Ume Le'u
Ume Le'u (dibaca: Ume Leu) atau disebut juga dengan Ume Alat atau Lopo Nak Ume adalah sebutan untuk rumah adat tradisional suku "Atoni Pah Meto", yang umumnya terdapat di daerah Kabupaten Timor Tengah Utara, tetapi juga ada di Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Belu, provinsi Nusa Tenggara Timur.
- Jenis objek
- Tipologi
- Fungsi
- Fungsi mengikuti uraian sumber
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Ume Le'u dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Ume Le'u
- Lokasi
- Nusa Tenggara Timur, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q65209476; ID2787357
- Klasifikasi sumber
- fungsi yang dibahas sumber · nomor ID2787357
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas tipologi arsitektur. Fungsi ruang mengikuti uraian sumber. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Ume Le'u (dibaca: Ume Leu) atau disebut juga dengan Ume Alat atau Lopo Nak Ume adalah sebutan untuk rumah adat tradisional suku "Atoni Pah Meto", yang umumnya terdapat di daerah Kabupaten Timor Tengah Utara, tetapi juga ada di Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Belu, provinsi Nusa Tenggara Timur. Rumah Ume Le'u terdiri dari dua bentuk bangunan, di mana keduanya merupakan tempat khusus dengan simbol berbeda. Satu disimbolkan untuk kaum laki-laki dan satu lagi disimbolkan untuk kaum perempuan. Rumah adat ini sangat penting, sehingga akan ada di setiap rumah warga di Pulau Timor. Dalam perkembangannya, konsep Lopo digunakan untuk membantu anak didik di pedalaman dalam meningkatkan kualitas membaca yang masih tergolong rendah.
Pengertian
Ume Le'u adalah sebutan untuk rumah adat tradisional dari sebuah kelompok suku bernama "Atoni Pah Meto", masih merupakan sub etnik dari suku Timor (selanjutkan akan tetap disebut "Suku Timor") di Pulau Timor, provinsi Nusa Tenggara Timur. Kata Ume Le'u atau disebut juga dengan Ume Alat jika diartikan secara harfiah maka artinya ialah rumah adat. Rumah adat ini memiliki 2 bangunan yang memiliki bentuk bangunan yang mirip, tetapi memiliki fungsi dan simbol berbeda, di mana satu disimbolkan sebagai perkumpuluan kaum laki-laki dan satu lagi disbolkan sebagai tempat perkempuluan untuk kaum perempuan. Bangunan ini sendiri memiliki fungsi lain yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Jenis Ume Le'u
Rumah Ume Le'u terdiri dari dua bentuk bangunan yang terpisah. Kedua bangunan rumah adat yang dimaksudkan ialah "Lopo" dan "Ume Kbubu". Dengan kata lain, rumah adat Ume Le'u terdiri dari dua bangunan kembar, di mana masing-masing rumah memiliki makna dan fungsi tersendiri yang disimbolkan berdasarkan jenis kelamin. Pada umumnya, masyarakat suku Atoni memiliki Lopo di depan rumahnya. Sementara itu, Ume Kbubu hany dimiliki masyarakat pedalaman.
Lopo
Lopo merupakan rumah yang pertama yang terletak di paling depan. Rumah ini melambangkan kaum laki-laki atau juga sebagai simbol seorang Bapak atau kejantanan (Pater). Kebanyakan masyarakat lebih sering menyebut nama Ume Le'u sendiri dengan sebutan "Lopo". Bagi orang Timor, dilambangkan sebagai laki-laki, karena bentuknya yang terbuka tanpa dinding, kokoh, dan juga menjadi tempat pertemuan keluarga, di mana pertemuan akan selalu dipimpin oleh bapak selaku kepala keluarga.
Ume Kbubu
Ume Kbubu merupakan rumah yang terletak di belakang Lopo. Rumah ini melambangkan kaum perempuan ini merupakan simbol seorang Mama atau simbol betina (Mater). Rumah ini disebut juga dengan "Rumah Bulat", karena bentuknya yang memang bulat. Dalam filosofi orang Timor, rumah adat Ume Kbubu melambangkan sebagai wanita orang Timor yang punya santun, merenda, bersahaja, dan auratnya tertutup sebagaimana lambang dari Ume kbubu, di mana bagian atap dari bubungan sampai ke tanah, dan hanya memiliki satu pintu saja, sehingga setiap orang yang akan masuk dan keluar haruslah menunduk.
Tata Letak
Pembangunan atau pembuatan Ume Le'u selalu memperhatikan tata letak. Pada umumnya, suku-suku di Indonesia bagian Timur, memakai paham garis keturunan Patrilineal di mana garis keturunan yang diikuti adalah laki-laki. Demikian juga dengan suku Timor, yang menjadikan laki-laki sebagai garis keturunan suku. Dengan demikian, dalam berbagai hal berhubungan dengan suku, laki-laki akan menjadi yang diutamakan.
Itu berdampak pada pembuatan Ume Le'u. Untuk membanguan Ume Le'u, orang Timor akan mengutamakan atau mengedepankan unsur Bapa atau laki-laki. Maka secara faktual tata letaknya, Lopo selalu didirikan di depan Ume Kbubu. Kedua bangunan kembar ini akan dibangun seperti berbaris, Lopo di depan dan Ume Kbubu dibelakangnya. Inilah bukti secara implisit bahwa mereka sangat menjaga identitas suku mereka yang memegang paham patrilineal.
Struktur
Rumah Ume Le'u terbuat dari tiga bahan utama, yakni bambu, pohon besar dan alang- alang. Bambu dipakai sebagai bahan untuk lantai di rumah Lopo dan dipakai sebagai dinding untuk rumah Ume Kbubu. Bambu akan dibelah dan dibentuk memanjang yang digunakan untuk dinding di rumah Ume Kbubu. Sedangkan alang-alang dipakai untuk atap rumah. Rumah Lopo dan Ume Kbubu memiliki bentuk seperti piramida, yang mengerucut keatas.
Lopo ditopang oleh empat tiang kokoh dari kayu bulat dan atap kerucut dari daun alang-alang. Penyangga lopo berupa bulatan yang terbuat dari kayu berfungsi untuk menghalangi jalan atau masuknya kucing atau tikus yang ingin mengambil hasil panen yang disimpan di Lopo.
Bentuk
Lopo memiliki bentuk bulat dan tidak memiliki dinding. Sementara atap rumah Lopo berbentuk melonjong mengerucut keatas yang terbuat dari alang-alang. Namun seiring waktu, banyak atap rumah Lopo diganti dengan seng. Di dalam Lopo akan terdapat sebuah tempat penyimpanan bahan makanan hasil panen dari ladang, posisinya ada diatas sehingga tidak mudah dijangkau.
Rumah Lopo memang tidak memiliki dinding, tetapi secara spesifik, di dalam rumah Lopo mempunyai tiga ruangan di tiga tingkat dan setiap tingkat memiliki fungsi berbeda. Tingkat dasar menjadi ruang istirahat, sementara tingkat kedua difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan bahan-bahan makanan. Dan tingkat ketiga yang paling atas dijadikan sebagai gudang lain yang akan dipakai jika pasokan bahan makanan yang akan disimpan telah penuh di tingkat kedua.
Ume Kbubu, tidak begitu berbeda dari Lopo. Hanya saja, Ume Kbubu atau rumah bulat memiliki dinding yang menutupi sekeliling rumah, itu yang membedakan Lopo dengan Ume Kbubu, yakni dinding rumah. Namun, Ume Kbubu tanpa memiliki jendela sama sekali. Atapnya sama seperti Lopo, berbentuk kerucut memanjang keatas. Jika digunakan sebagai tempat tinggal, maka atapnya akan bersatu dengan dinding dan sampai ke tanah.
Untuk memasuki rumah Ume Kbubu, orang yang masuk harus menundukkan kepala. Pintunya sendiri memang pendek, tidak cukup bagi orang dewasa untuk masuk dengan tetap berdiri. Memasuki rumah Ume Kbubu dengan menundukkan kepala, hal ini dimaknai sebagai bentuk rasa hormat dan juga sikap opan kepada pemilik rumah bagi tamu yang datang.
Fungsi
Rumah Ume Le'u yang terdiri dari dua bangunan ini, Lopo dan Ume Kbubu, diibaratkan oleh orang Timor sebagai "Lumbung" (untuk Ume Kbubu, identitas perempuan) dan "rumah" (untul Lopo, identitas laki-laki), satu kesatuan yang tak terpisahkan. Di beberapa tempat, seperti di Kecamatan Bikomi Selatan, kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), masyarakat Timor menganggap bahwa di dalam Ume Le'u inilah setiap keluarga dan masyarakat memiliki komunikasi yang baik antara yang satu dengan yang lain untuk saling bertukar pikiran.
Lopo
Lopo memiliki fungsi ganda, sebagai tempat penyimpanan hasil perkebunan dan barang-barang kebutuhan lainnya sekaligus tempat warga serta keluarga bertukar pikiran.
Tempat Penyimpanan Hasil Panen
Pekerjaan utama kebanyakan warga di kabupaten Timor Tengah Utara, bahkan di provinsi Nusa Tenggara adalah bertani. Jika suku lain atau petani lain di Indonesia banyak yang menyimpan hasil panen di dalam rumah (tidak dipisahkan), maka warga di Nusa Tenggara Timur, menjadikan Lopo sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Di anjungan NTT di Taman Mini Indonesia Indah, ada terdapat Lopo, dan dijadikan sebagai tempat istirahat para pengunjung.
Makanan pokok warga Timor kebanyakan berbeda dengan masyarakat Indonesia di Bagian Barat, dan Indonesia bagian Tengah, di mana makanan pokoknya adalah jagung, sementara padi sebagai bahan makanan tambahan, ditambah kacang-kacangan, dan umbi-ubian. Kini ada yang menjadikan nasi sebagai makanan pokok, tetapi jagung tetap yang utama. Maka, tidak heran jika setiap hasil panen jagung, padi, kacang-kacangan dan ubi, warga akan memasukkannya ke dalam rumah Lopo.
Seorang warga di dusun Nuut, kecamatan Amanuban Barat, kabupaten Timor Tengah Selatan, bernama Moses Baun mengatakan, hanya hasil panen yang tahan lama yang akan disimpan di lopo. Penyimpanan itu dilakukan sebagai stok makanan yang prioritas guna mencukupi kebutuhan pangan dalam jangka waktu dan relatif lama, antara lima hingga lima bulan. Itulah yang dilakukan warga untuk menghadapi musim kemarau yang datang setiap tahunnya.
Makanan-makanan tersebut sangat diprioritaskan untuk disimpan di Lopo pada masa puncak musim kemarau, dan itu semua tidak boleh diambil jika waktu belum tiba. Karena setiap tanaman dan berbagai sumber air, sering mengalami kekeringan pada masa musim kemarau, sehingga tidak memungkinkan untuk menghasilkan panen yang baik dan berkualitas dibanding musim penghujan.
Namun ada satu hal yang harus diketahui bahwa meskipun rumah Lopo merupakan simbol laki-laki, nyatanya yang hanya bisa masuk ke atas atau ke tempat penyimpanan bahan makanan adalah hany istri (si ibu) saja, atau perempuan. Hal ini terjadi karena si ibu yang akan bertanggungjawab dan memeriksa atasnketersediaan makanan untuk keluarga, agar jangan sampai kehabisan sebelum waktunya. Sehingga, masuk ke tempat penyimpanan bahan makanan adalah haknya dan tidak boleh sembarang orang untuk masuk area tersebut.
Tempat Berkumpul
Lopo juga menjadi tempat berkumpul oleh setiap keluarga, maupun ruangan penerimaan jika ada tamu. Keluarga akan berkumpul di Lopo ketika mendiskusikan berbagai hal, dan juga sebagai tempat orang tua untuk mengajari anak-anaknya belajar. Berbagai keputusan adat juga disepakati di rumah Lopo, dan keputusan yang diambil akan disepakati dan dilakukan bersama-barsama. Lopo juga sangat efektif digunakan sebagai tempat untuk berteduh dari panasnya terik matahari, mengingat kawasan ini tergolong sebagai kawasan yang kering, sehingga teriknya matahari akan sangat terasa jika sedang berada di luar ruangan.
Fungsi Lopo tidak hanya itu. Lopo juga menjadi tempat bagi warga membahas setiap persoalan yang dihadapi. Termasuk perihal gotong-royong di desa. Biasanya warga akan berkumpul di Lopo untuk membahasnya. Atau saat ada upacara adat, segala persiapan dibahas bersama di dalam Lopo.
Tempat Menenun
Jika rumah Lopo menjadi tempat penyimpanan hasil panen, maka Ume Kbubumenjadi tempat khusus bagi kaum ibu dan perempuan. Ume Kbubu dijadikan sebagai tempat untuk menenun. Bagi sebagian besar para perempuan suku Timor, bisa mengerjakan pekerjaan lain selain memasak, maka menenun adalah keahlian mereka. Adanya rumah Ume Kbubu ini, menjadikan kaum perempuan Timor lebih leluasa untuk menenun. Tangan-tangan kaum ibu dan perempuan, akan sangat lihai dalam merajut benang dan menjadikannya sebagai kain tenun ikat khas Timor.
Tempat Memasak
Berbagai hasil panen dari ladang, secara khusus jagung, banyak diawetkan di rumah Ume Kbubu. Maka tidak heran, di rumah-rumah Ume Kbubu, akan terdapat banyak jagung yang digantung diatas perapian tempat memasak. SekaligusbUme Kbubu menjadi tempat kaum perempuan dan ibu untuk menyiapkan masakan bagi keluarga mereka.
Tempat Menerima Tamu
Jika ada tamu yang datang, maka Ume Kbubu dijadikan sebagai tempat untuk menerima tamu tersebut sebelum tamu masuk ke dalam rumah. Hal ini dilakukan secara khusus disiang hari atau disaat warga sedang beraktivitas di luar rumah. Berdasarkan beberapa fungsi diatas, maka tepatlah dikatakan bahwa Ume Le'u sangat penting bagi penduduk Timor, sehingga rumah kembar ini ada disetiap rumah suku Timor yang ada di Nusa Tenggara Timur.
Sopi di Lopo, Lambang Persaudaraan
Menyebut kata "Sopi" di Nusa Tenggara Timur, maka pandangan ini langsung mengarah pada minuman khas masyarakat Nusa Tenggara Timur. Minuman ini memiliki kandungan alkohol yang cukup tinggi, tetapi juga tetap memiliki sebuah makna tersendiri disebagian masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), provinsi Nusa Tenggara Timur.
Antonius, seorang penduduk kota Kefamenanu, NTT, mengatakatan bahwa "Sopi" ini selalu hadir sebagai sebuah pelengkap dalam berbagai acara adat ataunritual adat-istiadat yang diadakan di Lopo. Karena alasan itu, minuman sopi tetap dilestarikan dan diabadikan sebagai satu bagian dari kearifan dan kekhasan lokal masyarakat setempat.
Lebih lanjut, Antonius menyebutkan bahwa hubungan sosial di antara warga kampung, sangat terjalin dengan erat berkat adanya dan kehadiran sopi. Hal ini dijadikan warga untuk memperkenalkan minuman sopi kepada para tamu dari luar daerah atau pengunjung yang datang dari luar Timor Tengah. Setiap tamu yang disuguhi minuman sopi, itu berarti mereka telah diterima dengan baik atas nama sebuah persahabatan.
Namun, meminum Sopi bukanlah sebuah paksaan, karena bukan satu keharusan untuk meminumnya. Akan tetapi, meminum Sopi, telah menciptakan sebuah persekutuan di antara masyarakat Timor. Secara khusus tamu yang baru datang, sekadar mencicipi saja sangat diperbolehkan, tetapi jika tidak menerima, pemilik Lopo akan menyediakan atau memberi minuman lainnya yang tidak mengandung alkohol.
Di Timor Tengah Utara, menyebutkan minuman sopi sebagain 'air kata-kata'. Dikatakan demikian karena ada efek lain jika meminumnya, yaitu sebuah suasana hati yang lebih hidup. Misalkan, jika seseorang yang datang ke Lopo dalam acara adat atau sekadar berkunjung, tetapi tidak memiliki suasana hati yang bagus dan terkesan malu, maka setelah meminum Sopi, suasana akan lebih cair dan tidak sungkan untuk berbicara banyak. Maka, jika Sopi tidak ada di Lopo, maka akan ada yang kurang dalam pertemuan tersebut. Demikianlah orang Timor memandang bahwa Sopi sangat penting saat melakukan pertemuan di Lopo.
Meminum Sopi tentu memiliki batasan. Jika tidak dibatasi, akan menyebabkan kemabukan, dan jika tidak terkontrol, bisa menyebabkan keributan di Lopo. Kebanyakan minum sopi juga bisa menimbulkan sakit jantung, ketergantungan yang berlebihan dan beberapa hal negatif lainnya.
Problematika
Meskipun telah dikenal sebagai rumah adat khas Timor dan secara fungsi hanya sebagai tempat menyimpa bahan makanan, tetapi tidak sedikit masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi menjadikannya sebagai tempat tinggal sehari-hari. Seperti yang dialami oleh Obet Malafu dan Martha istrinya bersama seorang anaknya, tinggal di rumah bulat ini selama bertahun-tahun. Obet bekerja sebagai buruh pecah batu di desa Lelogoma, kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur.
Problematika yang muncul adalah terjadinya kasus infeksi saluran pernafasan atau ISPA. Hal ini tejadi karena ruangan yang sempit, pengap dan gelap itu menjadi tempat tinggal sehari-hari dan semua hal kepentingan rumah tangga dilakukan di dalam. Tempat memasak, tempat menyimpan bahan makanan, sehingga debu dan asap mengancam orang yang ada di dalam. Ditambah dengan tidak adanya jendela, memudahkan penghuninya mengidap sakit ISPA. Bahkan untuk anak-anak, penyakit diare akan menyerang kesehatan mereka.
Lopo Belajar sebagai Terobosan Baru
Meskipun Lopo banyak dijadikan sebagai tempat tinggal utama penduduk kurang mampu, ada pula yang menjadi Lopo sebagai terobosan baru dalam mendidik anak-anak di daerah pedalaman. Simon Seffi, seorang alumnus Universitas Nusa Cendana Kupang, jurusan Pendidikan Matematika, membuat terobosan baru dengan mendirikan Lopo, dengan konsep "Lopo Belajar". Simon mendirikan sebuah ruang belajar dengan bentuk Lopo, sehingga disebut Lopo Belajar.
Simon berkeinginan untuk membantu anak-anak pedalaman dalam meningkatkan kualitas tingkat membaca dan juga kualitas belajar mereka, khususnya di kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang. Dalam survei sampel sekolah yang dilakulan Simon dan timnya menemukan bahwa hanya 10% anak didik di 10 dengan tingkat membaca golongan baik hingga cukup (A, B dan C), selebihnya tidak bagus. Hal ini yang mendorong Simon untuk mendirikan Lopo Belajar. Belajar dengan konsep adat Timor dengan tujuan memajukan pendidikan kawasan Kabupaten Kupang.
Warisan Budaya
Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-73 tahun 2018, Kementerian Agama Kabupaten Belu mengadakan Karnaval dengan konsep Lopo Kerukunan, yang diadakan di Atambua, 14 Agustus 2018. Karnaval dengan konsep "Lopo Kerukunan" diambil, untuk menggambarkan bahwa Kabupaten Belu sangat beragam sehingga tidak akan muda terpicu oleh isu-isu perpecahan yang berkaitan SARA (Suki, Agama, Ras dan Adat istiadat). Para anggota ASN Kemenag Belu sangat bersemangat dan menghias mobil untuk pawai dan menyuarakan persaudaraan.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Belum tersedia informasi bersumber untuk bagian ini.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Ume Le'u. Revisi 28764765. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 28764765. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Ume Le'u sebagai bentuk atau tipologi arsitektur. Profil membahas konsep arsitektur dan variasinya dalam konteks Indonesia; bukan satu bangunan contoh atau klaim asal yang eksklusif.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-01-01T01:29:30Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Ume Le'u · revisi 28764765 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-01-01T01:29:30Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.