dilalui kereta api 1.067 mm milik SS.
Generasi kedua (1928–sekarang)
Karena SS menginginkan hubungan satu hari Batavia–Surabaya dan jalur Yogyakarta–Surakarta semakin padat, pada tahun 1926, NIS menawarkan SS untuk membangun smalspoorbaan tersendiri agar kereta api SS tidak tercampur dengan NIS. Berdasarkan perjanjian, jika "sepur kembar" yang dikerjakan NIS tersebut selesai, maka jalur tersebut harus diserahkan kepada SS. Pekerjaan pada bangunan hikmat di berbagai lokasi sepanjang jalur tersebut diselesaikan April 1926. Biaya yang diperlukan mencapai ƒ5.000.000.
Pada Agustus 1928, Stasiun Tugu mulai menjalani renovasi. Pertama, dibangun kantor administrasi dan inspektur angkutan, yang semula masih bersatu dengan ruang kepala stasiun. Berikutnya, hingga Oktober 1928, proyek pembangunan ulang Stasiun Tugu juga merambah ke hall depan, yang mengubah total bentuk arsitektur lama yang berciri Neoklasik menjadi art deco, dan juga merombak tata letak ruang administrasi dan kepala stasiun. Setelah membangun ulang seluruh bangunan utama stasiun, kanopi peron utara stasiun diperpanjang agar penumpang tidak kepanasan atau kehujanan saat menunggu kereta api.
Setelah dibangunnya bangunan generasi kedua stasiun tersebut, emplasemen Stasiun Tugu menjadi terasa sempit, sedangkan volume lalu lintas kereta apinya semakin meningkat. Persilangan dan persusulan kereta api menjadi semakin kompleks dan kadangkala kereta api harus dialihkan persilangannya dengan berbagai cara. Bahkan itu tidak hanya terjadi di stasiun kecil di rute Yogyakarta–Solo. Kegiatan langsiran di Stasiun Yogyakarta menjadi menjadi kendala apabila kereta apinya panjang dan besar, sedangkan kereta api penumpang terus meningkat. Upaya perluasan akan dilakukan untuk menjawab hal ini. Perluasan ke selatan, timur, maupun utara tidak lagi memungkinkan karena dikhawatirkan akan menghancurkan permukiman dan Sumbu Filosofis. Akhirnya satu-satunya pilihan untuk memperluas emplasemen adalah ke arah Bong Suwung di sebelah barat. Untuk menjawab tantangan tersebut, pada 1929, emplasemen Stasiun Tugu pun direncanakan akan diperluas 32 m. Renovasi stasiun ini tampaknya merupakan "tambal sulam", karena masih terdapat bagian bangunan tengah yang masih asli sejak 1887. Algemeen Handelsblad berpandangan bahwa SS seharusnya mencontoh NIS yang membangun stasiun yang tampil menawan dan monumental, dengan tetap menghemat lahan.
Pada awal April 1929, sehubungan dengan keinginan SS untuk layanan ekspres satu hari, NIS melaksanakan serah terima operasional smalspoorbaan tersebut kepada SS, kemudian pada 1 Mei 1929, jalur tersebut dibuka.
Pada masa revolusi kemerdekaan, stasiun ini menjadi tujuan akhir perjalanan kereta luar biasa Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, saat memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta. Keberangkatannya dimulai pada 3 Januari 1946 pukul 18.00 dan tiba di Yogyakarta pada 4 Januari keesokan harinya. Rombongan pun diterima dengan hangat oleh Sultan Yogyakarta kala itu, Hamengkubuwana IX.
Stasiun ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Status kepemilikan tanah
Berbeda dengan stasiun dan jalur kereta api di luar Yogyakarta yang berstatus sebagai milik Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) atau KAI, tanah tempat bangunan stasiun ini berdiri berstatus sebagai tanah milik Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Sultan Ground). Pada tahun 2024, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melayangkan gugatan terhadap atas status kepemilikan tanah yang dipergunakan sebagai Stasiun Yogyakarta. Gugatan ini terkait administrasi lahan emplasemen Stasiun Yogyakarta atau Stasiun Tugu atas tanah sebidang seluas 297,192 meter persegi milik Keraton Yogyakarta atau Sultan Ground (SG). Gugatan ini dibuat sebab Kereta Api Indonesia telah mencatat tanah yang digunakan Stasiun Yogyakarta sebagai aset milik perseroan. Gugatan ini berakhir di pengadilan dengan akta perdamaian yang menyatakan PT Kereta Api Indonesia mengakui bahwa tanah yang digunakan untuk Stasiun Yogyakarta adalah benar milik Keraton Yogyakarta.
Nilai gugatan ini diklaim simbolis, yakni sebesar Rp1.000,00. Menanggapi kasus hukum tersebut, kuasa hukum Keraton menganalogikan kerugian tersebut sebagai ucapan salam dalam bahasa Jawa, , yang artinya "permisi". Sengketa lahan tersebut berakhir damai, dan KAI mengakui bahwa lahan konsesi jalur kereta api tersebut adalah milik Kesultanan.
Tata letak bangunan stasiun
Stasiun Yogyakarta terbagi menjadi dua emplasemen, yaitu emplasemen utara dan selatan, dan juga memiliki dua pintu masuk dan keluar. Pintu utama yang menghadap ke Jalan Margo Utomo, termasuk wilayah Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, hanya untuk keberangkatan kereta api antarkota dan aglomerasi. Sementara itu, pintu selatan yang menghadap ke arah Jalan Pasar Kembang—wilayah Kelurahan Sosromenduran, Kemantren Gedongtengen dikhususkan untuk keberangkatan layanan kereta bandara YIA, komuter Commuter Line, serta kedatangan penumpang kereta api antarkota dan aglomerasi saja. Stasiun ini memiliki bangunan khusus untuk loket di pintu selatan.
Di sebelah barat stasiun ini terdapat dua percabangan jalur yang seluruhnya sudah dinonaktifkan, yaitu jalur menuju Magelang–Parakan dan menuju Palbapang, Bantul. Jalur menuju Magelang telah dinonaktifkan pada tahun 1975 sehubungan dengan letusan Gunung Merapi, tetapi bekas jalur ini masih dapat terlihat di beberapa tempat di Jalan Tentara Pelajar, Yogyakarta. Jalur tersebut juga memiliki percabangan di Secang menuju Museum Kereta Api Ambarawa melalui Tuntang hingga berakhir di Kedungjati yang juga telah dinonaktifkan. Selain itu, jalur menuju Palbapang dinonaktifkan pada rentang tahun 1973–1980-an, tetapi bekas jalur ini juga masih dapat terlihat di beberapa tempat, salah satunya di lapangan parkir di sisi barat laut Keraton Yogya.
Awalnya, semua peron pada stasiun ini merupakan peron rendah. Kemudian, pada tahun 1999, peron tinggi pertama stasiun ini dibangun di jalur 2 peron selatan untuk mengakomodasi tinggi pintu kereta eksekutif saat itu. Stasiun ini juga dahulu memiliki 12 jalur kereta api, sebelum akhirnya berkurang menjadi 11. Sebelum pembangunan jalur ganda dimulai sekitar tahun 2004, jalur 3 lama merupakan sepur lurus arah , sedangkan jalur 4 merupakan sepur lurus arah via . Pada saat pembangunan jalur ganda hingga pengoperasiannya di segmen Yogyakarta–Brambanan per 8 Januari 2007 dan kemudian segmen Yogyakarta–Kutoarjo pada 25 September 2007 hingga akhirnya diresmikan secara keseluruhan pada 22 Januari 2008, tata letak stasiun mengalami perubahan: jalur langsir yang masih utuh—walaupun sudah dicabut—diubah menjadi jalur 1, jalur 1 lama diubah menjadi jalur 2, dan jalur 2 lama diubah menjadi jalur 3 sebagai sepur lurus dari dan ke arah DKI Jakarta. Selain itu, peron tinggi ditambahkan pada jalur 3—menimbun jalur 3 lama—dan jalur 5. Saat ini, jalur 3 dijadikan sepur lurus arah Surabaya dan sepur belok dari arah DKI Jakarta, jalur 4 dijadikan sepur lurus dari arah DKI Jakarta, dan jalur 5 dijadikan sepur lurus ke arah DKI Jakarta.
Di kawasan stasiun terdapat depo lokomotif dan depo kereta maupun gerbong yang berturut-turut terletak di sebelah barat laut dan barat. Pemutar rel berada di barat depo lokomotif yang terletak di sebelah barat laut stasiun.
Ke arah timur stasiun, terdapat perlintasan sebidang yang berupa gerbang geser dengan nomor 3A dan 3B yang dikhususkan untuk sepeda, becak, andong, atau pejalan kaki yang melintas di sekitar kawasan Jalan Malioboro. Selain itu, terdapat jembatan yang membentang di atas Kali Code yang dikenal dengan sebutan Jembatan Kewek yang melintang di atas Jalan Abu Bakar Ali.
Stasiun ini sering mengalami renovasi dan penataan ulang, antara lain dengan pembangunan peron tinggi serta penambahan atap kanopi. Sistem parkir juga mengalami perubahan: pintu timur dan selatan kini hanya digunakan untuk tempat antar-jemput dan parkir becak, sedangkan tempat parkir terletak di sebelah barat daya kompleks stasiun.Di stasiun ini terdapat terowongan (underpass) penyeberangan peron yang digunakan mulai 26 Desember 1959 untuk memfasilitasi penumpang yang ingin berpindah peron antara emplasemen utara dan selatan demi meningkatkan keselamatan. Terowongan ini sempat ditutup sementara pada tahun 2019 karena direnovasi besar-besaran hingga akhirnya dibuka kembali pada tanggal 31 Juli 2023.
Dalam rangka mewujudkan stasiun kereta api besar bertaraf internasional, stasiun ini sejak musim mudik lebaran 2016 telah dilakukan renovasi secara menyeluruh, antara lain merombak loket stasiun di pintu selatan, serta pemasangan lantai granit, pengecatan ulang, dan lain-lain. Di selatan stasiun terdapat banyak kios yang saling berimpitan, ekspedisi barang, dan kios penjualan tiket pesawat dan kereta api yang telah digusur pada tahun 2017 karena tidak memiliki izin dan dianggap kumuh oleh KAI.
Terkait proyek pemutakhiran sistem persinyalan elektrik kereta api di stasiun ini, telah dilakukan pemasangan sistem persinyalan elektrik baru produksi Len Industri per April 2021 yang menggantikan sistem persinyalan elektrik lama produksi Siemens. Persinyalan ini telah aktif mulai September 2021.Bersamaan dengan itu, lintasan jalur rel antara stasiun ini dan Stasiun Lempuyangan dijadikan sebagai jalur-tunggal ganda atau sepur kembar.
Fasilitas
Stasiun ini memiliki ruang tunggu eksekutif, Anggrek Executive Lounge, dioperasikan oleh KAI Wisata yang memanfaatkan bangunan pendopo belakang stasiun.
Pada 28 September 2022, PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah melakukan uji coba sistem pengenalan wajah pada proses keberangkatan kereta api di Stasiun Bandung dan per 10 Juli 2023, Stasiun Yogyakarta sudah menerapkan sistem tersebut bersama sembilan belas stasiun kereta api utama lainnya.
Mulai 2 Desember 2023, aula timur dari emplasemen selatan sudah beroperasi yang melayani komuter Commuter Line untuk memecah kepadatan di Stasiun Yogyakarta. Sebagai bagian dari program revitalisasi beberapa stasiun KA utama di Pulau Jawa oleh Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (Persero), mulai 15 Februari 2024, keberangkatan layanan kereta api antarkota beserta aglomerasi yang biasanya bermula dari sisi utara stasiun berpindah ke sisi selatan stasiun yang notabene merupakan keberangkatan kereta komuter dan bandara.
Ciri khas
Stasiun Yogyakarta memiliki dua monumen lokomotif di sisi timur dan selatan kawasan stasiun. Monumen yang terletak di pintu masuk keberangkatan sisi timur adalah mesin uap portabel (lokomobil) buatan Marshall Britannia, Britania Raya. Letaknya yang semula berada di tengah-tengah jalan masuk stasiun kini dipindahkan di sayap utara jalan tersebut. Sementara itu, monumen yang terletak di sisi selatan stasiun adalah lokomotif diesel hidraulis D301 22 yang dipajang sejak 12 Desember 2018. Pemajangan lokomotif ini dilakukan setelah seluruh bagian stasiun mengalami perombakan, antara lain menambahkan toilet dari mobil bekas dan dapat digunakan oleh masyarakat umum, tak hanya calon penumpang. Selain monumen lokomotif, di pintu keberangkatan sisi timur dekat perlintasan sebidang terdapat tulisan "Stasiun Yogyakarta" dalam aksara Jawa yang dibuat menggunakan huruf timbul dengan ukuran besar.
Stasiun ini memiliki lagu kedatangan kereta api berupa lagu keroncong instrumental berjudul, "Sepasang Mata Bola" karya Ismail Marzuki sebagai bel kedatangan kereta api di stasiun ujung Kota Yogyakarta mengisahkan perjuangan seorang pejuang yang melakukan perjalanan kereta api dari Jakarta menuju Yogyakarta. Rekaman lagu yang digunakan sebagai melodi penyambutan kereta api ini diaransemen oleh seorang YouTuber dan kibor yang dikenal melalui aransemen lagu-lagu keroncong, Purwaka Musik.
Pada budaya populer
Lagu "Sepasang Mata Bola" karya Ismail Marzuki mengilustrasikan suasana senja hari menjelang malam saat tiba di Stasiun Tugu.
Stasiun ini merupakan salah satu lokasi syuting film Kereta Api Terakhir (adegan awal dan terakhir), Daun di Atas Bantal (latar tempat utama), dan Janur Kuning (saat terjadi penyerangan di Hotel Toegoe).
Stasiun ini dijadikan salah satu lokasi pengambilan video musik oleh grup musik rock Yogyakarta, Sheila on 7, dalam lagu yang berjudul "Tunggu Aku di Jakarta" pada tahun 2000 dan penyanyi asal Yogyakarta yang merupakan pemenang kedua (runner up) Indonesian Idol 2010, Citra Scholastika, dalam lagunya yang berjudul "Pasti Bisa" pada tahun 2012.
Stasiun ini menjadi sumber inspirasi bagi Dimas Tedjo "Blangkon" dalam menciptakan lagu campursari yang berjudul "Stasiun Tugu".
Stasiun Yogyakarta juga disebutkan dalam buku Kisah Tanah Jawa yang ditulis oleh tim content creator misteri, Kisah Tanah Jawa.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Stasiun Yogyakarta. Revisi 30007632. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 30007632. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Stasiun Yogyakarta sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-30T12:06:03Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Stasiun Yogyakarta · revisi 30007632 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-30T12:06:03Z
- Wikidata P625 · Stasiun Yogyakarta ↗Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-02-28T21:38:36Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.